• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Ramadan dan Kenaikan Harga Pangan Jadi Tradisi Tahunan

Februari 18, 2026
in Deep
A A
Ramadan dan Kenaikan Harga Pangan Jadi Tradisi Tahunan

Ilustrasi seorang pembeli terkejut melihat lonjakan harga kebutuhan pokok jelang Ramadan 2026. (Foto ilustrasi Tabooo.id/Dimas P)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di pasar tradisional Jakarta Selatan, ibu-ibu mengantre panjang. Tangan mereka menggenggam daftar belanjaan yang tampak semakin pendek karena dompet yang menipis. “Kemarin harga minyak 20 ribu, sekarang sudah 27 ribu,” keluh Sari, seorang ibu rumah tangga, sambil memeriksa etalase kosong.

Setiap Ramadan, adegan serupa terulang. Harga pangan merangkak naik, warga mengeluh, pemerintah turun tangan, lalu pasar kembali tenang sementara. Pola ini muncul setiap tahun, tapi akar persoalannya tetap sama manajemen stok yang lemah dan distribusi yang tak presisi.

Lonjakan Permintaan, Persediaan Gagal Mengimbangi

Menurut Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios), kenaikan harga bukan hanya akibat permintaan musiman. Pemerintah seharusnya bisa memprediksi pola ini karena terjadi tiap tahun.

“Kenaikan harga terjadi karena ada lonjakan permintaan. Permintaan meningkat hampir setiap Ramadan-Lebaran,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Namun, masalah utama justru di sisi penawaran. Ketika masyarakat mulai belanja lebih banyak, stok di pasar tidak siap mengimbangi lonjakan tersebut. Klaim pemerintah tentang ketersediaan stok sering bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Pedagang justru menghadapi kekurangan pasokan, dan harga melonjak.

BUMN Pangan Bisa Turun Tangan, Tapi Tidak

Negara memiliki instrumen kuat. Perum Bulog dan ID Food memegang peran penting dalam stabilisasi harga. Mereka bisa melepas stok ke pasar sebelum harga naik tajam. Mereka juga bisa mengisi ulang cadangan saat situasi stabil.

“Kapan harus mengeluarkan, kapan harus melakukan re-stock, itu salah satu manajemen stok yang harus dilakukan,” tegas Huda.

Dengan perencanaan yang disiplin, gejolak harga bisa ditekan sejak awal.

Namun kenyataannya, distribusi sering terlambat, stok dikeluarkan ketika harga sudah tinggi, dan masyarakat yang paling rentan menanggung beban.

Data Beda, Kebijakan Melenceng

Huda menyoroti ketidaksinkronan data antar kementerian. Data Kementerian Pertanian bisa berbeda dengan Kementerian Perdagangan. Perbedaan ini memicu salah hitung kebutuhan pangan.

Akibatnya, pemerintah kadang salah menentukan kebutuhan impor atau distribusi. Pasar bereaksi cepat. Harga naik, stok hilang, dan spekulan atau pelaku usaha yang memanfaatkan celah distribusi mendapat keuntungan. Sementara masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah menanggung beban paling berat.

Siapa Untung, Siapa Tertekan

Distributor besar mendapat margin lebih tinggi saat harga melonjak. Pedagang tertentu ikut meraup keuntungan. Namun rumah tangga dengan penghasilan tetap harus memotong anggaran belanja, mengurangi lauk, atau menunda kebutuhan penting.

Ramadan yang seharusnya menjadi momen ibadah dan kebersamaan berubah menjadi waktu kecemasan. Anak-anak menatap ibu mereka menimbang belanjaan, dan Sari mengelus kepala sambil berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga.

Sistem yang Menyembunyikan Fakta

Di balik kenaikan harga, ada sistem yang tampak diam. Perencanaan stok tidak berjalan disiplin. Data tidak sinkron. Cadangan pangan yang ada seolah hanya menunggu momen untuk dilepas. Pola ini menguntungkan sebagian pihak, sementara masyarakat menanggung dampak penuh.

RelatedPosts

Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

Pertanyaannya apakah kenaikan harga pangan setiap Ramadan benar-benar “kejutan”? Atau ada pihak yang sengaja bermain dengan kelangkaan untuk meraup untung lebih besar?

Refleksi Akhir

Setiap tahun, kita menyaksikan harga naik, stok langka, dan warga menanggung beban. Seolah negara lupa mengatur distribusi, dan pasar memaksa masyarakat menjadi korban. Ramadan seharusnya momen ibadah dan kebersamaan. Tapi sampai kapan kita membiarkan siklus ini berulang?

Mungkin jawabannya ada pada manajemen yang disiplin, data yang valid, dan keberanian untuk menegakkan sistem. Tanpa itu, Ramadan hanya menjadi saksi kenaikan harga yang bisa diprediksi, tapi selalu mengejutkan rakyat kecil. @dimas

Tags: CurangHarga NaikKebijakanKelangkaanManajemenPanganPedagangpemerintahrakyatRamadanStokTertekan
Next Post
Konsep Otomatis

Sopir Elf Terjepit, Minibus Tabrak Bus Sugeng Rahayu di Kartasura

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.