Malam itu, Stadion Utama Gelora Bung Karno tidak hanya menjadi lokasi konser Kantata Takwa. Lebih dari seratus ribu orang memenuhi Senayan sambil membawa keresahan yang sulit mereka ucapkan secara terbuka.
Tabooo.id – Di atas panggung, Kantata Takwa menyatukan musik, puisi, teater, dan kemarahan sosial. Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Suryoprayogo, Setiawan Djody, serta W.S. Rendra mengubah pertunjukan menjadi ruang bersama bagi publik yang lelah menelan ketimpangan.
Saat itu, Orde Baru mengajarkan masyarakat untuk berhitung sebelum bicara. Pemerintah mengawasi kritik, membatasi pers, dan mencurigai suara yang terlalu keras. Namun, musik menemukan jalan yang tidak mudah ditutup.
Sebelum Kantata Takwa mengguncang Senayan, SWAMI sudah menyalakan bara itu. Supergrup yang lahir pada 1989 tersebut tidak hanya mempertemukan musisi lintas genre. Mereka juga mempertemukan kegelisahan sosial dengan melodi yang mudah masuk ke kepala publik.
Album SWAMI I melahirkan dua lagu yang kemudian melampaui status lagu populer “Bento” dan “Bongkar”. “Bento” menertawakan watak elite. Sebaliknya, “Bongkar” memanggil publik untuk menolak diam.
Ketika Lagu Mengisi Ruang yang Dikunci Politik
Orde Baru menjual stabilitas sebagai prestasi. Pemerintah membangun jalan, gedung, dan narasi pertumbuhan. Akan tetapi, negara juga mempersempit ruang kritik bagi siapa pun yang menantang kekuasaan.
Pemerintah membatasi kerja pers. Aparat mengawasi kampus dengan ketat. Sementara itu, intimidasi mengincar aktivis yang terus menyuarakan kritik.
Karena itu, banyak orang memilih berbicara lewat bahasa yang tidak selalu terlihat sebagai politik. Musik lalu menjadi kanal alternatif.
Lagu bisa masuk ke radio, kaset, terminal, warung kopi, dan kamar anak muda. Selain itu, lirik dapat bergerak lebih cepat daripada pidato politik. Pendengar tidak perlu hadir dalam rapat untuk memahami pesan yang bersembunyi di balik lagu.
Kantata Takwa dan SWAMI membaca situasi itu dengan tajam. Mereka tidak menulis manifesto politik. Namun, mereka menciptakan lagu yang membuat publik mengenali wajah kekuasaan.
“Bento” menghadirkan sosok kaya, pongah, dan nyaman dalam limpahan harta. Liriknya terdengar sederhana, tetapi maknanya menampar.
“Namaku Bento, rumah real estate, mobilku banyak, harta berlimpah.”
Kalimat itu tidak menyebut nama pejabat. Meski begitu, banyak pendengar langsung menangkap arah sindirannya. Bento menjadi simbol elite yang hidup jauh dari kecemasan rakyat.
Seorang sosiolog politik dapat membaca Bento sebagai figur kelas berkuasa. “Bento bukan sekadar orang kaya dalam lagu. Ia menggambarkan privilese yang tumbuh ketika kekuasaan dan kekayaan saling menjaga,” ujar narasumber tersebut.
Bento dan Jarak yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang
Banyak pendengar menganggap “Bento” sebagai lagu tentang kesombongan. Padahal, Kantata Takwa dan SWAMI membidik persoalan yang lebih dalam jarak sosial.
Bento hidup nyaman karena sistem memberinya akses. Ia punya rumah, mobil, harta, dan rasa aman. Sementara itu, rakyat kecil sering harus berjuang untuk kebutuhan paling dasar.
Pada masa Orde Baru, pemerintah memajang pembangunan sebagai bukti keberhasilan. Namun, di balik angka pertumbuhan, ketimpangan ikut tumbuh. Publik melihat gedung menjulang, tetapi tidak semua orang ikut naik bersama lift pembangunan.
Di sinilah “Bento” bekerja. Lagu itu merusak etalase keberhasilan yang terlalu rapi. Ia mengingatkan publik bahwa kemewahan elite sering berdiri di atas jarak yang tidak terlihat.
Musik membuat kritik terasa dekat. Selain itu, musik membuat kritik sulit ditangkap secara langsung. Negara bisa mengawasi pidato, tetapi negara tidak selalu mudah mengendalikan lagu yang dinyanyikan banyak orang.
Hari ini, Bento masih terasa akrab. Nama tokohnya memang fiktif, tetapi pola sosialnya terus muncul dalam bentuk baru.
Ketika publik melihat kemewahan dipamerkan di tengah biaya hidup yang menekan, lagu itu kembali menemukan makna. Ketika akses ekonomi dan kekuasaan berkumpul pada kelompok yang sama, Bento tidak terdengar seperti tokoh lama. Ia terdengar seperti cermin yang masih tergantung di depan kita.
Bongkar: Ketika Kemarahan Menemukan Irama
Jika “Bento” membongkar watak elite, “Bongkar” mengubah kemarahan menjadi energi bersama. Lagu itu tidak memakai bahasa yang berputar-putar. Ia datang dengan seruan yang langsung menantang.
“Bongkar, bongkar, bongkar.”
Pengulangan itu memberi tenaga pada publik yang merasa keadilan selalu datang terlambat. Karena itu, banyak orang kemudian mengingat “Bongkar” sebagai salah satu lagu yang mengiringi energi perubahan menjelang Reformasi 1998.
Lagu tersebut tentu tidak menjatuhkan rezim sendirian. Namun, ia memberi bahasa bagi kemarahan yang sebelumnya tersebar. Seorang pendengar bisa datang dengan masalah berbeda, lalu menemukan perasaan yang sama ketika lagu itu diputar.
Sebagian pendengar marah karena harga kebutuhan hidup terus menekan. Yang lain muak melihat korupsi seperti siklus tanpa akhir. Di sisi lain, banyak orang lelah menghadapi kekuasaan yang sulit disentuh.
Seorang pengamat budaya mengatakan musik tidak menggantikan kerja politik. “Namun, musik membuat orang sadar bahwa mereka tidak sendirian,” katanya.
Di situlah kekuatan “Bongkar”. Lagu itu tidak menawarkan rumus kebijakan. Sebaliknya, lagu itu memberi keberanian emosional untuk mempertanyakan keadaan yang selama ini dianggap normal.
Kantata Takwa: Ketika Stadion Menjadi Ruang Politik
Kantata Takwa memperbesar energi tersebut. Pada 23/06/1990, proyek kolaborasi itu menggelar konser besar di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Panggung menghadirkan laser, tata artistik besar, dan ornamen kepala rajawali raksasa. Namun, pertunjukan itu tidak berhenti pada kemegahan visual. Ribuan penonton datang untuk mendengar musik, puisi, dan kritik sosial dalam satu ruang.
Kantata Takwa mempertemukan musisi SWAMI dengan W.S. Rendra. Pertemuan itu menyatukan musik populer dan sastra kritis. Karena itu, konser tersebut terasa seperti peristiwa budaya sekaligus peristiwa politik.
Rendra membawa pengalaman panjang menghadapi represi. Karya seperti “Paman Doblang” memuat jejak ketegangan antara seniman dan kekuasaan. Sementara itu, lagu “Kesaksian” dan “Kantata Takwa” memperluas panggung menjadi ruang kesadaran publik.
Konser itu membuktikan bahwa seni selalu mencari jalan ketika ruang formal menutup kritik. Panggung dapat berubah menjadi mimbar. Lirik dapat berubah menjadi pesan bersama. Penonton pun dapat berubah menjadi komunitas keresahan.
Dalbo dan Suara Jenuh yang Tetap Menyala
Setelah SWAMI dan Kantata Takwa, para musisi tersebut kembali berkumpul lewat Dalbo pada 1993. Mereka memilih format yang lebih cair dan membumi. Meski begitu, kritik sosial tetap mengalir dalam karya mereka.
Lagu seperti “Aku Bosan”, “Dunia Binatang”, dan “Hura Hura” membawa nada yang berbeda. Dalbo tidak selalu memakai kemegahan panggung atau puisi yang berat. Namun, mereka tetap menyelipkan sindiran tentang kehidupan sosial yang absurd.
“Aku Bosan” menangkap satu perasaan yang sangat dekat dengan publik lelah. Ketidakadilan yang terus berulang menguras kesabaran publik. Elite yang selalu menemukan jalan keluar memperdalam rasa muak itu. Sementara itu, tuntutan agar rakyat tetap sabar terdengar makin ironis saat masalah terus bertambah.
Karena itu, Dalbo memperlihatkan sisi lain dari kritik sosial. Kritik tidak selalu lahir dari ledakan kemarahan. Kadang, kritik lahir dari kejenuhan yang terlalu lama dipendam.
Orde Baru Berlalu, Polanya Belum Tentu
Indonesia sudah meninggalkan Orde Baru. Namun, pergantian rezim tidak otomatis menghapus pola lama.
Kritik terhadap elite masih sering memicu kecurigaan. Ketimpangan masih menekan banyak keluarga. Kekuasaan juga tetap sulit disentuh ketika ia bertemu modal, jaringan, dan pencitraan.
Bedanya, publik kini memiliki media sosial. Setiap orang bisa memegang mikrofon. Akan tetapi, mikrofon digital juga membawa masalah baru: serangan siber, disinformasi, polarisasi, dan algoritma yang sering mengubur isu penting di bawah hiburan singkat.
Seorang akademisi komunikasi menilai medan kritik memang berubah. “Dulu negara membatasi suara secara langsung. Sekarang, pengalihan isu, polarisasi, dan banjir konten juga bisa melemahkan kritik,” katanya.
Ini bukan sekadar kisah band legendaris. Ini pola tentang seni yang tumbuh ketika kritik sulit bernapas.
SWAMI mengarsipkan kemarahan publik melalui lagu. Kantata Takwa mengubah stadion menjadi ruang pertemuan keresahan. Dalbo lalu menunjukkan bahwa kejenuhan sosial pun bisa menjadi bahan bakar kritik.
Negara boleh berganti. Namun, Bento selalu menemukan cara untuk punya rumah besar.
Ketika “Bongkar” kembali diputar hari ini, publik perlu bertanya apakah kita hanya sedang bernostalgia? Atau kita sebenarnya sedang mendengar masalah lama yang belum selesai?. @teguh







