Tabooo.id: Global – Negara-negara di kawasan Teluk Persia kini berpacu dengan waktu untuk menahan gelombang serangan drone dan rudal dari Iran. Dalam tiga hari terakhir, intensitas serangan meningkat tajam dan memaksa sistem pertahanan udara bekerja tanpa jeda.
Uni Emirat Arab melaporkan 174 rudal balistik, delapan rudal jelajah, dan 689 drone menghantam wilayahnya pada Senin (2/3/2026) malam. Bahrain mencatat 70 rudal balistik memasuki wilayahnya. Sementara itu, drone Iran menyerang Kedutaan Besar AS di Kuwait dan menyasar pembangkit listrik utama serta fasilitas LNG di Qatar.
Meski sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat mampu mencegat sebagian besar proyektil, para pejabat kawasan mulai mengkhawatirkan satu hal mendasar: berapa lama stok rudal pencegat mampu bertahan?
Perang Amunisi: Siapa Kehabisan Lebih Dulu?
Secara teknis, militer membutuhkan dua hingga tiga rudal pencegat seperti Patriot atau THAAD untuk melumpuhkan satu rudal balistik. Artinya, setiap gelombang serangan langsung menguras persediaan dalam jumlah besar.
Pakar rudal dari Universitas Oslo, Fabian Hoffmann, menilai intensitas penggunaan saat ini sulit dipertahankan lebih dari beberapa hari. Jika tempo serangan tidak menurun, negara-negara Teluk bisa merasakan dampak kekurangan amunisi dalam waktu singkat.
Data sumber terbuka menunjukkan kesenjangan stok yang mencolok. Hoffmann memperkirakan Uni Emirat Arab memesan kurang dari 1.000 rudal pencegat, Kuwait sekitar 500 unit, dan Bahrain kurang dari 100 unit. Di sisi lain, pejabat Barat memperkirakan Iran memiliki lebih dari 2.000 rudal yang mampu menjangkau kawasan Teluk.
Artinya, konflik ini bukan sekadar adu teknologi, tetapi juga adu logistik. Siapa yang lebih dulu kehabisan amunisi, dialah yang akan membuka celah.
Bantahan Resmi dan Realitas di Lapangan
Pemerintah Uni Emirat Arab membantah kekhawatiran tersebut. Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan bahwa mereka memiliki sistem pertahanan berlapis dan cadangan amunisi strategis yang kuat. Qatar juga menyatakan inventaris Patriot mereka masih mencukupi.
Namun di Washington, Pentagon menghadapi persoalan berbeda. Amerika Serikat telah mengalokasikan banyak rudal Patriot untuk membantu Ukraina menghadapi Rusia. Kondisi itu menekan kapasitas produksi dan memperlambat pengisian ulang stok sekutu di Timur Tengah.
Dengan demikian, negara-negara Teluk tidak hanya bergantung pada sistem pertahanan canggih, tetapi juga pada rantai pasok global yang semakin terbatas.
Dilema Taktik dan Risiko Ekonomi
Peneliti Center for a New American Security, Becca Wasser, memprediksi militer Teluk akan mengubah taktik. Mereka kemungkinan menggunakan pencegat hanya untuk target bernilai tinggi seperti rudal balistik, sementara beberapa drone murah mungkin dibiarkan lolos.
Langkah ini memang rasional secara militer. Namun secara ekonomi, risikonya besar. Negara-negara Teluk menjual stabilitas sebagai daya tarik utama investasi dan pariwisata. Jika drone murah mampu menembus pertahanan dan menghantam fasilitas sipil atau energi, citra stabilitas itu bisa runtuh dalam hitungan jam.
Analis keamanan Israel, Michael Horowitz, bahkan menilai drone justru lebih berbahaya dalam jangka panjang. Drone Shahed milik Iran berbiaya rendah, mudah diproduksi, dan efektif menyerang instalasi energi yang mudah terbakar. Satu serangan presisi ke kilang minyak atau terminal LNG dapat mengguncang pasar energi global.
Siapa yang Paling Terdampak?
Yang paling terdampak bukan hanya militer. Pekerja sektor energi, investor, dan jutaan warga yang bergantung pada stabilitas harga minyak akan merasakan efek langsung. Jika fasilitas energi terganggu, harga minyak dan gas berpotensi melonjak. Dampaknya merambat ke inflasi global, termasuk negara-negara berkembang yang masih berjuang memulihkan ekonomi.
Selain itu, industri pariwisata dan properti di Teluk yang selama ini mengandalkan rasa aman juga berada di bawah bayang-bayang risiko. Satu kebocoran keamanan dapat menggerus kepercayaan pasar yang dibangun bertahun-tahun.
Konflik ini pada akhirnya bukan hanya soal rudal dan drone. Ia berubah menjadi pertarungan daya tahan ekonomi dan logistik. Pertanyaannya kini sederhana namun krusial: siapa yang lebih dulu kehabisan napas gudang amunisi atau kesabaran pasar? @dimas




