Tabooo.id: Check – Linimasa media sosial kembali memanas. Sebuah unggahan Facebook menyebar luas dengan klaim bahwa Luhut Binsar Pandjaitan menuding Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang ke Sumatra hanya demi pencitraan.
Narasi dalam unggahan itu sengaja dibuat tajam dan provokatif. Kalimatnya ditulis seolah kutipan langsung, lengkap dengan sentilan, “Dia kan gubernur konten kreator.” Kombinasi foto tokoh nasional dan kalimat pedas membuat banyak orang langsung bereaksi marah, setuju, atau ikut membagikan.
Namun seperti banyak drama viral lainnya, klaim ini perlu ditarik napas sejenak sebelum dipercaya.
Fakta Sebenarnya: Foto Asli, Cerita Rekaan
Tim Cek Fakta Tabooo.id menelusuri foto yang digunakan dalam unggahan tersebut melalui pencarian gambar. Hasilnya cukup jelas foto itu bukan foto baru dan tidak berkaitan dengan Dedi Mulyadi.
Media CNBCIndonesia.com telah menggunakan foto yang sama sejak tahun 2021. Saat itu, pemberitaan membahas isu yang sama sekali berbeda, mulai dari hubungan internasional hingga persoalan kelautan. Tidak ada satu pun artikel yang memuat pernyataan Luhut tentang kunjungan Dedi Mulyadi ke Sumatra, apalagi soal pencitraan.
Dengan kata lain, gambarnya valid. Narasinya yang bermasalah.
Mengapa Klaim Ini Mudah Dipercaya?
Hoaks seperti ini biasanya mengikuti pola lama yang masih efektif. Pembuatnya memanfaatkan foto tokoh terkenal, lalu menambahkan narasi emosional agar pembaca langsung bereaksi. Setelah itu, unggahan dilepas ke media sosial dan dibiarkan menyebar lewat komentar dan algoritma.
Masalahnya, foto tidak pernah menjadi bukti ucapan. Tanpa rekaman resmi, wawancara, atau rilis media, sebuah klaim hanya berdiri di atas asumsi. Jika foto bisa “berbicara” sesuka caption, maka siapa pun bisa dituduh mengatakan apa saja.
Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari Luhut Binsar Pandjaitan yang membenarkan klaim tersebut.
Kesimpulan: Hoaks, Titik
Klaim yang menyebut Luhut menuding Dedi Mulyadi datang ke Sumatra hanya untuk pencitraan tidak didukung fakta. Unggahan itu memelintir foto lama, menciptakan kutipan palsu, dan tidak bersumber dari media tepercaya.
Kesimpulannya tegas ini hoaks.
Penutup: Jangan Jadi Tim “Emosi Dulu, Verifikasi Nanti”
Di era digital, kabar bohong sering tampil lebih rapi daripada kebenaran. Kalimat pedas memang cepat memancing emosi, tetapi nalar tetap perlu ikut bekerja.
Sebelum membagikan unggahan yang bikin panas kepala, luangkan waktu untuk mengecek sumber dan konteksnya. Karena satu klik ceroboh bisa memperpanjang umur kebohongan.
Sebelum share, cek dulu biar gak ikut dosa digital. @dimas




