Tabooo.id: Nasional – Kementerian Keuangan di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah mengucurkan Rp345,1 triliun anggaran subsidi dan kompensasi hingga November 2025. Angka itu setara 72,6 persen dari total pagu APBN 2025.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut realisasi ini menunjukkan negara terus bekerja menahan beban hidup masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.
“Realisasi penyaluran barang subsidi dan kompensasi akhir November Rp345,1 triliun, atau 72,6 persen dari APBN,” kata Suahasil, Kamis (18/12/2025).
Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada harga energi yang tidak melonjak, dapur rumah tangga yang tetap menyala, dan sektor produksi yang masih bisa bernapas.
BBM dan LPG Jadi Penopang Utama
Dari total anggaran tersebut, subsidi BBM menyerap porsi besar. Pemerintah sudah menyalurkan 15,61 juta kiloliter BBM, atau 80,4 persen dari target tahunan 19,41 juta kiloliter.
Sementara itu, subsidi LPG 3 kilogram juga nyaris menyentuh garis akhir. Penyaluran mencapai 7,09 miliar kilogram, setara 86,8 persen dari target 8,17 miliar kilogram.
Dua komoditas ini menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga kelas menengah ke bawah. Tanpa subsidi, lonjakan harga global hampir pasti langsung terasa di dapur warga.
Listrik: Pelanggan Lebih Banyak dari Target
Untuk sektor kelistrikan, negara bahkan melangkah lebih jauh dari rencana. Pemerintah telah menyalurkan listrik bersubsidi kepada 42,6 juta pelanggan, melampaui target awal 42,1 juta pelanggan atau 101,1 persen dari sasaran.
Data ini menunjukkan tekanan ekonomi membuat semakin banyak warga masuk kategori penerima subsidi listrik. Di satu sisi, masyarakat terbantu. Di sisi lain, APBN harus bekerja ekstra.
Pupuk Subsidi Jaga Nafas Petani
Sektor pertanian juga ikut menikmati aliran subsidi. Hingga November, pemerintah menyalurkan 7,5 juta ton pupuk bersubsidi, setara 84,3 persen dari target 8,9 juta ton tahun ini.
Bagi petani, pupuk bersubsidi bukan fasilitas tambahan, melainkan syarat bertahan. Tanpa itu, biaya produksi melonjak dan harga pangan ikut terdorong naik.
Siapa Diuntungkan, Siapa Terbebani?
Masyarakat berpenghasilan rendah jelas menjadi pihak paling diuntungkan. Subsidi menahan inflasi, menjaga daya beli, dan memberi rasa aman di tengah ketidakpastian global.
Namun, APBN menanggung beban besar. Ruang fiskal pemerintah makin sempit, sementara kebutuhan belanja lain pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur tetap menunggu giliran.
Jika harga energi dunia kembali bergejolak, tekanan ke kas negara bisa semakin berat. Di titik ini, subsidi berubah dari penyelamat menjadi tantangan jangka panjang.
Antara Penyangga Sosial dan PR Struktural
Penyaluran subsidi Rp345 triliun menunjukkan negara hadir saat masyarakat membutuhkan. Tapi angka ini juga mengirim sinyal lain ketergantungan pada subsidi belum benar-benar berkurang.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal berapa besar subsidi dicairkan, melainkan sampai kapan negara sanggup terus menambal harga. Karena jika subsidi jadi solusi permanen, APBN bisa kelelahan lebih dulu sebelum masalah strukturalnya sembuh. @teguh





