Tabooo.id: Global – Perundingan nuklir antara Teheran dan Washington kembali mandek. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut “tembok kesangsian” yang dibangun Barat dan tuntutan berlebihan Amerika Serikat sebagai penghambat utama diplomasi. Pernyataan itu ia sampaikan saat berpidato memperingati 47 tahun Revolusi Islam 1979 di Teheran, Rabu (11/2/2026).
Pezeshkian menegaskan Iran tidak mengejar senjata nuklir dan siap menjalani setiap verifikasi terkait program nuklir negaranya.
“Kami meyakini masalah kawasan hanya dapat diselesaikan oleh negara-negara di wilayah ini, bukan oleh kekuatan asing,” ujarnya.
Ia menambahkan, Iran tidak akan menyerah pada tuntutan berlebihan maupun agresi dari luar.
Negeri itu tetap menempuh jalur diplomasi dengan tulus. Pezeshkian menegaskan, Iran aktif berdialog dengan negara-negara Asia Barat untuk menjaga perdamaian regional. Ia menekankan, stabilitas kawasan tercipta melalui kerja sama lokal, bukan intervensi asing.
Tantangan Ekonomi dan Persatuan Nasional
Pezeshkian menyoroti pentingnya persatuan nasional di tengah kerusuhan yang meletus baru-baru ini. Pemerintahnya menindaklanjuti berbagai persoalan rakyat, mulai dari ketidakpuasan sosial hingga tekanan ekonomi.
“Kita membutuhkan persatuan internal lebih dari apa pun,” tambahnya.
Di ranah ekonomi, Pezeshkian menekankan Iran harus mendapat akses ke pasar internasional, terutama negara Muslim dan tetangga regional, untuk mempercepat pembangunan domestik dan memperkuat ketahanan ekonomi. Teheran pun aktif meneken kontrak dan perjanjian regional maupun internasional guna mendorong investasi dan perdagangan.
Implikasi Global
Kebuntuan perundingan nuklir membawa dampak luas. Sanksi dan tekanan AS serta negara Barat membatasi kemampuan Iran bertransaksi di pasar global, sementara rakyat menghadapi kenaikan harga dan ketidakpastian ekonomi. Negara tetangga pun menanggung risiko instabilitas regional akibat lambannya kesepakatan diplomatik.
Pezeshkian menegaskan, Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi, namun menolak tunduk pada tekanan berlebihan. Ia menilai setiap intervensi asing hanya memperpanjang kebuntuan dan menunda manfaat nyata bagi rakyat.
Di tengah retorika tegas itu, terselip pesan bagi dunia: diplomasi yang memaksakan kehendak pihak luar jarang berhasil. Ketika kesangsian membentengi dialog, kemajuan melambat, sementara rakyat terus menunggu solusi yang nyata. @dimas




