Tabooo.id: Vibes – Setiap kali nama Dracula muncul, imajinasi publik bergerak ke arah yang hampir selalu sama. Bayangan tentang taring, darah, dan teror segera mengambil alih. Vlad Tepes hidup sebagai simbol kekejaman yang terus direproduksi oleh legenda, film, dan budaya pop. Namun, di balik figur gelap itu, sejarah menyimpan satu sosok lain lebih lembut, lebih manusiawi, dan nyaris terlupakan.
Ia bernama Radu cel Frumos.
Radu si Tampan.
Ketika Sebuah Istana Membuka Narasi Lain
Pada Maret 2015, sebuah perjalanan ke Bran Castle di Brasov, Romania, perlahan membuka cerita yang jarang orang dengar. Istana yang kerap dijual sebagai “Istana Dracula” itu tidak hanya menawarkan mitos horor. Di balik dinding batu dan lorong gelapnya, silsilah keluarga Vlad Tepes memperlihatkan kontras yang tajam.
Sejarah mencatat Vlad sebagai penguasa berdarah dingin. Sebaliknya, Radu hadir sebagai paradoks: berwajah rupawan, piawai berdiplomasi, dan memilih kompromi ketimbang kekerasan. Sejak awal, sejarah memang enggan memberi ruang bagi tokoh abu-abu. Ia lebih nyaman merayakan pahlawan atau monster, tanpa wilayah di antaranya.
Dua Saudara, Dua Cara Membaca Kekuasaan
Radu lahir sekitar tahun 1437 dari pasangan Vlad II Dracul dan Cneajna dari Moldavia. Ia tumbuh bersama kakaknya, Vlad III Dracula, di lingkungan yang sama. Namun, perjalanan hidup segera memaksa keduanya menempuh arah berbeda.
Ketika ayah mereka mengirim Radu dan Vlad ke Turki Utsmani sebagai bagian dari perjanjian politik dengan Kekaisaran Ottoman, perbedaan itu mulai mengeras. Vlad memandang keputusan tersebut sebagai penghinaan dan penawanan. Sebaliknya, Radu melihatnya sebagai ruang belajar dan adaptasi.
Dari Tamu Istana Menjadi Bagian Sejarah
Di Istana Ottoman, Radu tidak sekadar bertahan. Ia aktif beradaptasi. Ia mempelajari bahasa, menyerap budaya, dan memahami ajaran Islam. Sejumlah sejarawan memang mempertanyakan niatnya. Mereka menuduh Radu hanya menikmati kenyamanan kekaisaran. Namun perjalanan waktu menunjukkan hal lain.
Pelan-pelan, Radu tumbuh menjadi figur penting. Ia berdiri di samping Pangeran Mehmed II, sahabatnya yang kelak dunia kenal sebagai Sultan Mehmed Al-Fatih. Saat Konstantinopel runtuh pada 1453 dan berubah menjadi Islambul kini Istanbul Radu berada di pusat peristiwa, bukan di pinggir sejarah.
Vlad Tepes dan Politik Ketakutan
Sementara Radu belajar membaca diplomasi, Vlad Tepes memilih bahasa yang berbeda. Di Wallachia, ia membangun kekuasaan lewat teror. Ia menyula musuh dan lawan politik. Tubuh manusia ia jadikan pesan kekuasaan yang brutal.
Sebagian rakyat memuja Vlad sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Ottoman. Namun bagi banyak lainnya, ia menjelma teror hidup. Dari titik inilah konflik dua saudara melampaui perebutan tahta. Ia berubah menjadi benturan dua pandangan hidup: kekerasan melawan kompromi, ketakutan melawan negosiasi.
Saat Pedang Kehilangan Pengaruh
Ketegangan mencapai puncak pada 1462. Setelah pasukannya dibantai, Sultan Mehmed Al-Fatih mengirim ekspedisi besar ke Wallachia. Vlad melawan dengan serangan malam dan strategi gerilya. Bahkan, ia sempat memukul mundur pasukan Ottoman hingga ke Sungai Danube.
Namun, sejarah jarang tunduk pada kekuatan semata.
Pada titik inilah Radu masuk dengan pendekatan berbeda. Alih-alih membawa teror, ia menawarkan janji. Dengan dukungan pasukan Janissary dan ribuan kavaleri, Radu menyusun kampanye yang senyap tetapi efektif. Ia menawarkan pengampunan. Ia menjanjikan perdagangan yang adil. Ia mempromosikan pemerintahan tanpa kekejaman.
Pesan yang ia bawa sederhana, tetapi kuat Wallachia bisa hidup tanpa rasa takut.
Ketika Dukungan Berpindah Arah
Perlahan, simpati publik bergeser. Kota-kota yang lelah oleh teror mulai membuka pintu bagi Radu. Bahkan Matthias Corvinus, sekutu Vlad dari Hungaria, menolak memberi perlindungan. Pada akhirnya, Vlad jatuh bukan oleh pedang musuh, melainkan oleh politik yang berbalik arah.
Radu kemudian naik sebagai Wallachia Bey, penguasa wilayah di bawah perlindungan Ottoman. Bagi Ottoman, ia tampil sebagai sekutu setia. Namun bagi sebagian masyarakat Wallachia, ia dicap pengkhianat. Sekali lagi, sejarah menunjukkan watak aslinya: label selalu mengikuti siapa yang berkuasa.
Nama yang Tenggelam, Makna yang Bertahan
Radu wafat sekitar tahun 1475-1477. Namanya perlahan tenggelam di bawah bayang-bayang Dracula yang terus hidup dalam novel, film, dan industri hiburan. Dunia tampaknya lebih menyukai monster daripada manusia yang memilih jalan tengah.
Padahal, kisah Radu terasa relevan hari ini. Dalam politik modern, figur kompromis kerap dicurigai. Sosok keras sering dipuja. Tokoh tenang justru dianggap lemah. Namun tidak semua perubahan lahir dari teriakan dan darah.
Di balik kisah Dracula dan Radu, tersimpan pelajaran penting kekuasaan tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling menakutkan. Sering kali, ia berpihak pada mereka yang paling mampu membaca zaman.
Mungkin itulah sebabnya Radu cel Frumos jarang muncul di layar lebar. Ia tidak cocok menjadi mitos horor. Namun justru di sanalah kekuatannya sebagai manusia yang memilih berdamai dengan kompleksitas hidup.
Dan pada akhirnya, sejarah selalu mengajukan pertanyaan yang sama:
siapa yang kita sebut pahlawan, dan siapa yang sengaja kita biarkan terlupakan? (Narasi dikirim dari Rumania) @Risa Bluesaphier




