Tabooo.id: Nasional – Hujan belum benar benar berhenti ketika kabar itu turun dari Jakarta. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pengerahan seluruh kekuatan nasional untuk mempercepat penanganan banjir dan tanah longsor yang melumpuhkan Aceh Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Perintah itu bergerak cepat menembus batas kementerian instansi hingga garis terdepan aparat di desa desa yang sejak akhir November berubah menjadi pulau pulau kecil dikelilingi air cokelat.
Kabar tersebut diumumkan Menko PMK Pratikno saat ia menyusuri Tapanuli Tengah Tapanuli Selatan dan Sibolga. Daerah yang jalan utamanya sudah retak seperti kulit bumi yang lelah bekerja. Di beberapa titik jembatan hanyut dan desa terputus hanya bisa disapa lewat radio dan drone. Di tengah kehancuran itu Pratikno membawa pesan panjang yang intinya sederhana. Negara mengerahkan semua pintu kekuatannya.
Mulai dari alat berat generator listrik ambulans hingga helikopter dan kapal. Semuanya digerakkan bersamaan tanpa menunggu birokrasi bertingkat. Bahasa resmi menyebutnya mobilisasi besar besaran tetapi di lapangan yang terlihat adalah upaya berpacu dengan waktu sebelum air naik lebih tinggi dan korban bertambah banyak.
Operasi Darurat yang Bergerak dari Udara Darat dan Laut
Sejak hari pertama bencana TNI dan Polri sudah turun mengangkat warga dari rumah yang setengah tenggelam dan mengantar logistik ke medan yang sulit dijangkau. Tetapi setelah instruksi Presiden operasi berubah skala. Helikopter Polri terbang rendah mengantar obat obatan dan paket makanan ke desa yang semula hilang kontak. Kapal patroli diturunkan untuk menembus daerah pesisir yang jalan daratnya terputus.
Di posko posko pengungsian tenda biru mulai berdiri berdampingan dengan dapur umum. Satu kelompok sibuk merebus air sementara yang lain menghitung stok selimut dan susu bayi. Negara terlihat hadir tetapi arus air yang terus naik membuat kehadiran itu terasa seperti balapan dengan sesuatu yang lebih besar dari manusia.
Di tengah operasi darurat pemerintah mulai menyiapkan fase selanjutnya. Ada rencana hunian sementara hunian tetap perbaikan akses dan pemulihan ekonomi lokal. Tetapi rencana ini masih berada di meja rapat sementara warga bertanya kapan mereka bisa kembali ke rumah meski rumah itu hanya menyisakan fondasi.
Siapa Diuntungkan Siapa Dirugikan
Di wilayah yang terisolasi bantuan yang datang lewat udara dan laut jelas menjadi penolong utama. Warga mendapatkan makanan air bersih dan layanan kesehatan. Pemerintah daerah juga diuntungkan karena tidak perlu menghadapi bencana sendirian. Dan bagi institusi negara mobilisasi besar ini menjadi bukti bahwa mesin pemerintahan masih bisa bergerak cepat ketika diperlukan.
Tetapi seperti biasa kelompok yang paling dirugikan adalah mereka yang tidak pernah mendapatkan infrastruktur mitigasi yang layak. Komunitas pedesaan yang hidup di lereng bukit atau dekat sungai harus kembali menanggung beban paling besar. Rumah hilang panen musnah dan masa depan kembali kabur. Usaha kecil kehilangan stok tanpa tahu kapan dapat memulai lagi. Mereka yang tinggal di daerah dengan akses buruk selalu menjadi korban yang sama meski bencana berganti nama dari banjir ke longsor.
Ironisnya sebagian besar kawasan itu sudah dipetakan sebagai daerah rawan sejak bertahun tahun lalu. Tetapi mitigasi tidak pernah menjadi prioritas. Politik lebih suka proyek yang terlihat bukan pencegahan yang terasa.
Mobilisasi Nasional dan Bayangan yang Tertinggal
Pratikno menegaskan negara hadir sepenuhnya memastikan seluruh kebutuhan darurat terpenuhi. Di atas kertas mobilisasi ini sempurna. Pesawat terbang kapal bergerak personel menyebar ke seluruh titik. Tetapi kenyataan di lapangan memperlihatkan pola lama. Negara bergerak cepat setelah krisis meledak. Bukan sebelum bencana ketika persiapan bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Narasi ini mengulang pesan yang sama setiap tahun. Kita bisa sangat gesit dalam keadaan darurat tetapi selalu terlambat dalam membangun fondasi agar darurat itu tidak perlu terjadi.
Pada akhirnya pengerahan kekuatan nasional ini menegaskan dua wajah negara yang berjalan bersamaan. Negara yang responsif ketika bencana terjadi dan negara yang lengah ketika langit masih cerah. Sampai mitigasi menjadi budaya bukan sekadar reaksi masyarakat mungkin akan terus bertanya setiap musim hujan datang. Siapa yang hari ini kebagian perahu karet dan siapa yang menunggu di atap rumah sambil berharap sirene bantuan datang tepat waktu. @dimas




