Saat harga hasil kebun turun dan lapangan kerja terbatas, hutan menjadi tempat memburu burung untuk mencari penghasilan.Ketika kebutuhan hidup bertemu hukum, siapa yang benar-benar memiliki pilihan?.
Tabooo.id – Kicau burung biasanya menandakan hutan yang sehat. Namun, bagi sebagian warga di sekitar hutan Sumatera, suara itu juga berarti kesempatan memburu burung untuk membawa pulang uang. Seekor burung yang laku jutaan rupiah di kota mampu memenuhi kebutuhan satu keluarga di desa selama berminggu-minggu.
Di sinilah konservasi berbenturan dengan kenyataan hidup. Negara melarang perburuan satwa liar, tetapi kemiskinan terus mendorong sebagian orang mengambil risiko. Ketika pilihan kerja semakin sempit, hutan berubah menjadi tempat mencari nafkah.
Kasus yang terjadi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memperlihatkan dilema itu dengan jelas.
Rantai Perdagangan Dimulai dari Hutan
Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bersama Satreskrim Polres Agam menggagalkan pengiriman 225 burung liar menuju Lampung pada Sabtu, 18/07/2026. Petugas menangkap seorang pria berinisial KZ yang diduga menjadi bagian dari jaringan perdagangan satwa lintas provinsi.
Kepala BKSDA Resor Agam, Ade Putra, menjelaskan KZ mengangkut burung menggunakan mobil dari Pasaman Barat menuju Lampung.
“Burung-burung itu menggunakan kendaraan roda empat dari Pasaman Barat, dengan tujuan akhir Lampung,” kata Ade Putra, 18/07/2026.
Petugas menemukan kapodang, pleci, kolibri, kapas tembak, hingga cica daun besar dan cica daun kecil yang pemerintah lindungi. Menurut Ade, KZ membeli burung-burung tersebut dari para pemburu dan pedagang di Pasaman Barat serta Mandailing Natal.
“Untuk paket burung yang diamankan sekarang nilainya mencapai puluhan juta rupiah,” ujarnya.
Nilai ekonomi itu terus menarik orang masuk ke bisnis ilegal tersebut.
Kemiskinan Menjadi Celah Perdagangan
Bagi banyak penghobi, burung hanya menjadi koleksi atau peserta lomba. Namun, bagi sebagian warga desa, burung liar menghadirkan harapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Satu ekor burung bernilai tinggi dapat memberikan penghasilan yang setara dengan upah bekerja selama satu bulan. Saat hasil kebun menurun dan lapangan kerja sulit ditemukan, sebagian warga memilih masuk hutan daripada pulang tanpa membawa uang.
Pilihan itu memang melanggar hukum. Namun, banyak pemburu memulai langkah mereka karena kebutuhan hidup, bukan karena ingin merusak alam.
Masalahnya, jaringan perdagangan selalu menunggu pasokan baru.
Data Forum Against Illegal Wildlife Trade (FLIGHT) menunjukkan petugas menyelamatkan lebih dari 14.000 burung liar asal Sumatera sepanjang 2025. Organisasi itu juga mencatat lebih dari 11.000 toko burung dan sekitar 125 pasar burung di Pulau Jawa masih membutuhkan pasokan burung liar.
Permintaan yang terus tumbuh membuat pemburu baru terus bermunculan.
Hutan Kehilangan Penjaganya
Pakar Biologi Konservasi Universitas Andalas, Wilson Novarino, mengingatkan bahwa cica daun besar dan cica daun kecil tidak hanya mempercantik hutan. Kedua spesies itu menyebarkan biji pohon sekaligus mengendalikan populasi serangga.
“Jika populasi burung ini terus tertekan, ada potensi ledakan populasi serangga tertentu yang bisa merembet menjadi hama di lahan pertanian sekitar hutan,” katanya pada Juli 2026.
Wilson juga mengingatkan bahwa hilangnya satu spesies dapat memicu trophic cascade, yaitu efek berantai yang mengganggu keseimbangan seluruh ekosistem.
Menyelamatkan Burung atau Menyelamatkan Manusia?
Kasus di Agam bukan sekadar tentang 225 burung yang gagal menyeberang ke Pulau Jawa. Kasus ini menunjukkan bahwa kemiskinan, pasar, dan lemahnya pilihan ekonomi ikut menggerakkan perdagangan satwa liar.
Penegakan hukum memang penting. Namun, hukuman saja tidak akan menghentikan perburuan jika masyarakat sekitar hutan tetap kesulitan mencari penghasilan yang layak.
Konservasi membutuhkan lebih dari sekadar patroli. Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha harus membangun peluang ekonomi yang membuat warga memilih menjaga hutan daripada mengambil isinya.
Selama seekor burung menghasilkan uang lebih cepat daripada menjaga habitatnya, perdagangan satwa liar akan terus berulang. Ketika suara burung akhirnya menghilang, manusia bukan hanya kehilangan satwa. Kita juga kehilangan penjaga hutan yang selama ini menjaga keseimbangan alam tanpa pernah meminta imbalan. @teguh







