Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perpres AI Disiapkan, Negara Mulai Menggambar Batas Algoritma

by dimas
Januari 21, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Jujur saja, setiap kali negara bicara regulasi teknologi, ada dua reaksi spontan. Sebagian warga merasa lega karena akhirnya ada perlindungan. Sebagian lain langsung curiga karena takut inovasi diperlambat. Maka wajar jika rencana pemerintah menyusun Peta Jalan AI dan Etika AI dalam bentuk Peraturan Presiden memicu perdebatan sejak awal.

Di satu sisi, AI sudah terlalu dalam masuk ke hidup kita. Namun di sisi lain, terlalu banyak aturan juga berpotensi membuat teknologi jalan tertatih. Di antara dua kekhawatiran itulah diskusi ini berdiri.

AI Sudah Bekerja, Bahkan Saat Kita Diam

Sekarang, AI tidak lagi tinggal di laboratorium atau presentasi futuristik. Algoritma sudah menentukan konten yang kita lihat, iklan yang kita terima, bahkan skor kelayakan finansial seseorang. Dalam konteks ini, banyak orang memakai AI tanpa benar-benar menyadarinya.

Karena itu, persoalan tanggung jawab muncul. Ketika AI keliru, masyarakat sering menanggung dampaknya sendirian. Sementara itu, pengembang dan pengguna teknologi bergerak di wilayah abu-abu hukum.

Menurut Ismail Fahmi dari Drone Emprit, dampak AI menyentuh langsung hak warga dan stabilitas sosial. Bias algoritma, manipulasi opini, hingga kebocoran data bukan lagi isu teoritis. Sebaliknya, semua itu sudah menjadi bagian dari realitas digital harian.

Ini Belum Selesai

Apakah Sistem Listrik Indonesia Sedang Menuju Krisis?

Indonesia Kaya Budaya, Tapi Kita Terlalu Haus Validasi Asing?

Regulasi Bukan Tembok, Tapi Peta Jalan

Di titik inilah pemerintah masuk sebagai penentu arah. Melalui Kemkomdigi, negara ingin menyatukan kebijakan AI agar tidak berjalan sendiri-sendiri antar lembaga. Langkah ini bertujuan menciptakan kepastian, bukan sekadar kontrol.

Namun demikian, kekhawatiran pelaku industri juga masuk akal. Terlalu banyak kewajiban administratif bisa menjadi beban, terutama bagi startup lokal yang sumber dayanya terbatas. Oleh karena itu, Ismail Fahmi menekankan pendekatan berbasis risiko.

Artinya, AI berisiko rendah seharusnya tetap berkembang bebas. Sebaliknya, AI dengan dampak besar pada publik memang perlu pengawasan ketat. Dengan skema ini, regulasi tidak berubah menjadi rem tangan, melainkan rambu lalu lintas.

Jika AI Salah, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Pertanyaan berikutnya jauh lebih rumit. Dalam sistem hukum saat ini, hanya manusia dan lembaga yang bisa dimintai pertanggungjawaban. AI tidak masuk dalam kategori tersebut, meski mampu mengambil keputusan yang berdampak luas.

Dr. Mohammad Ridwan Effendi dari ITB menegaskan pentingnya kejelasan tanggung jawab hukum. Tanpa aturan tegas, konflik bisa berujung pada saling lempar kesalahan. Akibatnya, korban justru tidak mendapat keadilan.

Karena itu, regulasi seharusnya memperjelas posisi setiap pihak. Dengan begitu, inovasi tetap berjalan, tetapi risiko sosial tidak dibiarkan mengambang.

Kedaulatan Digital Tak Bisa Setengah-Setengah

Selain soal hukum, ada persoalan lain yang tak kalah sensitif ketergantungan teknologi. Onno W. Purbo mengingatkan bahaya jika negara terlalu bergantung pada satu vendor, satu cloud, atau satu sistem AI dari luar negeri.

Menurutnya, regulasi harus mendorong interoperabilitas dan standar terbuka. Negara juga perlu memastikan sistem AI bisa diaudit, bukan menjadi kotak hitam yang tak tersentuh.

Lebih jauh, Onno menekankan pentingnya data nasional. Data Indonesia, katanya, harus melatih AI Indonesia. Tanpa prinsip ini, kedaulatan digital hanya menjadi slogan kosong.

Jalan Tengah Itu Ada, Tapi Harus Disengaja

Menariknya, para pakar sepakat bahwa regulasi AI ideal bukan yang mematikan kreativitas. Sebaliknya, regulasi seharusnya membangun ekosistem. Gagasan laboratorium uji AI nasional menjadi contoh konkret pendekatan tersebut.

Lewat ruang uji ini, startup, kampus, dan komunitas bisa bereksperimen tanpa langsung dibebani seluruh aturan kepatuhan. Negara belajar dari praktik nyata, sementara inovasi tetap tumbuh.

Akhirnya, semua kembali pada detail kebijakan. Niat baik tidak otomatis melahirkan regulasi yang baik. Desain yang adaptif dan kolaboratif menjadi kunci.

Jadi, Kita di Kubu Mana?

AI tanpa aturan bisa liar. Namun AI dengan aturan berlebihan juga bisa lumpuh. Di antara dua ekstrem itu, pemerintah sedang menarik garis yang akan menentukan masa depan digital Indonesia.

Pertanyaannya sekarang bergeser ke publik. Apakah kita ingin menjadi pengguna pasif teknologi, atau warga yang ikut menentukan bagaimana teknologi bekerja dalam hidup kita?

Karena satu hal sudah pasti AI tidak akan menunggu kita siap. Yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan ia tumbuh sebagai alat publik yang adil, bukan mesin dingin yang tak bertanggung jawab.

Lalu, kamu di kubu mana? @dimas

Tags: algoritmaDigitalEtikainovasiKebijakankedaulatanRegulasi

Kamu Melewatkan Ini

Demonstrasi Mahasiswa: Suara Idealisme atau Efek Algoritma?

Demonstrasi Mahasiswa: Suara Idealisme atau Efek Algoritma?

by dimas
Juni 18, 2026

Aksi demonstrasi mahasiswa kembali menguat di berbagai daerah. Apakah ini murni idealisme atau hasil amplifikasi algoritma media sosial yang membentuk...

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

by Tabooo
Juni 18, 2026

Hoaks tidak hanya menyebarkan informasi palsu. Ia menyerang cara berpikir, memanfaatkan emosi, identitas, dan algoritma yang terus mengulang hal serupa....

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

Next Post
Para Games: Nurfendi Cetak Emas Perdana Sepeda Indonesia

Para Games: Nurfendi Cetak Emas Perdana Sepeda Indonesia

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id