Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak kamu lagi scroll media sosial, lalu berhenti karena melihat nasi dengan lubang di tengahnya? Bukan donat nasi. Bukan juga eksperimen dapur anak kos. Itu Nasi Jemblung kuliner klasik asal Solo yang kini mulai mencuri perhatian generasi Z dan Milenial. Lucunya, makanan yang dulu jadi favorit raja sekarang pelan-pelan naik kelas jadi konten Instagram.
Iya, serius. Dari meja bangsawan ke feed medsos.
Kuliner Favorit Pakubuwono X
Nasi Jemblung bukan makanan sembarangan. Konon, hidangan ini menjadi favorit Pakubuwono X, salah satu raja besar Keraton Surakarta Hadiningrat. Sejak awal, Nasi Jemblung sudah membawa status sosial sebagai kuliner elite, bukan menu harian rakyat biasa.
Bentuknya ikonik. Nasi dicetak melingkar dengan lubang di tengah asal mula nama “jemblung”. Lubang itu kemudian diisi bistik atau semur lidah sapi yang dimasak sampai empuk. Aromanya keluar dari campuran pala, cengkeh, dan saus kenari. Rasanya manis dan gurih, khas Jawa, dengan sentuhan Eropa yang samar.
Cara makannya pun punya aturan sendiri. Kamu harus membelah nasi menjadi dua, lalu menyantapnya perlahan sambil menyiram semur dari bagian tengah. Tidak bisa asal suap. Ada ritme, ada etika kecil.
Meski mendapat pengaruh kuliner Belanda, Nasi Jemblung tetap menjaga akar Jawa. Sambal bawang, lalapan mentimun dan tomat, plus kerupuk selalu menemani sajian ini.
Dari Kuliner Keraton ke Tren Anak Kota
Di era berburu hidden gem dan makanan otentik, Nasi Jemblung terasa relevan lagi. Banyak anak muda kini tidak sekadar mencari rasa, tapi juga cerita. Mereka ingin tahu asal-usul makanan, filosofi di baliknya, bahkan siapa yang dulu menikmatinya.
Fenomena ini sejalan dengan tren kebangkitan kuliner tradisional. Gen Z dan Milenial hari ini tidak cuma makan. Mereka ingin terkoneksi dengan masa lalu.
Ada faktor psikologis di balik itu. Di tengah burnout kerja, tekanan sosial, dan hidup serba cepat, banyak orang mencari kenyamanan lewat hal-hal yang berakar. Makanan tradisional memberi rasa aman. Ia menghadirkan nostalgia kolektif, meski kita sendiri tidak hidup di zamannya Pakubuwono X.
Nasi Jemblung pun berubah jadi comfort food bersejarah. Ia tidak cuma mengenyangkan perut, tapi juga memberi sensasi pulang. Ditambah tampilannya yang unik, hidangan ini terasa seperti memang diciptakan untuk kamera.
Lebih dari Sekadar Makan, Ini Soal Identitas
Kebangkitan Nasi Jemblung juga bicara soal identitas. Banyak anak muda kota besar merasa jauh dari akar budaya. Hidup di apartemen, kerja remote, makan serba pesan online. Ketika mereka sengaja mencari makanan tradisional, itu bukan sekadar lapar. Itu usaha kecil untuk menyentuh kembali akar.
Ironisnya, di Solo sendiri Nasi Jemblung belum mudah ditemukan. Biasanya hidangan ini muncul dalam acara adat atau perayaan keagamaan. Beberapa restoran memang masih menyajikannya, tapi jumlahnya terbatas.
Artinya, makanan bersejarah ini justru sering diburu wisatawan, bukan generasi lokal. Padahal, pelestarian budaya tidak cukup lewat museum. Kadang, piring makan bekerja lebih efektif.
Apa Dampaknya Buat Kamu?
Mungkin kamu belum pernah mencicipi Nasi Jemblung. Bisa jadi kamu baru dengar namanya hari ini. Tapi ceritanya relevan untuk siapa pun yang hidup di era serba instan. Bangkitnya kuliner tradisional menunjukkan satu hal: kita sedang mencari makna di tengah rutinitas. Kita rindu koneksi dengan budaya, dengan cerita, dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar “enak”.
Jadi, lain kali kamu menemukan makanan unik dengan sejarah panjang, coba berhenti sebentar. Nikmati perlahan. Dengarkan kisahnya. Karena bisa jadi, di balik satu porsi nasi, ada perjalanan ratusan tahun yang diam-diam ingin kamu kenal.
Sekarang pertanyaannya buat kamu: di tengah hidup yang makin cepat ini, kapan terakhir kali kamu benar-benar merasakan makananmu bukan cuma memakannya? @eko




