Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Alarm Merah: Indonesia Masuk 2 Negara Paling Rentan Penipuan 2025

by teguh
Februari 12, 2026
in Nasional
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Indonesia masuk daftar negara dengan tingkat perlindungan terhadap penipuan (fraud) paling rendah di dunia sepanjang 2025. Laporan Global Fraud Index 2025 yang dirilis perusahaan verifikasi global Sumsub menempatkan Indonesia di peringkat ke-111 dari 112 negara dengan skor 6,53. Semakin tinggi skor, semakin tinggi risiko dan semakin lemah ketahanannya.

Hanya Pakistan yang mencatat skor lebih buruk. Posisi ini menunjukkan bahwa struktur perlindungan Indonesia terhadap praktik penipuan masih tertinggal dibanding hampir seluruh negara yang diukur.

Empat Pilar yang Menentukan

Sumsub tidak sekadar menghitung jumlah kasus penipuan. Mereka mengukur fondasi sebuah negara lewat empat pilar utama.

Pertama, fraud activity (50%), yang menilai tingkat aktivitas dan jaringan penipuan serta efektivitas sistem anti pencucian uang (AML). Kedua, resource accessibility (20%), yang melihat akses layanan digital, kekuatan ekonomi, PDB per kapita, hingga kecepatan internet.

Ketiga, government intervention (20%), yang mengukur keseriusan regulasi dan kekuatan infrastruktur anti-fraud. Terakhir, economic health (10%), yang mencerminkan kondisi ekonomi seperti tingkat korupsi, pengangguran, biaya hidup, dan stabilitas nasional.

Ini Belum Selesai

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

Prestasi Tinggi, Data Ter-hidden: Hak Anak Nyaris Tersingkir dari SMP Negeri

Rata-rata skor global berada di angka 2,79. Indonesia mencatat 6,53 lebih dari dua kali lipat rata-rata dunia. Angka ini menempatkan Indonesia di lima terbawah, bersama Tanzania (108), India (109), Nigeria (110), dan Pakistan (112).

Sebaliknya, Luxembourg, Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Belanda memimpin daftar negara dengan perlindungan terbaik. Negara-negara itu membangun regulasi ketat, memperkuat pengawasan digital, dan menjaga stabilitas ekonomi secara konsisten.

Dampaknya ke Masyarakat dan Dunia Usaha

Ketika risiko fraud meningkat, masyarakat menanggung dampak paling besar. Penipuan investasi, phishing, pembobolan akun, hingga pencucian uang lintas negara tumbuh lebih cepat di sistem yang longgar. Korban tidak hanya individu, tetapi juga pelaku UMKM, nasabah bank, dan pengguna platform digital.

Dunia usaha ikut merasakan tekanan. Perusahaan fintech, e-commerce, dan perbankan digital harus menambah biaya keamanan dan verifikasi. Investor global pun bisa menilai Indonesia sebagai pasar dengan risiko lebih tinggi.

Sebaliknya, pelaku kejahatan siber justru melihat peluang. Sumsub menekankan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) mempercepat evolusi modus penipuan. Deepfake, identitas sintetis, dan manipulasi data kini muncul dengan kualitas yang makin sulit terdeteksi.

Singapura memberi gambaran kontras. Pada 2024 negara itu memimpin indeks ketahanan fraud. Tahun ini Singapura turun ke peringkat ke-10, tetapi tetap mencatat skor rendah 1,36. Regulasi dan intervensi pemerintah di sana tetap kuat, sehingga risiko tetap terkendali.

Sebagai pembanding, Argentina mencatat skor 4,05 lebih tinggi dari Singapura, namun masih lebih rendah dibanding Indonesia.

Sinyal Keras untuk Regulasi

Masuknya Indonesia ke posisi 111 menjadi peringatan serius. Pemerintah mendorong transformasi digital dan inklusi keuangan secara agresif. Namun percepatan itu harus berjalan seiring dengan penguatan pengawasan dan literasi digital.

Tanpa sistem kontrol yang adaptif, pertumbuhan ekonomi digital bisa membuka celah baru bagi kejahatan. Regulasi yang responsif, penegakan hukum yang tegas, serta edukasi publik yang masif menjadi kunci untuk memperkecil risiko.

Indonesia ingin menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Target itu ambisius dan realistis. Namun ambisi saja tidak cukup. Jika sistem perlindungan tertinggal, maka yang tumbuh bukan hanya transaksi digital tetapi juga kejahatan digital. @teguh

Tags: 2025Asia TenggaraEkonomi DigitalInvestasiNasionalPDBPenipuanRegulasiRentan

Kamu Melewatkan Ini

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

by teguh
Juni 13, 2026

Pemerintah selama bertahun-tahun mengandalkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, temuan terbaru Bank Dunia menunjukkan...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

Next Post
Kronologi Bahar bin Smith Aniaya Anggota Banser

Bahar bin Smith Tak Ditahan, Alasannya Tulang Punggung Keluarga

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id