Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang disebut mencapai 5,61 persen pada triwulan pertama 2026 disambut optimistis oleh pemerintah sebagai tanda pemulihan dan penguatan ekonomi nasional. Namun di balik angka yang terlihat meyakinkan di atas kertas, banyak warga justru tidak merasakan perubahan berarti dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang pendapatannya stagnan, biaya hidup yang terus naik, serta usaha kecil yang terbebani lonjakan harga bahan baku, angka pertumbuhan itu terasa jauh dari realitas dapur dan kasir harian.
Tabooo.id – Kesenjangan antara narasi pertumbuhan ekonomi dan pengalaman ekonomi warga semakin terlihat ketika harga kebutuhan pokok naik lebih cepat daripada pendapatan. Di tingkat rumah tangga, warga menyesuaikan pola konsumsi, memangkas pengeluaran, dan menahan daya beli yang terus menyusut. Sementara pelaku usaha kecil menghadapi tekanan biaya produksi yang terus meningkat tanpa ruang penyesuaian harga yang aman.
Pertumbuhan di Atas Kertas, Tekanan di Lapangan
Pemerintah mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan pertama 2026. Angka ini menjadi capaian tertinggi dalam 12 triwulan terakhir. Di tengah tekanan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, pemerintah menilai kondisi ini sebagai sinyal bahwa ekonomi nasional tetap bergerak kuat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Indonesia mulai keluar dari bayang-bayang “kutukan” pertumbuhan lima persen, istilah yang selama puluhan tahun digunakan untuk menggambarkan stagnasi ekonomi nasional.
Namun di tengah optimisme itu, banyak warga mengajukan pertanyaan yang sama pertumbuhan ini sebenarnya dirasakan oleh siapa?
Usaha Kecil Menanggung Tekanan Biaya
Di warung kopi kecil di sudut kota, pelaku usaha tidak merasakan dampak langsung dari pertumbuhan ekonomi. Mereka justru menghadapi kenaikan biaya produksi yang terus menekan keuntungan.
Harga plastik naik, bahan baku meningkat, dan beberapa komoditas seperti susu serta telur sering tidak tersedia stabil di pasar. Kondisi ini memaksa pelaku usaha mencari cara agar operasional tetap berjalan di tengah tekanan biaya yang semakin ketat.
Pelaku usaha juga tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual. Ketika harga naik, pelanggan berpotensi berkurang. Karena itu, banyak pelaku usaha kecil memilih menyerap kenaikan biaya sendiri.
Gaji Stagnan, Harga Bergerak
Kelompok pekerja bergaji tetap menghadapi situasi serupa. Banyak pekerja mencatat pendapatan yang tidak berubah selama beberapa tahun terakhir, sementara harga kebutuhan terus meningkat.
Seorang pekerja mengatakan bahwa pendapatannya tidak mengalami kenaikan berarti dalam tiga tahun terakhir. Di saat yang sama, harga barang kebutuhan harian terus naik dan mempersempit ruang belanja.
Isu bahan bakar minyak (BBM) ikut memperkuat tekanan harga di pasar. Meski kenaikan hanya terjadi pada jenis tertentu, pelaku usaha tetap menaikkan harga barang lain karena mengantisipasi kenaikan biaya distribusi.
Rumah Tangga Menyesuaikan Diri
Di tingkat rumah tangga, tekanan ekonomi terlihat dari perubahan pola belanja harian. Banyak keluarga mulai mengurangi pengeluaran non-prioritas dan fokus pada kebutuhan dasar.
Seorang ibu rumah tangga menggambarkan perubahan itu melalui pengalaman sederhana. Uang Rp50.000 yang dulu cukup untuk satu kantong besar bahan makanan, kini hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan.
Kondisi ini mendorong keluarga menghilangkan beberapa pengeluaran kecil. Pelembut pakaian tidak lagi masuk daftar belanja. Penggunaan minyak goreng juga berkurang karena frekuensi memasak gorengan ikut diturunkan.
Pekerja Lepas dan Ketidakpastian Pendapatan
Pekerja lepas profesional juga merasakan tekanan yang sama. Mereka tidak mencatat kenaikan pendapatan yang signifikan pada awal 2026 dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, pengeluaran terus naik mengikuti harga barang dan jasa.
Situasi ini membuat banyak pekerja lepas menata ulang strategi keuangan mereka. Mereka menekan pengeluaran dan menunda konsumsi yang tidak mendesak untuk menjaga stabilitas keuangan pribadi.
Jarak antara Angka dan Realitas
Kondisi ini memunculkan satu kesimpulan yang semakin sering terdengar di percakapan warga: pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan pengalaman ekonomi sehari-hari.
Secara teori, pertumbuhan ekonomi idealnya tidak hanya tercermin pada angka makro, tetapi juga pada peningkatan daya beli, pendapatan, dan kualitas hidup masyarakat. Namun ketika pertumbuhan hanya bergerak di level statistik, jarak antara data dan realitas sosial semakin melebar.
Angka 5,61 persen menunjukkan ekonomi Indonesia terus bergerak. Namun bagi banyak warga, pertanyaan yang tetap menggantung tidak berubah seberapa jauh pertumbuhan itu benar-benar sampai ke dapur mereka? @dimas





