Selasa, Mei 5, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Negara Rayakan Pertumbuhan, Buruh Kehilangan Kepastian

by dimas
Maret 4, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – “Ekonomi kita baik-baik saja.” Kalimat itu sering meluncur dari podium resmi, lengkap dengan grafik menanjak dan tepuk tangan sopan. Namun di halte TransJakarta yang penuh sesak, di ruang kerja freelancer tanpa kontrak tetap, atau di kos-kosan sempit pinggir kota, kalimat itu terdengar seperti lelucon yang terlalu mahal untuk ditertawakan.

Raka, 29 tahun, lulusan universitas negeri ternama, bekerja sebagai analis lepas. Ia menyelesaikan proyek demi proyek tanpa jaminan bulan depan. Ia tidak memiliki asuransi kantor, tidak menerima tunjangan tetap, dan tidak pernah tahu kapan klien berikutnya datang.

“Katanya ekonomi tumbuh, Tapi kenapa hidup rasanya makin goyah?” ujarnya.

Pertanyaan itu bukan keluhan individual. Ia mencerminkan paradoks besar yang kini menghantui banyak negara berkembang: pertumbuhan tetap berjalan, tetapi kualitas pekerjaan merosot.

Ekonom sekaligus mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri mengangkat fenomena ini dalam kuliah umum bertajuk Why Development Becomes Harder: The Political Economy of the Possible yang ditayangkan oleh Harvard Center for International Development. Ia tidak sekadar memamerkan data. Ia menantang asumsi lama bahwa pertumbuhan otomatis membawa rasa aman.

Ini Belum Selesai

Hari Kebebasan Pers Sedunia: Benarkah Pers Indonesia Sudah Merdeka?

Dari Gudang ke Global: Perjalanan Sunyi Virus Hanta

Pertumbuhan yang Kehilangan Tenaga Kerja Tetap

Satu dekade lalu, ekspansi ekonomi masih mendorong pembukaan pabrik dan perekrutan karyawan tetap. Perusahaan memperluas lini produksi, lalu menyerap tenaga kerja formal dengan kontrak jelas dan perlindungan sosial.

Kini pola itu berubah. Banyak negara tetap mencatat pertumbuhan PDB yang positif, tetapi sektor formal tidak lagi menyerap tenaga kerja dalam skala besar. Sebaliknya, pekerjaan baru bermunculan di sektor informal: pengemudi aplikasi, pekerja lepas digital, pedagang kecil, atau kontrak jangka pendek tanpa kepastian.

Perubahan ini bukan sekadar pergeseran statistik. Ia mengubah fondasi rasa aman masyarakat. Pekerjaan formal memberi stabilitas pendapatan, akses kredit, serta peluang naik kelas. Sebaliknya, sektor informal memaksa pekerja hidup dari satu order ke order berikutnya.

Ekonomi memang bergerak maju. Akan tetapi, jutaan pekerja merasa seperti berjalan di atas pasir yang terus bergeser.

Siapa yang Menuai Manfaat?

Transformasi ini tidak terjadi secara kebetulan. Digitalisasi dan efisiensi produksi memungkinkan perusahaan meningkatkan output tanpa memperluas tenaga kerja. Pemilik modal menikmati kenaikan produktivitas, sementara kebutuhan akan karyawan tetap menyusut.

Pada saat yang sama, banyak negara berkembang menghadapi gejala premature deindustrialization. Ekonom pembangunan Dani Rodrik menjelaskan fenomena ini sebagai melemahnya sektor manufaktur sebelum negara mencapai tingkat pendapatan tinggi. Padahal selama puluhan tahun, manufaktur berfungsi sebagai mesin pencipta kelas menengah.

Ketika mesin itu melambat, tangga mobilitas sosial ikut goyah. Tanpa manufaktur yang kuat, negara kesulitan menyediakan pekerjaan produktif dalam jumlah besar. Sektor jasa memang tumbuh, tetapi tidak selalu menghadirkan solusi.

Kelas Menengah yang Rapuh

Di atas kertas, banyak orang telah keluar dari kemiskinan. Namun sebagian dari mereka kini masuk kategori fragile middle class kelas menengah yang rapuh. Mereka berada sedikit di atas garis kemiskinan, tetapi satu guncangan saja bisa menjatuhkan mereka kembali.

Kelompok ini jarang menerima bantuan sosial. Negara menilai mereka sudah mapan. Kenyataannya, mereka tetap membayar cicilan rumah, biaya sekolah anak, premi asuransi, dan pajak. Ketika krisis datang, bantalan pengaman mereka tipis.

Tekanan itu melahirkan kecemasan kolektif. Berbeda dengan kelompok miskin, kelas menengah memiliki pendidikan lebih tinggi dan akses informasi lebih luas. Mereka memahami haknya dan berani mempertanyakan kebijakan. Jika pemerintah gagal memenuhi harapan, kekecewaan mudah tumbuh.

Di negara yang mengaku demokratis, rasa kecewa kelas menengah sering menjadi bara yang menunggu angin.

Pengangguran Terdidik: Gelar yang Menunggu

Paradoks lain muncul pada tingkat pengangguran. Di banyak negara, lulusan perguruan tinggi justru mencatat tingkat pengangguran lebih tinggi dibanding lulusan pendidikan rendah.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep reservation wage tingkat upah minimum yang bersedia diterima seseorang. Lulusan universitas cenderung menolak pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian atau ekspektasi mereka. Mereka memilih menunggu peluang yang lebih layak.

Sebaliknya, pekerja berpendidikan rendah jarang memiliki ruang untuk menunda. Mereka menerima hampir semua pekerjaan demi bertahan hidup. “Bagi sebagian masyarakat miskin, pengangguran adalah kemewahan,” kata Chatib.

Ironinya, negara terus mendorong pendidikan tinggi sebagai jalan keluar kemiskinan. Orang tua menjual aset demi biaya kuliah anak. Namun pasar kerja tidak menyediakan cukup posisi formal untuk menampung para sarjana itu. Gelar berubah menjadi tiket antrean panjang, bukan jaminan mobilitas.

Sektor Jasa: Penyelamat yang Terbatas

Sebagian pihak menaruh harapan pada sektor jasa. Kenyataannya, jasa berbasis teknologi tinggi memang produktif, tetapi menyerap tenaga kerja terbatas. Di sisi lain, jasa berproduktivitas rendah menyerap banyak pekerja, namun menawarkan upah minim.

Struktur ini menciptakan polarisasi. Segelintir pekerja menikmati pendapatan tinggi, sementara mayoritas bergulat dengan penghasilan pas-pasan. Ketimpangan tidak selalu meledak dalam protes, tetapi ia merayap pelan dan menggerogoti rasa percaya.

Politik Angka dan Risiko Sosial

Pemerintah sering merayakan angka pertumbuhan karena angka mudah dipahami dan mudah dijual. Grafik yang naik memberi kesan stabilitas. Namun kualitas pertumbuhan apakah ia menciptakan pekerjaan aman dan produktif lebih sulit diukur dan lebih sulit diwujudkan.

Ketika pertumbuhan gagal menghadirkan pekerjaan bermartabat dalam jumlah besar, legitimasi politik ikut terancam. Ketidakpuasan sosial tidak selalu muncul dalam bentuk demonstrasi. Kadang ia hadir sebagai sinisme, apatisme, atau penolakan diam-diam terhadap institusi.

Ekonomi bisa tumbuh lima persen. Akan tetapi, jika mayoritas warga tetap merasa satu langkah dari jurang kemiskinan, stabilitas itu rapuh.

Refleksi Tabooo: Menggugat Ilusi Stabilitas

Tabooo melihat persoalan ini sebagai ironi pembangunan modern. Negara membanggakan pertumbuhan, tetapi pekerja meragukan masa depan. Pemerintah berbicara tentang investasi, sementara lulusan baru berbicara tentang kontrak tiga bulan.

Solusinya tidak cukup dengan mengejar angka PDB lebih tinggi. Pemerintah perlu mendorong investasi yang menyerap tenaga kerja produktif dalam skala besar, memperkuat sektor manufaktur bernilai tambah, dan merancang perlindungan sosial yang relevan bagi pekerja nonformal.

Tanpa langkah itu, pertumbuhan hanya menjadi dekorasi statistik.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun mengusik apakah kita membangun ekonomi untuk manusia, atau memaksa manusia terus menyesuaikan diri dengan ekonomi yang kian tak peduli?

Di negeri yang memuja grafik menanjak, mungkin keberanian terbesar adalah mengakui bahwa di balik garis hijau itu, ada jutaan orang yang masih berjuang menjaga pijakan. @dimas

Tags: EkonomiIndonesiaKelasNasionalPembangunanPertumbuhanPolitik

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Celurit Naik Kelas: Dari Ladang Madura ke Layar Hollywood

Ketika Celurit Naik Kelas: Dari Ladang Madura ke Layar Hollywood

by teguh
Mei 5, 2026

Awalnya terlihat biasa. Namun, saat kamu perhatikan lebih lama, frame itu terasa janggal. Joe Taslim berdiri rapi, tenang, dan percaya...

Mortal Kombat 2: Noob Saibot Bawa Celurit ke Panggung Dunia

Mortal Kombat 2: Noob Saibot Bawa Celurit ke Panggung Dunia

by teguh
Mei 5, 2026

Film Mortal Kombat 2 kembali memanaskan layar lebar global. Tapi kali ini, bukan cuma soal pertarungan brutal antar dimensi. Ada...

Bali Tidak Kotor, Kita yang Menunda Masalah Sampai Jadi Gunung

Gunung Sampah di Bali: Surga Wisata yang Diam-Diam Tenggelam oleh Limbah?

by dimas
Mei 5, 2026

Sampah Bali kini tak lagi sekadar persoalan kebersihan kota, melainkan sinyal krisis pengelolaan destinasi wisata. Lonjakan volume limbah dari rumah...

Next Post
Iran dan Selat Hormuz: Drama Maritim yang Bisa Bikin Harga Minyak Ngamuk

Iran dan Selat Hormuz: Drama Maritim yang Bisa Bikin Harga Minyak Ngamuk

Pilihan Tabooo

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Mei 3, 2026

Realita Hari Ini

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Mei 5, 2026

Jurnalis di Papua Terus Diteror, Kebebasan Pers Masih Sekadar Janji?

Mei 5, 2026

Virus Langka Pecah di Laut: 3 Tewas, Dunia Mulai Khawatir

Mei 5, 2026

Saat Dunia Guncang, Barito Pacific Justru Tancap Gas 200% Lebih

Mei 5, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id