Tabooo.id: Life – Di tanah Jawa yang pernah melahirkan dinasti-dinasti besar, kita kembali dihadapkan pada satu pertanyaan yang tak lekang digerus zaman: apa arti sebuah takhta ketika keluarga sendiri terpecah oleh hasrat akan kuasa? Keraton Surakarta, tempat ribuan ritual sakral dijaga turun-temurun, kini memantulkan bayangan getir tentang perebutan legitimasi yang tak kunjung padam. Di balik alunan gamelan dan aroma kemenyan, ada bara kecil yang terus menyala bara yang menunjukkan bahwa bahkan tradisi paling tua pun rapuh di tangan manusia modern yang masih mencintai simbol kekuasaan lebih dari maknanya.
Sabtu (15/11) menjadi penanda babak baru drama panjang suksesi.
KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram atau Gusti Purbaya resmi naik takhta sebagai SISKS Pakubowono XIV dalam Jumenengan Dalem Nata Binayangkare di Bangsal Manguntur Tangkil. Di hadapan sentana dan abdi dalem, ia mengucap sabda pertama, lengkap dengan nama gelar sepanjang riwayat yang mengandung sejarah, doa, dan legitimasi.
Dalam titahnya, sang raja baru mengikat diri pada tiga janji:
- Memimpin berdasarkan syariat Islam serta paugeran adat.
- Mendukung NKRI lahir batin.
- Melestarikan budaya Jawa peninggalan dinasti Mataram.
Tiga janji yang indah di atas kertas dan mulia dalam tradisi. Namun, seperti yang sering terjadi di keraton mana pun baik fisik maupun metaforis kekuatan sebuah janji selalu ditentukan oleh siapa yang mengaku memiliki kebenaran.
Sebab di luar tembok keraton, dualisme kekuasaan semakin tebal.
Sang kakak, KGPH Hangabehi (Mangkubumi), tetap bersikukuh sebagai pewaris sah. Ia bahkan telah lebih dulu menyandang titel tandingan: SISKS Pakubuwana XIV. Maka, dua raja kini berdiri di atas satu takhta. Dan seperti sejarah telah malang-melintang mengajarkan: kerajaan hanya butuh satu raja, tetapi selalu melahirkan lebih dari satu ambisi.
Keraton Surakarta berada di persimpangan: antara legitimasi adat, loyalitas trah, dan tarik-menarik pengaruh yang tak pernah sepenuhnya terlihat. Purbaya memang sudah dinobatkan. Tetapi masa depan? Masih berlapis kabut.
Tabooo melihat situasi ini bukan sekadar konflik internal kerabat keraton. Ini adalah cermin telanjang dari persoalan yang lebih besar dalam kebudayaan kita: kita begitu mencintai simbol, bahkan ketika maknanya mulai mengabur.
Jika takhta hanya dijadikan arena gengsi, apa gunanya paugeran? Jika tradisi dipakai sebagai tameng legitimasi, apa kabar nilai luhur yang katanya dijaga?
Keraton bukan hanya rumah raja dan darah biru. Keraton adalah rumah memori kolektif Jawa. Dan ketika memori itu direcoki perebutan status, siapa sebenarnya yang sedang kita selamatkan? Raja? Keluarga? Atau hanya ego yang berlomba menguasai narasi?
Redaksi Tabooo percaya:
Tradisi hanya hidup ketika nilai yang dikandungnya lebih penting daripada siapa yang memakai mahkotanya.
Dua raja, satu takhta, dan rakyat yang hanya bisa menonton dari luar tembok. Maka pertanyaannya kini sederhana tapi mengusik:
Apakah Keraton Surakarta sedang menjaga warisan, atau justru sedang kehilangan dirinya sendiri pelan-pelan?
Waktu yang akan menjawab. Tapi sejarah selalu punya satu kebiasaan buruk:
ia tak pernah memihak mereka yang lupa pada makna. (sig)





