Rabu, Oktober 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perpol 10/2025: Uji Kepatuhan Konstitusional

by dimas
Desember 22, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Coba pikirkan sebuah drama sekolah guru membuat peraturan kelas baru, tapi murid masih menggunakan buku pegangan lama. Situasi ini mirip dengan rencana pemerintah menaikkan Peraturan Kepolisian (Perpol) Nomor 10 Tahun 2025 menjadi Peraturan Pemerintah (PP). Secara administratif, rencana itu terdengar keren “upgrade!” tapi di ranah hukum, pemerintah seolah melompat ke level boss sebelum menyelesaikan tutorial.

Masalah utama bukan sekadar teknis. Pemerintah belum merevisi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian, padahal Mahkamah Konstitusi (MK) sudah menegaskan tafsir final dan mengikat mengenai pembatasan anggota Polri aktif menempati jabatan di luar struktur kepolisian. Masyarakat menilai putusan MK sebagai fondasi hukum yang harus dijadikan pedoman, bukan sekadar hiasan dinding.

MK: Si Pengingat Profesionalisme yang Tegas

MK menekankan bahwa Polri harus menjaga netralitas dan profesionalisme. Dengan kata lain, polisi tidak boleh “main dua kaki” satu di keamanan, satu di pemerintahan sipil. Peraturan itu menjaga keseimbangan kekuasaan dalam demokrasi sekaligus mencegah institusi kepolisian menjadi “superhero” yang merangkap pekerjaan pemerintah.

Namun, kelahiran Perpol 10/2025 yang ingin naik derajat menjadi PP memicu kegelisahan publik. Ketika pemerintah menerbitkan aturan turunan sebelum menyelesaikan revisi undang-undang induk, masyarakat menilai pemerintah membuat aturan dari bawah ke atas, bukan berdasarkan sumber norma resmi undang-undang.

Hirarki Hukum: Bukan Sekadar Formalitas

Dalam tata hukum Indonesia, hirarki peraturan perundang-undangan mencerminkan ketertiban berpikir dalam membangun norma hukum, bukan sekadar urutan formal. Undang-undang lahir dari proses politik dan representasi rakyat, sedangkan PP mengeksekusi undang-undang tersebut. Bila pemerintah menerbitkan PP tanpa pijakan undang-undang yang sejalan dengan putusan MK, PP berpotensi mengubah fungsi pelaksanaan menjadi pembentukan norma baru, seakan-akan MK hanya “opsi tambahan”.

Ini Belum Selesai

Wantimpres: Kebutuhan Negara atau Pemborosan Anggaran?

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Publik khawatir karena regulasi administratif itu membuka ruang tafsir baru yang melemahkan pembatasan MK. Akibatnya, putusan MK yang seharusnya menjadi koreksi konstitusional bisa berakhir sebagai hiasan administratif belaka.

Kepastian Hukum vs Kesetiaan pada Konstitusi

Pendukung Perpol 10/2025 menekankan perlunya kepastian hukum dan kejelasan mekanisme penugasan anggota Polri. Pemerintah memang membutuhkan aturan teknis agar tata kelola berjalan lancar, tetapi kepastian hukum tidak bisa dipisahkan dari kesetiaan pada konstitusi. Kepastian hukum yang dibangun dengan membuka pengecualian justru menimbulkan ketidakpastian baru.

Pertanyaan penting bukan sekadar “Apakah aturan tersedia?” tetapi, “Apakah aturan itu mempertegas pembatasan atau justru mengelola pengecualian?” Dalam konteks putusan MK, pemerintah harus menjaga substansi pembatasan, bukan sekadar tertib administrasi.

Preseden Berbahaya dalam Reformasi Hukum

Praktik pemerintah mendahulukan regulasi turunan sebelum menyelesaikan revisi undang-undang menciptakan preseden yang kurang sehat. Publik menilai pemerintah tampak lebih responsif terhadap kebutuhan jangka pendek institusi, tetapi mengabaikan pembangunan kepastian hukum jangka panjang. Jika pola ini terus berulang, masyarakat bisa memperlakukan putusan MK sebagai rintangan administratif, bukan panduan konstitusional.

MK hadir untuk memastikan seluruh cabang kekuasaan bergerak dalam koridor konstitusi. Dalam konteks Polri institusi strategis dengan kewenangan besar kepatuhan pemerintah terhadap MK menjadi indikator maturitas demokrasi, bukan sekadar formalitas.

Jalan yang Lebih Sejalan dengan Prinsip Negara Hukum

Pemerintah sebaiknya menyelesaikan revisi UU Polri terlebih dahulu, mematuhi putusan MK sepenuhnya, dan baru menyusun PP sebagai aturan pelaksana. Dengan langkah itu, PP benar-benar menjalankan undang-undang, bukan mendahului atau “menyulap” norma. Reformasi Polri tidak cukup diukur dari efektivitas organisasi atau kelancaran administrasi, tetapi dari komitmen terhadap supremasi konstitusi.

Ketika konstitusi berbicara melalui MK, menaati putusan tersebut menjadi ukuran kedewasaan demokrasi. Yang dipertaruhkan bukan hanya satu Perpol atau satu PP, tetapi kredibilitas negara hukum dan penghormatan terhadap putusan konstitusional sebagai fondasi bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. @dimas

Tags: KonstitusiKriminal & HukumNegaraPolriProfesionalismeReformasiRegulasiSupremasitransparansi

Kamu Melewatkan Ini

Polisi Bersama Masyarakat, Mampukah Slogan Jadi Budaya?

Polisi Bersama Masyarakat, Mampukah Slogan Jadi Budaya?

by dimas
Oktober 6, 2026

Polri memperkenalkan tagline “Polisi Bersama Masyarakat” di bawah Kapolri Suyudi Ario Seto. Mampukah slogan itu berubah menjadi budaya pelayanan? Tabooo.id...

Reshuffle Prabowo: Peta Kekuasaan Bergeser, Dari Istana hingga Polri

Reshuffle Prabowo: Peta Kekuasaan Bergeser, Dari Istana hingga Polri

by dimas
Oktober 1, 2026

Reshuffle Prabowo mengubah sejumlah posisi strategis, dari Istana, kementerian, hingga Polri, dengan 18 pejabat baru untuk sisa masa pemerintahan 2024-2029....

Prabowo Kirim Surpres Ganti Kapolri, Era Listyo Sigit Berakhir

Prabowo Kirim Surpres Ganti Kapolri, Era Listyo Sigit Berakhir

by dimas
Oktober 1, 2026

Prabowo mengirim Surpres ke DPR untuk mengganti Kapolri Listyo Sigit dengan Suyudi Ario Seto. Komisi III DPR segera menggelar uji...

Next Post
Konsep Otomatis

Drama OTT Kepala Daerah yang Terus Berulang

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id