• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Negara Rayakan Pertumbuhan, Buruh Kehilangan Kepastian

Maret 4, 2026
in Deep
A A
Negara Rayakan Pertumbuhan, Buruh Kehilangan Kepastian

Ilustrasi tentang paradoks ekonomi: kota tumbuh, pekerja terduduk di puing PHK, simbol lapangan kerja formal yang kian menyusut. (Foto ilustrasi Tabooo.id/Dimas P)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – “Ekonomi kita baik-baik saja.” Kalimat itu sering meluncur dari podium resmi, lengkap dengan grafik menanjak dan tepuk tangan sopan. Namun di halte TransJakarta yang penuh sesak, di ruang kerja freelancer tanpa kontrak tetap, atau di kos-kosan sempit pinggir kota, kalimat itu terdengar seperti lelucon yang terlalu mahal untuk ditertawakan.

Raka, 29 tahun, lulusan universitas negeri ternama, bekerja sebagai analis lepas. Ia menyelesaikan proyek demi proyek tanpa jaminan bulan depan. Ia tidak memiliki asuransi kantor, tidak menerima tunjangan tetap, dan tidak pernah tahu kapan klien berikutnya datang.

“Katanya ekonomi tumbuh, Tapi kenapa hidup rasanya makin goyah?” ujarnya.

Pertanyaan itu bukan keluhan individual. Ia mencerminkan paradoks besar yang kini menghantui banyak negara berkembang: pertumbuhan tetap berjalan, tetapi kualitas pekerjaan merosot.

Ekonom sekaligus mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri mengangkat fenomena ini dalam kuliah umum bertajuk Why Development Becomes Harder: The Political Economy of the Possible yang ditayangkan oleh Harvard Center for International Development. Ia tidak sekadar memamerkan data. Ia menantang asumsi lama bahwa pertumbuhan otomatis membawa rasa aman.

Pertumbuhan yang Kehilangan Tenaga Kerja Tetap

Satu dekade lalu, ekspansi ekonomi masih mendorong pembukaan pabrik dan perekrutan karyawan tetap. Perusahaan memperluas lini produksi, lalu menyerap tenaga kerja formal dengan kontrak jelas dan perlindungan sosial.

Kini pola itu berubah. Banyak negara tetap mencatat pertumbuhan PDB yang positif, tetapi sektor formal tidak lagi menyerap tenaga kerja dalam skala besar. Sebaliknya, pekerjaan baru bermunculan di sektor informal: pengemudi aplikasi, pekerja lepas digital, pedagang kecil, atau kontrak jangka pendek tanpa kepastian.

Perubahan ini bukan sekadar pergeseran statistik. Ia mengubah fondasi rasa aman masyarakat. Pekerjaan formal memberi stabilitas pendapatan, akses kredit, serta peluang naik kelas. Sebaliknya, sektor informal memaksa pekerja hidup dari satu order ke order berikutnya.

Ekonomi memang bergerak maju. Akan tetapi, jutaan pekerja merasa seperti berjalan di atas pasir yang terus bergeser.

Siapa yang Menuai Manfaat?

Transformasi ini tidak terjadi secara kebetulan. Digitalisasi dan efisiensi produksi memungkinkan perusahaan meningkatkan output tanpa memperluas tenaga kerja. Pemilik modal menikmati kenaikan produktivitas, sementara kebutuhan akan karyawan tetap menyusut.

Pada saat yang sama, banyak negara berkembang menghadapi gejala premature deindustrialization. Ekonom pembangunan Dani Rodrik menjelaskan fenomena ini sebagai melemahnya sektor manufaktur sebelum negara mencapai tingkat pendapatan tinggi. Padahal selama puluhan tahun, manufaktur berfungsi sebagai mesin pencipta kelas menengah.

Ketika mesin itu melambat, tangga mobilitas sosial ikut goyah. Tanpa manufaktur yang kuat, negara kesulitan menyediakan pekerjaan produktif dalam jumlah besar. Sektor jasa memang tumbuh, tetapi tidak selalu menghadirkan solusi.

Kelas Menengah yang Rapuh

Di atas kertas, banyak orang telah keluar dari kemiskinan. Namun sebagian dari mereka kini masuk kategori fragile middle class kelas menengah yang rapuh. Mereka berada sedikit di atas garis kemiskinan, tetapi satu guncangan saja bisa menjatuhkan mereka kembali.

Kelompok ini jarang menerima bantuan sosial. Negara menilai mereka sudah mapan. Kenyataannya, mereka tetap membayar cicilan rumah, biaya sekolah anak, premi asuransi, dan pajak. Ketika krisis datang, bantalan pengaman mereka tipis.

Tekanan itu melahirkan kecemasan kolektif. Berbeda dengan kelompok miskin, kelas menengah memiliki pendidikan lebih tinggi dan akses informasi lebih luas. Mereka memahami haknya dan berani mempertanyakan kebijakan. Jika pemerintah gagal memenuhi harapan, kekecewaan mudah tumbuh.

Di negara yang mengaku demokratis, rasa kecewa kelas menengah sering menjadi bara yang menunggu angin.

Pengangguran Terdidik: Gelar yang Menunggu

Paradoks lain muncul pada tingkat pengangguran. Di banyak negara, lulusan perguruan tinggi justru mencatat tingkat pengangguran lebih tinggi dibanding lulusan pendidikan rendah.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep reservation wage tingkat upah minimum yang bersedia diterima seseorang. Lulusan universitas cenderung menolak pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian atau ekspektasi mereka. Mereka memilih menunggu peluang yang lebih layak.

Sebaliknya, pekerja berpendidikan rendah jarang memiliki ruang untuk menunda. Mereka menerima hampir semua pekerjaan demi bertahan hidup. “Bagi sebagian masyarakat miskin, pengangguran adalah kemewahan,” kata Chatib.

Ironinya, negara terus mendorong pendidikan tinggi sebagai jalan keluar kemiskinan. Orang tua menjual aset demi biaya kuliah anak. Namun pasar kerja tidak menyediakan cukup posisi formal untuk menampung para sarjana itu. Gelar berubah menjadi tiket antrean panjang, bukan jaminan mobilitas.

Sektor Jasa: Penyelamat yang Terbatas

Sebagian pihak menaruh harapan pada sektor jasa. Kenyataannya, jasa berbasis teknologi tinggi memang produktif, tetapi menyerap tenaga kerja terbatas. Di sisi lain, jasa berproduktivitas rendah menyerap banyak pekerja, namun menawarkan upah minim.

Struktur ini menciptakan polarisasi. Segelintir pekerja menikmati pendapatan tinggi, sementara mayoritas bergulat dengan penghasilan pas-pasan. Ketimpangan tidak selalu meledak dalam protes, tetapi ia merayap pelan dan menggerogoti rasa percaya.

Politik Angka dan Risiko Sosial

Pemerintah sering merayakan angka pertumbuhan karena angka mudah dipahami dan mudah dijual. Grafik yang naik memberi kesan stabilitas. Namun kualitas pertumbuhan apakah ia menciptakan pekerjaan aman dan produktif lebih sulit diukur dan lebih sulit diwujudkan.

RelatedPosts

Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

Ogoh-Ogoh: Saat Manusia Mengarak Ketakutannya Sendiri di Tengah Jalan

Ketika pertumbuhan gagal menghadirkan pekerjaan bermartabat dalam jumlah besar, legitimasi politik ikut terancam. Ketidakpuasan sosial tidak selalu muncul dalam bentuk demonstrasi. Kadang ia hadir sebagai sinisme, apatisme, atau penolakan diam-diam terhadap institusi.

Ekonomi bisa tumbuh lima persen. Akan tetapi, jika mayoritas warga tetap merasa satu langkah dari jurang kemiskinan, stabilitas itu rapuh.

Refleksi Tabooo: Menggugat Ilusi Stabilitas

Tabooo melihat persoalan ini sebagai ironi pembangunan modern. Negara membanggakan pertumbuhan, tetapi pekerja meragukan masa depan. Pemerintah berbicara tentang investasi, sementara lulusan baru berbicara tentang kontrak tiga bulan.

Solusinya tidak cukup dengan mengejar angka PDB lebih tinggi. Pemerintah perlu mendorong investasi yang menyerap tenaga kerja produktif dalam skala besar, memperkuat sektor manufaktur bernilai tambah, dan merancang perlindungan sosial yang relevan bagi pekerja nonformal.

Tanpa langkah itu, pertumbuhan hanya menjadi dekorasi statistik.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun mengusik apakah kita membangun ekonomi untuk manusia, atau memaksa manusia terus menyesuaikan diri dengan ekonomi yang kian tak peduli?

Di negeri yang memuja grafik menanjak, mungkin keberanian terbesar adalah mengakui bahwa di balik garis hijau itu, ada jutaan orang yang masih berjuang menjaga pijakan. @dimas

Tags: BerkualitasDeindustrializationEkonomiFragile Middle ClassIndonesiaKelasLapangan KerjaMenengahNasionalPembangunanPengangguranPertumbuhanPolitikPrematurerapuhTerdidik
Next Post
Iran dan Selat Hormuz: Drama Maritim yang Bisa Bikin Harga Minyak Ngamuk

Iran dan Selat Hormuz: Drama Maritim yang Bisa Bikin Harga Minyak Ngamuk

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

5 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mudik Berujung Duka: Satu Keluarga Tewas di Tol Pemalang-Batang, Balita Kritis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.