Tabooo.id: Regional – Amarah warga Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, memuncak pada Selasa (6/1/2026) malam. Warga menggerebek dan menggiring seorang pria berusia 60 tahun berinisial M ke balai desa sekitar pukul 21.30 WIB. Mereka menduga M mencabuli lima anak di bawah umur.
Tak lama kemudian, ratusan warga memadati area balai desa. Emosi pun meluap. Dalam situasi tersebut, sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan M nyaris menjadi sasaran amukan massa. Karena itu, aparat harus bertindak cepat untuk mencegah kekerasan terbuka.
Polisi dan TNI Amankan Terduga Pelaku
Untuk meredam situasi, petugas Polsek Tulangan bersama sejumlah personel TNI segera mengamankan M dari kepungan warga. Aparat lalu membawa M keluar dari balai desa agar situasi tidak semakin memanas. Langkah pengamanan ini menjadi krusial, sebab di tengah kemarahan publik, satu kesalahan kecil berpotensi memicu tragedi baru.
Polisi Benarkan Dugaan Pencabulan
Kapolsek Tulangan AKP Rizky Arif membenarkan peristiwa tersebut. Menurut dia, polisi menerima laporan warga pada Selasa malam terkait dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur.
“Semalam kami menerima informasi bahwa warga mengamankan seseorang di kantor desa karena diduga melakukan pencabulan terhadap lima anak di bawah umur,” ujar Rizky, Rabu (7/1/2026).
Setelah mendatangi lokasi, polisi memastikan bahwa kasus tersebut berkaitan dengan dugaan perbuatan tidak pantas terhadap anak-anak. Selanjutnya, aparat membawa M ke kantor kepolisian untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Kasus Ditangani Unit PPA
Saat ini, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Sidoarjo menangani perkara tersebut. Polisi terus mendalami kasus ini dengan memeriksa terduga pelaku serta mengumpulkan keterangan dari korban dan saksi.
“M saat ini sudah berada di Polresta Sidoarjo. Unit PPA menangani perkara ini. Untuk perkembangan selanjutnya bisa langsung dikonfirmasi ke sana,” tambahnya.
Namun demikian, polisi belum mengungkap detail kronologi maupun hubungan antara terduga pelaku dan para korban. Aparat memilih langkah ini demi melindungi identitas dan kondisi psikologis anak-anak.
Anak Jadi Korban, Warga Terpukul
Kasus ini kembali mengguncang rasa aman warga. Anak-anak, yang seharusnya memperoleh perlindungan penuh di lingkungan terdekat, justru diduga menjadi korban orang dewasa di sekitarnya. Pihak yang paling terdampak tentu para korban dan keluarga mereka.
Di sisi lain, dampak sosialnya meluas. Kepercayaan di tingkat kampung ikut terkikis, sementara kemarahan publik terus menguat. Oleh karena itu, di tengah tuntutan keadilan, satu pesan mencuat hukum harus bergerak cepat dan tegas. Jika negara lamban, amarah warga kerap mengambil alih dan pada titik itu, keadilan bisa berubah menjadi kekacauan. @dimas







