Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mengapa Orang Tetap Memburu Burung Meski Tahu Itu Dilarang?

by teguh
Juli 23, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Saat harga hasil kebun turun dan lapangan kerja terbatas, hutan menjadi tempat memburu burung untuk mencari penghasilan.Ketika kebutuhan hidup bertemu hukum, siapa yang benar-benar memiliki pilihan?.

Tabooo.id – Kicau burung biasanya menandakan hutan yang sehat. Namun, bagi sebagian warga di sekitar hutan Sumatera, suara itu juga berarti kesempatan memburu burung untuk membawa pulang uang. Seekor burung yang laku jutaan rupiah di kota mampu memenuhi kebutuhan satu keluarga di desa selama berminggu-minggu.

Di sinilah konservasi berbenturan dengan kenyataan hidup. Negara melarang perburuan satwa liar, tetapi kemiskinan terus mendorong sebagian orang mengambil risiko. Ketika pilihan kerja semakin sempit, hutan berubah menjadi tempat mencari nafkah.

Kasus yang terjadi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memperlihatkan dilema itu dengan jelas.

Rantai Perdagangan Dimulai dari Hutan

Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bersama Satreskrim Polres Agam menggagalkan pengiriman 225 burung liar menuju Lampung pada Sabtu, 18/07/2026. Petugas menangkap seorang pria berinisial KZ yang diduga menjadi bagian dari jaringan perdagangan satwa lintas provinsi.

Kepala BKSDA Resor Agam, Ade Putra, menjelaskan KZ mengangkut burung menggunakan mobil dari Pasaman Barat menuju Lampung.

Ini Belum Selesai

Suplemen Otak Tak Bikin Pintar Instan

Anak Krakatau Erupsi, Ini Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan

“Burung-burung itu menggunakan kendaraan roda empat dari Pasaman Barat, dengan tujuan akhir Lampung,” kata Ade Putra, 18/07/2026.

Petugas menemukan kapodang, pleci, kolibri, kapas tembak, hingga cica daun besar dan cica daun kecil yang pemerintah lindungi. Menurut Ade, KZ membeli burung-burung tersebut dari para pemburu dan pedagang di Pasaman Barat serta Mandailing Natal.

“Untuk paket burung yang diamankan sekarang nilainya mencapai puluhan juta rupiah,” ujarnya.

Nilai ekonomi itu terus menarik orang masuk ke bisnis ilegal tersebut.

Kemiskinan Menjadi Celah Perdagangan

Bagi banyak penghobi, burung hanya menjadi koleksi atau peserta lomba. Namun, bagi sebagian warga desa, burung liar menghadirkan harapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Satu ekor burung bernilai tinggi dapat memberikan penghasilan yang setara dengan upah bekerja selama satu bulan. Saat hasil kebun menurun dan lapangan kerja sulit ditemukan, sebagian warga memilih masuk hutan daripada pulang tanpa membawa uang.

Pilihan itu memang melanggar hukum. Namun, banyak pemburu memulai langkah mereka karena kebutuhan hidup, bukan karena ingin merusak alam.

Masalahnya, jaringan perdagangan selalu menunggu pasokan baru.

Data Forum Against Illegal Wildlife Trade (FLIGHT) menunjukkan petugas menyelamatkan lebih dari 14.000 burung liar asal Sumatera sepanjang 2025. Organisasi itu juga mencatat lebih dari 11.000 toko burung dan sekitar 125 pasar burung di Pulau Jawa masih membutuhkan pasokan burung liar.

Permintaan yang terus tumbuh membuat pemburu baru terus bermunculan.

Hutan Kehilangan Penjaganya

Pakar Biologi Konservasi Universitas Andalas, Wilson Novarino, mengingatkan bahwa cica daun besar dan cica daun kecil tidak hanya mempercantik hutan. Kedua spesies itu menyebarkan biji pohon sekaligus mengendalikan populasi serangga.

“Jika populasi burung ini terus tertekan, ada potensi ledakan populasi serangga tertentu yang bisa merembet menjadi hama di lahan pertanian sekitar hutan,” katanya pada Juli 2026.

Wilson juga mengingatkan bahwa hilangnya satu spesies dapat memicu trophic cascade, yaitu efek berantai yang mengganggu keseimbangan seluruh ekosistem.

Menyelamatkan Burung atau Menyelamatkan Manusia?

Kasus di Agam bukan sekadar tentang 225 burung yang gagal menyeberang ke Pulau Jawa. Kasus ini menunjukkan bahwa kemiskinan, pasar, dan lemahnya pilihan ekonomi ikut menggerakkan perdagangan satwa liar.

Penegakan hukum memang penting. Namun, hukuman saja tidak akan menghentikan perburuan jika masyarakat sekitar hutan tetap kesulitan mencari penghasilan yang layak.

Konservasi membutuhkan lebih dari sekadar patroli. Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha harus membangun peluang ekonomi yang membuat warga memilih menjaga hutan daripada mengambil isinya.

Selama seekor burung menghasilkan uang lebih cepat daripada menjaga habitatnya, perdagangan satwa liar akan terus berulang. Ketika suara burung akhirnya menghilang, manusia bukan hanya kehilangan satwa. Kita juga kehilangan penjaga hutan yang selama ini menjaga keseimbangan alam tanpa pernah meminta imbalan. @teguh

Tags: BiodiversitasBKSDABurung LiarCica DaunekologiEkosistemHuman StoryHutan SumateraIndonesia HijauKonservasiLingkungan HidupPerdagangan Satwa LiarSave Our BirdsSelamatkan SatwaStop Wildlife TradeWild life Crime

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Kalsel: 11 Perusahaan Disorot, Sanksi Mengintai

Karhutla Kalsel: 11 Perusahaan Disorot, Sanksi Mengintai

by dimas
Agustus 24, 2026

Karhutla Kalsel menyeret 11 perusahaan dalam sorotan. Kementerian LH mengusut dugaan pembakaran lahan dengan ancaman sanksi hingga Rp15 triliun. Tabooo.id...

Target Bebas Gunungan Sampah 2027, Realistis atau Sekadar Janji?

Target Bebas Gunungan Sampah 2027, Realistis atau Sekadar Janji?

by dimas
Agustus 13, 2026

Target bebas gunungan sampah pada akhir 2027 dinilai ambisius. Mampukah pemerintah membenahi sistem pengelolaan sampah atau sekadar menghilangkan tumpukan? Tabooo.id...

Perpustakaan Buku: Tempat Healing yang Sering Dilupakan

Perpustakaan Buku: Tempat Healing yang Sering Dilupakan

by teguh
Agustus 4, 2026

Biaya hidup terus naik. Tekanan kerja juga semakin padat. Banyak orang akhirnya mencari cara untuk healing. Ada yang memilih staycation,...

Next Post
Akad Nikah Bukan Hak atas Tubuh, Mengapa Masih Dipaksa?

Akad Nikah Bukan Hak atas Tubuh, Mengapa Masih Dipaksa?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id