Tabooo.id: Nasional – Presiden RI Prabowo Subianto memilih duduk di bangku sederhana dan menyantap nasi goreng telur ceplok menu yang sama dengan warga saat mengunjungi posko pengungsian SD 05 Kayu Pasak Palembayan, Kabupaten Agam, Kamis (15/12/2025). Tidak ada menu khusus. Tidak ada jarak simbolik. Hanya sepiring nasi goreng, telur ceplok, dan segelas air putih.
“Tahu saya belum makan pagi,” ucap Prabowo sambil tersenyum kepada warga dan prajurit TNI AD yang mendampinginya. Candaan itu memecah suasana di tengah kondisi pengungsian yang serba terbatas.
Prabowo menghabiskan sepiring nasi goreng tersebut. Setelah itu, ia mengelap mulut, meneguk air putih, lalu menyampaikan terima kasih kepada warga, relawan, dan aparat yang berjaga di lokasi. Momen sederhana ini langsung menyebar luas di media sosial dan memantik perhatian publik.
Simbol Kehadiran Negara di Tengah Bencana
Kunjungan Prabowo tidak berdiri sendiri. Ia datang bersama jajaran Menteri Kabinet Merah Putih, mulai dari Mensesneg Prasetyo Hadi, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, hingga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Kehadiran para menteri ini menegaskan bahwa penanganan bencana di Sumatra Barat masuk agenda serius pemerintah pusat.
Di hadapan warga, Prabowo menyampaikan komitmen konkret. Ia memastikan pemerintah mulai membangun hunian sementara agar pengungsi tidak terlalu lama tinggal di tenda.
“Hunian sementara bisa selesai sekitar sebulan, supaya ibu-ibu dan bapak-bapak tidak perlu tinggal di tenda,” kata Prabowo.
Ia juga melanjutkan dengan janji berikutnya hunian tetap bagi para korban bencana. Menurut Prabowo, rumah permanen tersebut memiliki kualitas layak dan ukuran cukup luas.
“Saya lihat kualitasnya bagus, luasnya sekitar 70 meter persegi,” ujarnya.
Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Menunggu Bukti
Bagi warga pengungsi, pernyataan ini menghadirkan harapan baru. Hunian sementara berarti keluar dari ketidakpastian hidup di tenda darurat. Hunian tetap memberi peluang memulai ulang kehidupan yang sempat terhenti akibat bencana.
Di sisi lain, pemerintah memperoleh keuntungan citra. Kehadiran langsung presiden, ditambah gestur makan bersama warga, memperkuat narasi pemimpin yang turun ke lapangan dan tidak berjarak.
Namun, publik juga menyimpan ingatan kolektif. Janji pascabencana sering terdengar meyakinkan di awal, lalu tersendat di tahap pelaksanaan. Jika pembangunan berjalan lambat, warga kembali menjadi pihak yang paling dirugikan. Karena itu, ukuran keberhasilan tidak terletak pada momen simbolik, melainkan pada kecepatan dan konsistensi realisasi.
Pemerintah Klaim Percepatan Bantuan
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan tujuan kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Ia menyebut Prabowo ingin memastikan percepatan penanganan dan distribusi bantuan benar-benar berjalan.
Prasetyo juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang bekerja di lapangan, mulai dari BNPB, Basarnas, pemerintah daerah, hingga relawan dan masyarakat. “Terima kasih atas gotong royong semua pihak,” ucap Prasetyo.
Lebih dari Sekadar Sepiring Nasi
Sepiring nasi goreng telur ceplok itu mungkin tampak biasa. Namun, di tengah posko pengungsian, ia berubah menjadi simbol kehadiran negara. Prabowo menunjukkan kedekatan, sementara janji hunian menjadi ujian nyata.
Sekarang, publik menunggu kelanjutannya. Apakah janji negara akan bertahan lebih lama dari rasa kenyang sepiring nasi goreng? Jawabannya tidak akan muncul dari pidato, tetapi dari rumah yang benar-benar berdiri. @teguh




