Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Prabowo Bentuk Komisi Reformasi Polri: Jalan Baru atau Sekadar Daur Ulang Kekuasaan?

by dimas
November 8, 2025
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Istana Merdeka, Jumat (7/11/2025) sore, menjadi saksi ketika Presiden Prabowo Subianto berdiri di depan deretan wajah-wajah yang sudah lama menghuni lingkar kekuasaan. Di antara mereka ada para jenderal, menteri, dan profesor hukum yang dulu menjadi arsitek kebijakan negara. Dengan suara tegas, Prabowo menyampaikan pesan besar: “Reformasi Polri harus dimulai sekarang.”

Namun, di balik suasana khidmat pelantikan Komisi Percepatan Reformasi Polri, publik menaruh satu pertanyaan sederhana: apakah ini langkah baru atau justru wajah lama dalam balutan baru?

Reformasi yang Dipimpin Para Mantan

Komisi ini terbentuk melalui Keppres Nomor 122/P Tahun 2025. Presiden menunjuk Jimly Asshiddiqie sebagai ketua, didampingi sembilan tokoh besar lain: Yusril Ihza Mahendra, Otto Hasibuan, Tito Karnavian, Mahfud MD, Supratman Andi Agtas, Ahmad Dofiri, Idham Aziz, Badrodin Haiti, dan Listyo Sigit Prabowo.

Sebagian besar dari mereka adalah tokoh senior yang sudah lama menyelesaikan masa baktinya. Prabowo bahkan sempat menyelipkan candaan yang mengundang tawa.

“Seharusnya Saudara sudah boleh tinggal di rumah, momong cucu, pelihara ikan. Tapi saya panggil kembali untuk bekerja demi negara,” ujarnya.

Ucapan itu memang ringan, tetapi mencerminkan realitas yang menarik. Reformasi yang diharapkan membawa energi baru kini justru dipimpin para veteran birokrasi. Meski begitu, pengalaman panjang mereka bisa menjadi modal penting untuk memperbaiki sistem yang rumit di tubuh Polri.

Ini Belum Selesai

Kapolda Sulsel Usul Arena Tawuran 10 Lawan 10, Polisi Bidik Produsen Busur

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Manuver Politik dan Pertaruhan Citra

Langkah ini secara politik jelas menguntungkan Prabowo. Dengan menggandeng tokoh lintas rezim dan partai, ia memperluas jejaring dukungan sekaligus menegaskan citra sebagai pemimpin yang merangkul semua pihak.

Namun di sisi lain, sebagian masyarakat menilai langkah ini elitis. Mereka khawatir komisi tersebut berubah menjadi lingkaran eksklusif tempat para orang kuat menilai orang kuat lainnya. Pandangan ini wajar muncul karena publik sudah terlalu sering menyaksikan janji reformasi yang berhenti di atas meja rapat.

Bagi kelompok masyarakat sipil, pembentukan komisi ini menimbulkan dua rasa: harapan dan waswas. Harapan muncul karena Prabowo menegaskan pentingnya kepastian hukum dan rule of law. Sementara itu, rasa waswas tumbuh karena reformasi sejati hanya lahir dari keberanian melawan arus, bukan dari kompromi di ruang istana.

Tantangan Nyata: Mengobati Luka Lama

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa Polri adalah institusi vital. Ia berkata,

“Hukum boleh kita buat selengkap mungkin, tapi kalau penegakannya tidak baik, rule of law tidak akan berjaya.”

Pernyataan itu ideal, namun tantangannya nyata. Citra Polri kerap tercoreng oleh isu kekerasan, penyalahgunaan wewenang, dan hubungan yang terlalu dekat dengan kekuasaan. Oleh karena itu, komisi ini harus berani menembus batas lama dan memperbaiki sistem dari akarnya.

Reformasi Polri tidak cukup berhenti pada perubahan struktur. Ia harus menyentuh budaya organisasi, pola pikir aparat, hingga hubungan Polri dengan masyarakat sipil. Tanpa itu, reformasi hanya akan menjadi proyek administratif tanpa makna.

Reformasi atau Nostalgia Kekuasaan?

Ada momen menarik ketika Prabowo sadar bahwa semua anggota komisi adalah laki-laki. Dengan spontan ia berkata,

“Ini nggak ada perempuannya ya? Bisa nggak ditambah keterwakilan gender?”

Sekilas kalimat itu sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh isu penting: reformasi bukan hanya soal tata kelola, tetapi juga soal representasi dan keberagaman. Jika lembaga penegak hukum ingin dipercaya publik, wajahnya harus mencerminkan keragaman masyarakat yang dilayaninya.

Langkah Panjang Menuju Kepastian Hukum

Prabowo tidak menetapkan batas waktu kerja bagi komisi tersebut. Ia hanya meminta laporan berkala setiap tiga bulan. Tujuannya agar komisi dapat bekerja tajam, fokus, dan objektif.

Namun, sejarah mengingatkan kita bahwa banyak komisi serupa berakhir tanpa hasil konkret. Karena itu, publik menanti bukti nyata, bukan sekadar laporan tebal yang dibacakan di rapat kabinet. Jika reformasi kali ini berhasil, Polri akan tampil lebih transparan, profesional, dan berwibawa. Tetapi jika gagal, masyarakat kembali akan berhadapan dengan lembaga hukum yang sulit dikritik dan aparat yang jauh dari rakyat.

Penutup: Antara Janji dan Bukti

Komisi Reformasi Polri lahir dari niat besar. Tetapi niat tidak cukup. Reformasi sejati membutuhkan keberanian untuk menegakkan keadilan, bahkan ketika kebenaran itu menyakitkan.

Sebagaimana sindiran warganet yang ramai di platform X malam itu:

“Reformasi Polri? Semoga bukan cuma reformasi seragamnya.” @dimas

Tags: Reformasi Polri

Kamu Melewatkan Ini

Kapolri Rombak Jajaran, Reformasi Polri atau Sekadar Rotasi?

Kapolri Rombak Jajaran, Reformasi Polri atau Sekadar Rotasi?

by dimas
Oktober 13, 2026

Kapolri merombak ratusan personel Polri dalam dua gelombang mutasi. Apakah langkah ini mendorong reformasi atau sekadar pergantian jabatan? Tabooo.id -...

Baru Sehari Dilantik, Suyudi Langsung Rombak 88 Perwira

Baru Sehari Dilantik, Suyudi Langsung Rombak 88 Perwira

by dimas
Oktober 4, 2026

Baru sehari dilantik sebagai Kapolri, Jenderal Suyudi Ario Seto langsung merombak 88 perwira dalam langkah cepat menata kembali tubuh Polri....

BEM DIY Gelar Aksi di Tiga Titik, Bawa Empat Tuntutan

BEM DIY Gelar Aksi di Tiga Titik, Soroti Korupsi dan Reformasi Polri

by dimas
Agustus 27, 2026

BEM DIY menggelar aksi di tiga titik Yogyakarta dengan empat tuntutan, termasuk RUU Perampasan Aset, pendidikan gratis, penguatan otonomi daerah,...

Next Post
Soeharto Dapat Gelar Pahlawan: Antara Lupa, Luka, dan Logika Politik

Soeharto Dapat Gelar Pahlawan: Antara Lupa, Luka, dan Logika Politik

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id