Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Nasi Jemblung, Warisan Raja Solo yang Kembali Populer

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Food
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak kamu lagi scroll media sosial, lalu berhenti karena melihat nasi dengan lubang di tengahnya? Bukan donat nasi. Bukan juga eksperimen dapur anak kos. Itu Nasi Jemblung kuliner klasik asal Solo yang kini mulai mencuri perhatian generasi Z dan Milenial. Lucunya, makanan yang dulu jadi favorit raja sekarang pelan-pelan naik kelas jadi konten Instagram.

Iya, serius. Dari meja bangsawan ke feed medsos.

Kuliner Favorit Pakubuwono X

Nasi Jemblung bukan makanan sembarangan. Konon, hidangan ini menjadi favorit Pakubuwono X, salah satu raja besar Keraton Surakarta Hadiningrat. Sejak awal, Nasi Jemblung sudah membawa status sosial sebagai kuliner elite, bukan menu harian rakyat biasa.

Bentuknya ikonik. Nasi dicetak melingkar dengan lubang di tengah asal mula nama “jemblung”. Lubang itu kemudian diisi bistik atau semur lidah sapi yang dimasak sampai empuk. Aromanya keluar dari campuran pala, cengkeh, dan saus kenari. Rasanya manis dan gurih, khas Jawa, dengan sentuhan Eropa yang samar.

Cara makannya pun punya aturan sendiri. Kamu harus membelah nasi menjadi dua, lalu menyantapnya perlahan sambil menyiram semur dari bagian tengah. Tidak bisa asal suap. Ada ritme, ada etika kecil.

Ini Belum Selesai

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

GTA 6 Habiskan Rp 26 Triliun, Ini Game atau Negara Kecil?

Meski mendapat pengaruh kuliner Belanda, Nasi Jemblung tetap menjaga akar Jawa. Sambal bawang, lalapan mentimun dan tomat, plus kerupuk selalu menemani sajian ini.

Dari Kuliner Keraton ke Tren Anak Kota

Di era berburu hidden gem dan makanan otentik, Nasi Jemblung terasa relevan lagi. Banyak anak muda kini tidak sekadar mencari rasa, tapi juga cerita. Mereka ingin tahu asal-usul makanan, filosofi di baliknya, bahkan siapa yang dulu menikmatinya.

Fenomena ini sejalan dengan tren kebangkitan kuliner tradisional. Gen Z dan Milenial hari ini tidak cuma makan. Mereka ingin terkoneksi dengan masa lalu.

Ada faktor psikologis di balik itu. Di tengah burnout kerja, tekanan sosial, dan hidup serba cepat, banyak orang mencari kenyamanan lewat hal-hal yang berakar. Makanan tradisional memberi rasa aman. Ia menghadirkan nostalgia kolektif, meski kita sendiri tidak hidup di zamannya Pakubuwono X.

Nasi Jemblung pun berubah jadi comfort food bersejarah. Ia tidak cuma mengenyangkan perut, tapi juga memberi sensasi pulang. Ditambah tampilannya yang unik, hidangan ini terasa seperti memang diciptakan untuk kamera.

Lebih dari Sekadar Makan, Ini Soal Identitas

Kebangkitan Nasi Jemblung juga bicara soal identitas. Banyak anak muda kota besar merasa jauh dari akar budaya. Hidup di apartemen, kerja remote, makan serba pesan online. Ketika mereka sengaja mencari makanan tradisional, itu bukan sekadar lapar. Itu usaha kecil untuk menyentuh kembali akar.

Ironisnya, di Solo sendiri Nasi Jemblung belum mudah ditemukan. Biasanya hidangan ini muncul dalam acara adat atau perayaan keagamaan. Beberapa restoran memang masih menyajikannya, tapi jumlahnya terbatas.

Artinya, makanan bersejarah ini justru sering diburu wisatawan, bukan generasi lokal. Padahal, pelestarian budaya tidak cukup lewat museum. Kadang, piring makan bekerja lebih efektif.

Apa Dampaknya Buat Kamu?

Mungkin kamu belum pernah mencicipi Nasi Jemblung. Bisa jadi kamu baru dengar namanya hari ini. Tapi ceritanya relevan untuk siapa pun yang hidup di era serba instan. Bangkitnya kuliner tradisional menunjukkan satu hal: kita sedang mencari makna di tengah rutinitas. Kita rindu koneksi dengan budaya, dengan cerita, dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar “enak”.

Jadi, lain kali kamu menemukan makanan unik dengan sejarah panjang, coba berhenti sebentar. Nikmati perlahan. Dengarkan kisahnya. Karena bisa jadi, di balik satu porsi nasi, ada perjalanan ratusan tahun yang diam-diam ingin kamu kenal.

Sekarang pertanyaannya buat kamu: di tengah hidup yang makin cepat ini, kapan terakhir kali kamu benar-benar merasakan makananmu bukan cuma memakannya? @eko

Tags: foodKraton SoloKulinerMakananRaja Solo

Kamu Melewatkan Ini

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

by Anisa
Mei 11, 2026

Seblak pedas kini bukan lagi sekadar tren jajanan kaki lima. Di tengah ledakan budaya kuliner pedas Indonesia, ia perlahan berubah...

Ayam Goreng Akur, Rasa Lama yang Tak Bisa Diganti

Ayam Goreng Akur, Rasa Lama yang Tak Bisa Diganti

by Anisa
Mei 8, 2026

Madiun selama ini dibaca lewat pecel. Padahal ada sistem rasa yang lebih dalam berupa memori, budaya, dan strategi bertahan yang...

Cireng Murah Menyembunyikan Biaya yang Tidak Pernah Kamu Lihat

Cireng Murah Menyembunyikan Biaya yang Tidak Pernah Kamu Lihat

by Anisa
Mei 3, 2026

Harga murah menggoda kamu untuk menggigit tanpa pikir panjang, tetapi satu porsi cireng langsung memindahkan biaya dari dompet ke tubuh...

Next Post
Jokowi di Rakernas PSI: Saya Akan Bekerja Mati-matian untuk PSI

Jokowi di Rakernas PSI: Saya Akan Bekerja Mati-matian untuk PSI

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id