Tabooo.id: Vibes – Pagi itu, aroma rempah dan roti Arab tipis-tipis menyusup di sepanjang jalan Ampel. Pedagang kaki lima menata dagangan dengan rapi, sementara suara azan bersahutan dari Masjid Agung Ampel. Di sela hiruk-pikuk itu, wisatawan menatap mosaik kuno yang seolah berbisik “Ini hidup.” Kawasan ini terasa seperti kapsul waktu, di mana masa lalu dan masa kini berpadu menjadi harmoni urban yang unik.
Jejak Sunan Ampel dan Awal Ampel
Sekitar tahun 1400 Masehi, Raden Rahmat, atau Sunan Ampel, menerima tanah luas dari Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Ia menempuh perjalanan dari Majapahit menuju Ampeldenta, melintasi Pari, Kriyan, Wonokromo, Kembang Kuning, hingga Peneleh. Perjalanan itu bukan sekadar migrasi; ia menjadi misi dakwah sekaligus membangun komunitas yang menandai awal jejak Islam kokoh di Surabaya.
Sunan Ampel mendirikan masjid dan pesantren. Hingga kini, ribuan peziarah datang setiap tahun menziarahi kompleks makamnya. Mereka tidak hanya berdoa, tapi juga menapaktilasi sejarah yang membentuk identitas kota melalui interaksi spiritual dan sosial.
Nama, Kolonial, dan Migrasi
Kata “Ampel” muncul dari ngampel, yang berarti meminjam atau memanfaatkan sebagian lahan. Filosofi ini menekankan prinsip hidup sambil merawat tanah.
Pada masa kolonial Belanda, pemerintah menata Ampel menggunakan wijkenstelsel, sistem pemukiman berbasis etnis. Kawasan ini menjadi Arabische-kamp, berdampingan dengan Chineesche-kamp dan Maleische-kamp. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan dekat Pelabuhan Perak membuat Ampel menarik banyak pendatang. Bahkan etnis Arab Hadramaut dari Yaman datang signifikan setelah Terusan Suez dibuka pada 1869.
Komunitas Arab mempertahankan akar budaya dan agama mereka. Mereka terbagi menjadi dua golongan Syeh, keturunan sahabat Nabi, yang memelihara kemurnian ibadah, dan Sayyid, keturunan Nabi Muhammad SAW, yang memadukan ritual dengan tradisi lokal. Hasilnya, atmosfer khas Timur Tengah tetap terasa di tengah kota Surabaya.
Ampel Hari Ini: Spiritual dan Sosial Menyatu
Kini, Ampel bukan hanya tujuan ziarah. Masjid Agung Ampel menarik wisatawan religius, sedangkan pasar tradisional di sekitarnya menyuguhkan kehidupan lokal penuh warna dan aroma. Pengunjung menapaki jalan sempit yang dipenuhi kios rempah, kain, dan roti khas Arab sambil menyimak cerita masyarakat yang menjaga tradisi berabad-abad.
Setiap sudut Ampel memancarkan kehidupan multidimensi. Anak-anak berlarian di pelataran masjid, jamaah tua membaca Al-Qur’an, sementara pedagang menawar dagangan. Budaya dan spiritualitas berjalan seiring. Kehidupan sehari-hari menjadi pameran kecil toleransi dan akulturasi.
Selain itu, masyarakat Arab membangun jaringan sosial, pendidikan, dan ekonomi. Para pedagang dan komunitas setempat mempertahankan identitas mereka sambil berkembang, sehingga Pasar Ampel kini menjadi simbol keberlanjutan budaya.
Makna Budaya Ampel
Melihat Ampel hari ini, kita menyadari bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu. Tradisi menjadi sumber kehidupan sosial dan budaya yang berkelanjutan. Fenomena ini menegaskan bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan modernitas. Wisata religi yang tadinya kaku kini dikemas dengan pengalaman visual, digital, dan multisensorial, sehingga generasi muda tetap tertarik tanpa mengorbankan nilai historis.
Penutup
Ampel adalah narasi yang berjalan, seperti mosaik kuno yang terus diperbarui. Setiap langkah di jalan sempitnya menjadi dialog antara masa lalu dan kini, antara doa dan tawar-menawar di pasar. Kawasan ini membisikkan pesan sederhana kita bisa modern tanpa melupakan akar, urban tanpa kehilangan jiwa sejarah, dan religius tanpa kehilangan kemanusiaan.
Di Ampel, waktu berputar perlahan, tetapi cerita yang disimpan terus bergema. Sejarah bukan sekadar catatan ia adalah pengalaman yang bisa dirasakan, dihirup, dan diserap dalam setiap napas kehidupan kota. @Sabrina Fidhi – Surabaya




