Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Prabowo Bentuk Komisi Reformasi Polri: Jalan Baru atau Sekadar Daur Ulang Kekuasaan?

by dimas
November 8, 2025
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Istana Merdeka, Jumat (7/11/2025) sore, menjadi saksi ketika Presiden Prabowo Subianto berdiri di depan deretan wajah-wajah yang sudah lama menghuni lingkar kekuasaan. Di antara mereka ada para jenderal, menteri, dan profesor hukum yang dulu menjadi arsitek kebijakan negara. Dengan suara tegas, Prabowo menyampaikan pesan besar: “Reformasi Polri harus dimulai sekarang.”

Namun, di balik suasana khidmat pelantikan Komisi Percepatan Reformasi Polri, publik menaruh satu pertanyaan sederhana: apakah ini langkah baru atau justru wajah lama dalam balutan baru?

Reformasi yang Dipimpin Para Mantan

Komisi ini terbentuk melalui Keppres Nomor 122/P Tahun 2025. Presiden menunjuk Jimly Asshiddiqie sebagai ketua, didampingi sembilan tokoh besar lain: Yusril Ihza Mahendra, Otto Hasibuan, Tito Karnavian, Mahfud MD, Supratman Andi Agtas, Ahmad Dofiri, Idham Aziz, Badrodin Haiti, dan Listyo Sigit Prabowo.

Sebagian besar dari mereka adalah tokoh senior yang sudah lama menyelesaikan masa baktinya. Prabowo bahkan sempat menyelipkan candaan yang mengundang tawa.

“Seharusnya Saudara sudah boleh tinggal di rumah, momong cucu, pelihara ikan. Tapi saya panggil kembali untuk bekerja demi negara,” ujarnya.

Ucapan itu memang ringan, tetapi mencerminkan realitas yang menarik. Reformasi yang diharapkan membawa energi baru kini justru dipimpin para veteran birokrasi. Meski begitu, pengalaman panjang mereka bisa menjadi modal penting untuk memperbaiki sistem yang rumit di tubuh Polri.

Ini Belum Selesai

Kirab Pusaka di Tengah Dualisme: Tradisi atau Legitimasi?

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

Manuver Politik dan Pertaruhan Citra

Langkah ini secara politik jelas menguntungkan Prabowo. Dengan menggandeng tokoh lintas rezim dan partai, ia memperluas jejaring dukungan sekaligus menegaskan citra sebagai pemimpin yang merangkul semua pihak.

Namun di sisi lain, sebagian masyarakat menilai langkah ini elitis. Mereka khawatir komisi tersebut berubah menjadi lingkaran eksklusif tempat para orang kuat menilai orang kuat lainnya. Pandangan ini wajar muncul karena publik sudah terlalu sering menyaksikan janji reformasi yang berhenti di atas meja rapat.

Bagi kelompok masyarakat sipil, pembentukan komisi ini menimbulkan dua rasa: harapan dan waswas. Harapan muncul karena Prabowo menegaskan pentingnya kepastian hukum dan rule of law. Sementara itu, rasa waswas tumbuh karena reformasi sejati hanya lahir dari keberanian melawan arus, bukan dari kompromi di ruang istana.

Tantangan Nyata: Mengobati Luka Lama

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa Polri adalah institusi vital. Ia berkata,

“Hukum boleh kita buat selengkap mungkin, tapi kalau penegakannya tidak baik, rule of law tidak akan berjaya.”

Pernyataan itu ideal, namun tantangannya nyata. Citra Polri kerap tercoreng oleh isu kekerasan, penyalahgunaan wewenang, dan hubungan yang terlalu dekat dengan kekuasaan. Oleh karena itu, komisi ini harus berani menembus batas lama dan memperbaiki sistem dari akarnya.

Reformasi Polri tidak cukup berhenti pada perubahan struktur. Ia harus menyentuh budaya organisasi, pola pikir aparat, hingga hubungan Polri dengan masyarakat sipil. Tanpa itu, reformasi hanya akan menjadi proyek administratif tanpa makna.

Reformasi atau Nostalgia Kekuasaan?

Ada momen menarik ketika Prabowo sadar bahwa semua anggota komisi adalah laki-laki. Dengan spontan ia berkata,

“Ini nggak ada perempuannya ya? Bisa nggak ditambah keterwakilan gender?”

Sekilas kalimat itu sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh isu penting: reformasi bukan hanya soal tata kelola, tetapi juga soal representasi dan keberagaman. Jika lembaga penegak hukum ingin dipercaya publik, wajahnya harus mencerminkan keragaman masyarakat yang dilayaninya.

Langkah Panjang Menuju Kepastian Hukum

Prabowo tidak menetapkan batas waktu kerja bagi komisi tersebut. Ia hanya meminta laporan berkala setiap tiga bulan. Tujuannya agar komisi dapat bekerja tajam, fokus, dan objektif.

Namun, sejarah mengingatkan kita bahwa banyak komisi serupa berakhir tanpa hasil konkret. Karena itu, publik menanti bukti nyata, bukan sekadar laporan tebal yang dibacakan di rapat kabinet. Jika reformasi kali ini berhasil, Polri akan tampil lebih transparan, profesional, dan berwibawa. Tetapi jika gagal, masyarakat kembali akan berhadapan dengan lembaga hukum yang sulit dikritik dan aparat yang jauh dari rakyat.

Penutup: Antara Janji dan Bukti

Komisi Reformasi Polri lahir dari niat besar. Tetapi niat tidak cukup. Reformasi sejati membutuhkan keberanian untuk menegakkan keadilan, bahkan ketika kebenaran itu menyakitkan.

Sebagaimana sindiran warganet yang ramai di platform X malam itu:

“Reformasi Polri? Semoga bukan cuma reformasi seragamnya.” @dimas

Tags: Reformasi Polri

Kamu Melewatkan Ini

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

by Tabooo
Juni 10, 2026

DPR RI resmi sahkan RUU Polri menjadi undang-undang dalam rapat paripurna. DPR menyebut aturan baru ini memperkuat transformasi, pengawasan, netralitas,...

Katanya Reformasi Polri Total, Tapi Kenapa Praktik Lama Belum Benar-Benar Hilang?

Katanya Reformasi Polri Total, Tapi Kenapa Praktik Lama Belum Benar-Benar Hilang?

by dimas
Mei 12, 2026

Reformasi Polri kembali dipertanyakan ketika praktik “uang damai”, pungli, dan transaksi hukum masih dianggap nyata di tengah masyarakat. Benarkah masalahnya...

Next Post
Soeharto Dapat Gelar Pahlawan: Antara Lupa, Luka, dan Logika Politik

Soeharto Dapat Gelar Pahlawan: Antara Lupa, Luka, dan Logika Politik

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id