• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Rabu, Maret 25, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Vibes

Menyusuri Ampel: Jejak Islam Tertua dan Kehidupan Kota Surabaya

Februari 18, 2026
in Vibes
A A
Menyusuri Ampel: Jejak Islam Tertua dan Kehidupan Kota Surabaya

Gerbang Ampel menyambut pengunjung dengan nuansa sejarah, budaya Arab, dan kehidupan kota Surabaya yang harmonis. (Foto: Tabooo.id/Sabrina Fidhi)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Pagi itu, aroma rempah dan roti Arab tipis-tipis menyusup di sepanjang jalan Ampel. Pedagang kaki lima menata dagangan dengan rapi, sementara suara azan bersahutan dari Masjid Agung Ampel. Di sela hiruk-pikuk itu, wisatawan menatap mosaik kuno yang seolah berbisik “Ini hidup.” Kawasan ini terasa seperti kapsul waktu, di mana masa lalu dan masa kini berpadu menjadi harmoni urban yang unik.

Jejak Sunan Ampel dan Awal Ampel

Sekitar tahun 1400 Masehi, Raden Rahmat, atau Sunan Ampel, menerima tanah luas dari Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Ia menempuh perjalanan dari Majapahit menuju Ampeldenta, melintasi Pari, Kriyan, Wonokromo, Kembang Kuning, hingga Peneleh. Perjalanan itu bukan sekadar migrasi; ia menjadi misi dakwah sekaligus membangun komunitas yang menandai awal jejak Islam kokoh di Surabaya.

Sunan Ampel mendirikan masjid dan pesantren. Hingga kini, ribuan peziarah datang setiap tahun menziarahi kompleks makamnya. Mereka tidak hanya berdoa, tapi juga menapaktilasi sejarah yang membentuk identitas kota melalui interaksi spiritual dan sosial.

Nama, Kolonial, dan Migrasi

Kata “Ampel” muncul dari ngampel, yang berarti meminjam atau memanfaatkan sebagian lahan. Filosofi ini menekankan prinsip hidup sambil merawat tanah.

RelatedPosts

Jalan Santai Bukan Sekadar Jalan: Cara Banjar Legian Kulod Merawat Rasa Jadi “Kita”

Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

Pada masa kolonial Belanda, pemerintah menata Ampel menggunakan wijkenstelsel, sistem pemukiman berbasis etnis. Kawasan ini menjadi Arabische-kamp, berdampingan dengan Chineesche-kamp dan Maleische-kamp. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan dekat Pelabuhan Perak membuat Ampel menarik banyak pendatang. Bahkan etnis Arab Hadramaut dari Yaman datang signifikan setelah Terusan Suez dibuka pada 1869.

Komunitas Arab mempertahankan akar budaya dan agama mereka. Mereka terbagi menjadi dua golongan Syeh, keturunan sahabat Nabi, yang memelihara kemurnian ibadah, dan Sayyid, keturunan Nabi Muhammad SAW, yang memadukan ritual dengan tradisi lokal. Hasilnya, atmosfer khas Timur Tengah tetap terasa di tengah kota Surabaya.

Ampel Hari Ini: Spiritual dan Sosial Menyatu

Kini, Ampel bukan hanya tujuan ziarah. Masjid Agung Ampel menarik wisatawan religius, sedangkan pasar tradisional di sekitarnya menyuguhkan kehidupan lokal penuh warna dan aroma. Pengunjung menapaki jalan sempit yang dipenuhi kios rempah, kain, dan roti khas Arab sambil menyimak cerita masyarakat yang menjaga tradisi berabad-abad.

Setiap sudut Ampel memancarkan kehidupan multidimensi. Anak-anak berlarian di pelataran masjid, jamaah tua membaca Al-Qur’an, sementara pedagang menawar dagangan. Budaya dan spiritualitas berjalan seiring. Kehidupan sehari-hari menjadi pameran kecil toleransi dan akulturasi.

Selain itu, masyarakat Arab membangun jaringan sosial, pendidikan, dan ekonomi. Para pedagang dan komunitas setempat mempertahankan identitas mereka sambil berkembang, sehingga Pasar Ampel kini menjadi simbol keberlanjutan budaya.

Makna Budaya Ampel

Melihat Ampel hari ini, kita menyadari bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu. Tradisi menjadi sumber kehidupan sosial dan budaya yang berkelanjutan. Fenomena ini menegaskan bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan modernitas. Wisata religi yang tadinya kaku kini dikemas dengan pengalaman visual, digital, dan multisensorial, sehingga generasi muda tetap tertarik tanpa mengorbankan nilai historis.

Penutup

Ampel adalah narasi yang berjalan, seperti mosaik kuno yang terus diperbarui. Setiap langkah di jalan sempitnya menjadi dialog antara masa lalu dan kini, antara doa dan tawar-menawar di pasar. Kawasan ini membisikkan pesan sederhana kita bisa modern tanpa melupakan akar, urban tanpa kehilangan jiwa sejarah, dan religius tanpa kehilangan kemanusiaan.

Di Ampel, waktu berputar perlahan, tetapi cerita yang disimpan terus bergema. Sejarah bukan sekadar catatan ia adalah pengalaman yang bisa dirasakan, dihirup, dan diserap dalam setiap napas kehidupan kota. @Sabrina Fidhi – Surabaya

Tags: AmpelBudayaHarmoniIslamMultidimensiPasar TradisionalReligiSejarahSunan AmpelsurabayaTertuaTradisiUrbanWarisanwisata
Next Post
Dunia Tidak Lagi Netral, Indonesia di Persimpangan Tekanan Ekonomi

Dunia Tidak Lagi Netral, Indonesia di Persimpangan Tekanan Ekonomi

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.