Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Alarm Merah: Indonesia Masuk 2 Negara Paling Rentan Penipuan 2025

by teguh
Februari 12, 2026
in Nasional
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Indonesia masuk daftar negara dengan tingkat perlindungan terhadap penipuan (fraud) paling rendah di dunia sepanjang 2025. Laporan Global Fraud Index 2025 yang dirilis perusahaan verifikasi global Sumsub menempatkan Indonesia di peringkat ke-111 dari 112 negara dengan skor 6,53. Semakin tinggi skor, semakin tinggi risiko dan semakin lemah ketahanannya.

Hanya Pakistan yang mencatat skor lebih buruk. Posisi ini menunjukkan bahwa struktur perlindungan Indonesia terhadap praktik penipuan masih tertinggal dibanding hampir seluruh negara yang diukur.

Empat Pilar yang Menentukan

Sumsub tidak sekadar menghitung jumlah kasus penipuan. Mereka mengukur fondasi sebuah negara lewat empat pilar utama.

Pertama, fraud activity (50%), yang menilai tingkat aktivitas dan jaringan penipuan serta efektivitas sistem anti pencucian uang (AML). Kedua, resource accessibility (20%), yang melihat akses layanan digital, kekuatan ekonomi, PDB per kapita, hingga kecepatan internet.

Ketiga, government intervention (20%), yang mengukur keseriusan regulasi dan kekuatan infrastruktur anti-fraud. Terakhir, economic health (10%), yang mencerminkan kondisi ekonomi seperti tingkat korupsi, pengangguran, biaya hidup, dan stabilitas nasional.

Ini Belum Selesai

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Rata-rata skor global berada di angka 2,79. Indonesia mencatat 6,53 lebih dari dua kali lipat rata-rata dunia. Angka ini menempatkan Indonesia di lima terbawah, bersama Tanzania (108), India (109), Nigeria (110), dan Pakistan (112).

Sebaliknya, Luxembourg, Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Belanda memimpin daftar negara dengan perlindungan terbaik. Negara-negara itu membangun regulasi ketat, memperkuat pengawasan digital, dan menjaga stabilitas ekonomi secara konsisten.

Dampaknya ke Masyarakat dan Dunia Usaha

Ketika risiko fraud meningkat, masyarakat menanggung dampak paling besar. Penipuan investasi, phishing, pembobolan akun, hingga pencucian uang lintas negara tumbuh lebih cepat di sistem yang longgar. Korban tidak hanya individu, tetapi juga pelaku UMKM, nasabah bank, dan pengguna platform digital.

Dunia usaha ikut merasakan tekanan. Perusahaan fintech, e-commerce, dan perbankan digital harus menambah biaya keamanan dan verifikasi. Investor global pun bisa menilai Indonesia sebagai pasar dengan risiko lebih tinggi.

Sebaliknya, pelaku kejahatan siber justru melihat peluang. Sumsub menekankan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) mempercepat evolusi modus penipuan. Deepfake, identitas sintetis, dan manipulasi data kini muncul dengan kualitas yang makin sulit terdeteksi.

Singapura memberi gambaran kontras. Pada 2024 negara itu memimpin indeks ketahanan fraud. Tahun ini Singapura turun ke peringkat ke-10, tetapi tetap mencatat skor rendah 1,36. Regulasi dan intervensi pemerintah di sana tetap kuat, sehingga risiko tetap terkendali.

Sebagai pembanding, Argentina mencatat skor 4,05 lebih tinggi dari Singapura, namun masih lebih rendah dibanding Indonesia.

Sinyal Keras untuk Regulasi

Masuknya Indonesia ke posisi 111 menjadi peringatan serius. Pemerintah mendorong transformasi digital dan inklusi keuangan secara agresif. Namun percepatan itu harus berjalan seiring dengan penguatan pengawasan dan literasi digital.

Tanpa sistem kontrol yang adaptif, pertumbuhan ekonomi digital bisa membuka celah baru bagi kejahatan. Regulasi yang responsif, penegakan hukum yang tegas, serta edukasi publik yang masif menjadi kunci untuk memperkecil risiko.

Indonesia ingin menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Target itu ambisius dan realistis. Namun ambisi saja tidak cukup. Jika sistem perlindungan tertinggal, maka yang tumbuh bukan hanya transaksi digital tetapi juga kejahatan digital. @teguh

Tags: 2025Asia TenggaraEkonomi DigitalInvestasiNasionalPDBPenipuanRegulasiRentan

Kamu Melewatkan Ini

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

by teguh
Mei 10, 2026

Papua tak lagi sekedar pinggiran. Dulu, banyak orang menyebut Papua sebagai “ujung Indonesia”. Tempat yang terasa jauh, mahal dijangkau, dan...

Indonesia Suka Resmikan Kabel. Yang Sering Putus Justru Harapan

Indonesia Suka Resmikan Kabel. Yang Sering Putus Justru Harapan

by teguh
Mei 10, 2026

Papua akhirnya mendapat jalur internet baru yang katanya lebih cepat, lebih global, dan lebih tangguh. Indonesia suka resmikan Kabel dan...

Next Post
Kronologi Bahar bin Smith Aniaya Anggota Banser

Bahar bin Smith Tak Ditahan, Alasannya Tulang Punggung Keluarga

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id