Selasa, Juli 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jokowi di Rakernas PSI: Saya Akan Bekerja Mati-matian untuk PSI

by dimas
Januari 31, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali mengirim sinyal politik yang jelas. Di hadapan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jokowi menyatakan kesiapannya bekerja habis-habisan untuk partai yang kini dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep.

Ia menyampaikan pernyataan itu saat berpidato dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026).

Menurut Jokowi, Indonesia membutuhkan partai politik yang sehat. Lebih jauh, ia menilai negara memerlukan politik yang berpijak pada nilai kebaikan.

“Inilah yang harus kita kerjakan. Negara ini perlu partai yang baik, perlu politik kebaikan, politik untuk kebaikan,” ujar Jokowi dari atas mimbar.

Namun, Jokowi tidak berhenti pada seruan normatif. Ia langsung menegaskan komitmennya secara personal.

Ini Belum Selesai

Nelayan Kecil Kehilangan Solar, Kapal Besar Dapat BBM Murah

Kekeringan Ekstrem di Gunungkidul, Warga Jual Ternak Demi Air

“Saudara-saudara bekerja keras untuk PSI? Saya pun akan bekerja keras untuk PSI!” ujarnya, yang langsung memantik tepuk tangan kader.

Dari Janji hingga Kerja Lapangan

Selanjutnya, Jokowi menekankan bahwa dukungannya tidak bersifat simbolik semata. Ia mengaku masih sanggup turun langsung ke lapangan demi membantu PSI membangun kekuatan politik.

Bahkan, Jokowi menyebut dirinya masih mampu berkeliling ke berbagai provinsi, hingga menyentuh tingkat kecamatan.

“Saudara-saudara bekerja mati-matian untuk PSI? Saya pun akan bekerja keras, bekerja mati-matian untuk PSI,” tegasnya.

Tak lama kemudian, ia kembali mengulang pernyataan itu dengan nada lebih tinggi.

“Saudara-saudara bekerja habis-habisan untuk PSI? Saya pun akan bekerja habis-habisan untuk PSI” tambahnya.

Melalui pengulangan kalimat dan tekanan emosional, Jokowi ingin menegaskan satu pesan utama: PSI kini berada dalam lingkar dukungan langsung dirinya.

Jokowi Jadi Wajah Utama PSI

Pada hari yang sama, PSI mengukuhkan posisi Jokowi secara formal.

Ketua Harian PSI Ahmad Ali menyampaikan bahwa Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI menetapkan Jokowi sebagai tokoh utama dalam setiap kampanye partai.

“Untuk kampanye, DPP telah menetapkan Pak Jokowi sebagai tokoh utama, Pak Jokowi sebagai figur utama kita, sebagai panutan partai ini,” ujar Ahmad Ali saat membacakan kesimpulan Rakernas PSI di Hotel Claro, Makassar.

Dengan keputusan itu, PSI secara terbuka menempatkan Jokowi sebagai wajah sentral partai, meski Jokowi tidak tercatat sebagai pengurus struktural.

Lebih dari Sekadar Mantan Presiden

PSI menegaskan bahwa penetapan Jokowi tidak semata-mata didasarkan pada statusnya sebagai mantan presiden dua periode.

Menurut Ahmad Ali, PSI memandang Jokowi sebagai teladan politik sekaligus patron.

Ia menilai Jokowi merepresentasikan gaya politik yang sejalan dengan identitas PSI populis, membumi, dan dekat dengan anak muda.

Pada saat yang sama, narasi ini ikut menguatkan posisi Kaesang Pangarep sebagai ketua umum yang bergerak dalam orbit politik ayahnya.

Antara Dukungan dan Isu Politik Keluarga

Di ruang publik, langkah PSI dan pernyataan Jokowi langsung menuai sorotan.

Sebagian kalangan menilai langkah tersebut sebagai strategi rasional. PSI membutuhkan figur besar untuk mendongkrak elektabilitas.

Namun, di sisi lain, publik juga mulai mempertanyakan batas antara dukungan politik dan menguatnya politik keluarga.

Terlebih, Jokowi sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa ia tidak berniat membangun dinasti politik.

Kini, ketika ia secara terbuka mengerahkan tenaga untuk partai yang dipimpin anaknya, perdebatan mengenai batas itu kembali mengemuka.

Dampak bagi Peta Politik Nasional

Masuknya Jokowi sebagai figur utama PSI berpotensi menggeser peta persaingan antarpati.

PSI yang selama ini berada di luar parlemen berpeluang memperoleh dorongan elektoral signifikan.

Sebaliknya, partai-partai besar yang selama ini mengklaim kedekatan dengan Jokowi bisa kehilangan “aura Jokowi” yang kini berpindah kanal.

Dalam konteks ini, pemilih muda menjadi kelompok yang paling terdampak, mengingat segmen tersebut sejak awal menjadi basis utama PSI sekaligus basis kuat citra Jokowi.

Politik Kebaikan di Tengah Tarik-Menarik Kekuasaan

Di atas panggung, Jokowi berbicara tentang politik kebaikan.

Sementara itu, di arena praktik, publik menyaksikan konsolidasi kekuasaan yang semakin nyata.

Pada akhirnya, pertanyaan publik tidak hanya berhenti pada apakah PSI akan tumbuh besar.

Lebih dari itu, publik bertanya apakah politik kebaikan benar-benar akan hidup, atau justru berubah menjadi slogan baru dalam kompetisi lama bernama kekuasaan.

Sebab, di negeri ini, niat baik dan ambisi politik kerap berjalan beriringan dan publiklah yang harus terus menilai, mana yang sedang memimpin. @dimas

Tags: DinamikajokowiKaesang PangarepKonsolidasiMakassarPETAPolitik IndonesiaPSIRakernasSulawesi Selatan

Kamu Melewatkan Ini

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

by Tabooo
Juli 27, 2026

Peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996 bukan sekadar konflik internal PDI. Penyerbuan di Jalan Diponegoro membuka kekerasan, perburuan aktivis, dan...

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

by dimas
Juli 27, 2026

Kaesang Pangarep maju sebagai caleg DPR dari Dapil Jawa Tengah V, wilayah yang selama ini menjadi basis Puan Maharani. Apakah...

Budaya Patronase: Jabatan Berganti, Kekuasaan Tetap Tinggal

Budaya Patronase: Jabatan Berganti, Kekuasaan Tetap Tinggal

by dimas
Juli 24, 2026

Pergantian pejabat tak selalu mengakhiri pengaruh. Budaya patronase membuat kekuasaan tetap bertahan melalui loyalitas, relasi personal, dan jaringan yang melampaui...

Next Post
Ngopi di Bangunan Tua: Pesona Coffee Shop Heritage di Kota Lama Surabaya

Ngopi di Bangunan Tua: Pesona Coffee Shop Heritage di Kota Lama Surabaya

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id