Perempuan Papua berdiri di tengah pegunungan yang sunyi, membawa cerita yang tak lagi tentang kampung halaman, melainkan tentang ruang hidup yang perlahan berubah menjadi ruang ketakutan. Sebab, kematian dua perempuan di Distrik Omukia, Kabupaten Puncak, kembali membuka luka lama tentang bagaimana konflik bersenjata terus merenggut tubuh dan masa depan perempuan Papua.
Tabooo.id – Dua perempuan, Tarling Wanimbo (20) dan Naina Murib (31), ditemukan tewas di kebun pada awal Mei 2026. Namun peristiwa ini tidak berhenti sebagai tragedi biasa. Dugaan adanya bahan peledak pada jenazah Tarling yang melukai warga saat proses evakuasi justru memperluas makna peristiwa ini menjadi simbol meningkatnya eskalasi kekerasan di Papua Tengah.
Seiring waktu, perempuan Papua kembali berada dalam posisi paling rentan di tengah konflik yang terus bergerak tanpa kendali. Ruang yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan kebun dan tanah adat perlahan kehilangan fungsi amannya. Akibatnya, kehidupan sehari-hari berubah menjadi serangkaian kewaspadaan yang tak pernah selesai.
“Kenapa Tuhan menciptakan kami perempuan Papua untuk melahirkan, tapi justru dibunuh?”
Kalimat itu tidak sekadar ratapan. Sebaliknya, ia muncul sebagai luapan keputusasaan dari ruang hidup yang semakin menyempit. Di tengah konflik bersenjata yang terus berlangsung, perempuan tidak hanya menyaksikan kekerasan, tetapi juga mengalaminya secara langsung.
Ketika Kebun Tidak Lagi Memberi Perlindungan
Di banyak wilayah pegunungan Papua, kebun selama ini menjadi pusat kehidupan. Namun, situasi tersebut berubah drastis ketika konflik mulai masuk ke ruang-ruang yang sebelumnya dianggap aman.
Warga menemukan Tarling Wanimbo dan Naina Murib sudah tidak bernyawa di kebun Distrik Omukia. Awalnya, peristiwa ini dibaca sebagai bagian dari kekerasan yang terus berulang. Akan tetapi, situasi berubah ketika warga menduga adanya bahan peledak di tubuh Tarling.
Saat proses evakuasi berlangsung, ledakan terjadi dan melukai tujuh orang. Dengan demikian, peristiwa ini tidak hanya menciptakan korban jiwa, tetapi juga memperluas trauma di tengah masyarakat yang sudah berada dalam tekanan panjang.
Ruang Hidup yang Terus Menyusut
Di Pegunungan Tengah Papua, perempuan memegang peran penting dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga. Mereka mengelola kebun, mengurus pangan, dan memastikan kehidupan tetap berjalan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ruang gerak itu semakin terbatas.
Esther Haluk dari Gereja Kingmi Papua menggambarkan perubahan tersebut sebagai kondisi yang perlahan menekan kehidupan sehari-hari perempuan. Ia menjelaskan bahwa perempuan kini tidak lagi bisa pergi ke kebun secara mandiri. Mereka harus bergerak bersama laki-laki, dan tanpa itu mereka memilih tidak pergi sama sekali.
“Bagaimana anak-anak bisa makan kalau ibu tidak bisa ke kebun?” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa persoalan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga menyentuh fondasi paling dasar kehidupan: akses terhadap pangan. Akibatnya, ketakutan perlahan menggeser aktivitas yang sebelumnya dianggap normal.
Tubuh Perempuan dalam Lanskap Kekerasan
Sementara itu, para pembela hak perempuan menilai bahwa konflik di Papua tidak berhenti pada ruang publik. Kekerasan juga menembus ruang paling intim, yaitu tubuh perempuan.
Yokbeth Felle dari Aneta Papua menegaskan bahwa tubuh perempuan Papua telah berubah menjadi “medan koloni” dalam dinamika kekuasaan dan konflik yang berlangsung lama.
Di beberapa lokasi pengungsian, perempuan menghadapi situasi yang sangat terbatas. Mereka melahirkan di tengah hutan tanpa dukungan medis, tanpa sanitasi, dan tanpa perlindungan yang layak. Kondisi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya menghancurkan ruang fisik, tetapi juga mengganggu proses paling dasar kehidupan manusia.
Ribuan Pengungsi dan Pola yang Terus Berulang
Hingga tahun 2026, sekitar 85.000 warga Papua tercatat sebagai pengungsi internal. Mereka meninggalkan kampung bukan karena bencana alam, tetapi karena konflik bersenjata yang terus berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Di sisi lain, kehadiran aparat bersenjata di sejumlah daerah justru memperkuat rasa takut di masyarakat sipil. Oleh karena itu, banyak warga memilih meninggalkan rumah mereka meskipun tanpa kepastian tujuan.
Mutiara Ika Pratiwi dari Perempuan Mahardhika menilai kondisi ini sebagai bentuk kekerasan yang sering kali tertutupi oleh narasi keamanan. Akibatnya, dampak terhadap warga sipil tidak selalu terlihat dalam ruang publik nasional.
Sementara itu, gelombang pengungsian terus terjadi. Anak-anak ikut bergerak tanpa memahami sepenuhnya alasan mereka meninggalkan rumah.
Bantuan yang Terhambat di Tengah Krisis
Di tengah situasi yang terus memburuk, bantuan kemanusiaan tidak selalu dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.
Gispa Ferdinanda dari Sahabat Perempuan Papua menjelaskan bahwa akses ke wilayah konflik sering kali tertutup atau sangat terbatas. Kondisi ini membuat distribusi kebutuhan dasar seperti makanan bayi, pembalut, dan layanan kesehatan psikologis menjadi tidak stabil.
Selain itu, sebagian pihak yang berupaya menyalurkan bantuan kerap menghadapi kecurigaan di lapangan. Akibatnya, sejumlah wilayah semakin terisolasi, baik secara geografis maupun informasi.
Dengan demikian, krisis tidak hanya berlangsung di medan konflik, tetapi juga di ruang-ruang yang kehilangan akses terhadap bantuan.
Lebih dari Konflik: Kehidupan yang Bertahan
Di balik seluruh laporan dan angka, kehidupan tetap berjalan dalam kondisi yang tidak normal.
Perempuan Papua tidak menuntut hal yang berlebihan. Mereka hanya ingin kembali ke kebun tanpa rasa takut, mereka ingin anak-anak mereka mendapatkan makanan dengan tenang, mereka juga ingin menjalani proses kehidupan tanpa harus bersembunyi di hutan.
Namun realitas menunjukkan hal sebaliknya. Konflik telah mengubah kehidupan sehari-hari menjadi upaya bertahan hidup yang terus berulang.
Twist: Ini Bukan Sekadar Konflik
Pada akhirnya, peristiwa ini tidak berdiri sebagai kasus tunggal.
Ini adalah pola.
Ruang hidup perempuan menyempit sedikit demi sedikit, seiring konflik yang terus bergerak tanpa jeda. Dalam situasi yang sama, tubuh perempuan menjadi titik paling rentan dalam pusaran kekerasan yang berkepanjangan. Akibatnya, ketakutan tidak lagi hadir sebagai respons sesaat, melainkan berubah menjadi rutinitas yang perlahan dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari.
Human Impact
Jika perempuan tidak lagi dapat mengakses kebun, maka siapa yang memastikan anak-anak tetap makan hari ini?
Jika tanah yang dahulu menjadi sumber kehidupan berubah menjadi ruang berbahaya, lalu di mana masa depan akan bertumbuh?
Papua tidak hanya hadir sebagai wilayah konflik dalam peta. Sebaliknya, ia adalah ruang hidup yang perlahan kehilangan penghuninya dalam keheningan yang panjang.
Penutup
Pada dasarnya, perempuan Papua tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin hidup tanpa rasa takut.
Namun, di tengah konflik yang terus berlangsung, bahkan keinginan paling sederhana pun terasa semakin jauh dari jangkauan.
Lalu, sampai kapan tubuh perempuan harus terus menjadi saksi paling sunyi dari perang yang tidak pernah mereka pilih? @dimas





