Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Presiden Prabowo Kritik Praktik Impor Pangan di Tengah Klaim Swasembada

by dimas
Januari 8, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kebiasaan Indonesia mengimpor pangan tidak masuk akal. Ia menyampaikan pernyataan itu saat menghadiri Panen Raya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026). Di hadapan petani dan pejabat pemerintah, Prabowo mempertanyakan logika kebijakan pangan yang terus bergantung pada negara lain.

Menurut Prabowo, Indonesia memiliki tanah luas, sumber daya melimpah, dan kondisi alam yang subur. Dengan modal tersebut, ia menilai ketergantungan impor sebagai keputusan yang bertentangan dengan akal sehat dan rasa keadilan.

Kritik atas Ketergantungan Impor Pangan

Prabowo menyampaikan kegelisahannya secara langsung. Ia mengaku sulit menerima kenyataan bahwa negara besar yang telah merdeka puluhan tahun masih menggantungkan kebutuhan pangan pada bangsa lain. Baginya, praktik impor berulang menunjukkan kegagalan dalam memanfaatkan kekayaan nasional.

Ia menekankan bahwa perjuangan panjang melawan penjajahan seharusnya menghasilkan kemandirian, termasuk dalam urusan pangan. Namun, kenyataan justru menunjukkan sebagian besar kekayaan negeri belum dinikmati oleh mayoritas rakyat.

Swasembada Beras sebagai Titik Balik

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo mengumumkan bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada 2025. Pemerintah sebelumnya menargetkan capaian ini dalam empat hingga lima tahun. Namun, produksi nasional justru melonjak dalam satu tahun masa kepemimpinannya.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Presiden menilai keberhasilan tersebut sebagai bukti bahwa sistem lama perlu dikoreksi. Ia melihat swasembada bukan sekadar angka produksi, melainkan sinyal bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan sendiri jika kebijakan berjalan konsisten.

Ketidakadilan yang Dirasakan Petani dan Rakyat

Prabowo menyoroti dampak ketergantungan impor terhadap petani. Ia menyebut kebijakan tersebut sering menekan harga panen dan melemahkan produksi dalam negeri. Akibatnya, petani kehilangan insentif, sementara masyarakat tetap menanggung fluktuasi harga.

Ia mengaku tidak memiliki gelar profesor, tetapi mengandalkan nalar dan pengalaman untuk membaca ketidakadilan. Menurutnya, masyarakat merasakan langsung dampak kebijakan yang tidak berpihak, terutama ketika hasil kekayaan nasional gagal meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Narasi Perjuangan dan Komitmen Politik

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung tudingan yang kerap diarahkan kepadanya. Ia menyebut sebagian pihak menuduhnya otoriter atau haus kekuasaan. Namun, ia menegaskan bahwa perjuangannya berangkat dari sumpah sebagai prajurit TNI.

Prabowo mengingatkan bahwa TNI lahir dari rakyat dan hidup dari dukungan rakyat. Karena itu, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan negara mengelola kekayaan demi kepentingan publik, bukan untuk memperpanjang ketergantungan pada impor.

Data Produksi dan Stok Nasional

Pemerintah mencatat produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai 34,71 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, Badan Pangan Nasional melaporkan stok beras nasional pada awal 2026 mencapai 12,529 juta ton.

Stok tersebut mencakup 3,248 juta ton Cadangan Beras Pemerintah serta persediaan di rumah tangga, restoran, hotel, dan sektor lainnya. Pemerintah menilai jumlah ini cukup untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga dalam waktu dekat.

Harapan Publik dan Ujian Konsistensi

Bagi petani dan konsumen, swasembada beras membawa harapan baru. Namun, publik tetap mencermati konsistensi pemerintah dalam menjaga kebijakan pangan nasional. Tantangan seperti perubahan iklim, distribusi, dan tekanan pasar global masih mengintai.

Pernyataan Prabowo membuka kembali diskusi soal arah politik pangan Indonesia. Swasembada bisa menjadi fondasi kemandirian jangka panjang atau justru berhenti sebagai pencapaian sesaat.

Di tengah euforia panen dan data produksi, masyarakat kini menunggu satu pembuktian apakah akal sehat yang digaungkan Presiden akan bertahan ketika kepentingan jangka pendek kembali mengetuk pintu kebijakan.asar global kembali mengetuk pintu. @dimas

Tags: berasEkonomi IndonesiaImporKebijakanKemandirianKetahananNasionalPanganpemerintahPetaniPrabowo SubiantoStabilitas

Kamu Melewatkan Ini

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

by dimas
Juni 9, 2026

Chatib Basri bertemu Prabowo selama dua jam di Istana. Apakah ini sekadar konsultasi ekonomi atau sinyal perubahan di Dewan Ekonomi...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Investasi Menjadi Kesejahteraan: Tantangan Terbesar di Balik Isu Reshuffle

Investasi Menjadi Kesejahteraan: Tantangan Terbesar di Balik Isu Reshuffle

by teguh
Juni 8, 2026

Investasi menjadi kesejahteraan adalah ujian terbesar yang sedang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah ramainya spekulasi reshuffle kabinet, tantangan...

Next Post
Kakek di Sidoarjo Tega Cabuli Lima Anak di Bawah Umur

Kakek di Sidoarjo Tega Cabuli Lima Anak di Bawah Umur

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id