Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Menyusuri Ampel: Jejak Islam Tertua dan Kehidupan Kota Surabaya

by dimas
Februari 18, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Pagi itu, aroma rempah dan roti Arab tipis-tipis menyusup di sepanjang jalan Ampel. Pedagang kaki lima menata dagangan dengan rapi, sementara suara azan bersahutan dari Masjid Agung Ampel. Di sela hiruk-pikuk itu, wisatawan menatap mosaik kuno yang seolah berbisik “Ini hidup.” Kawasan ini terasa seperti kapsul waktu, di mana masa lalu dan masa kini berpadu menjadi harmoni urban yang unik.

Jejak Sunan Ampel dan Awal Ampel

Sekitar tahun 1400 Masehi, Raden Rahmat, atau Sunan Ampel, menerima tanah luas dari Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Ia menempuh perjalanan dari Majapahit menuju Ampeldenta, melintasi Pari, Kriyan, Wonokromo, Kembang Kuning, hingga Peneleh. Perjalanan itu bukan sekadar migrasi; ia menjadi misi dakwah sekaligus membangun komunitas yang menandai awal jejak Islam kokoh di Surabaya.

Sunan Ampel mendirikan masjid dan pesantren. Hingga kini, ribuan peziarah datang setiap tahun menziarahi kompleks makamnya. Mereka tidak hanya berdoa, tapi juga menapaktilasi sejarah yang membentuk identitas kota melalui interaksi spiritual dan sosial.

Nama, Kolonial, dan Migrasi

Kata “Ampel” muncul dari ngampel, yang berarti meminjam atau memanfaatkan sebagian lahan. Filosofi ini menekankan prinsip hidup sambil merawat tanah.

Pada masa kolonial Belanda, pemerintah menata Ampel menggunakan wijkenstelsel, sistem pemukiman berbasis etnis. Kawasan ini menjadi Arabische-kamp, berdampingan dengan Chineesche-kamp dan Maleische-kamp. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan dekat Pelabuhan Perak membuat Ampel menarik banyak pendatang. Bahkan etnis Arab Hadramaut dari Yaman datang signifikan setelah Terusan Suez dibuka pada 1869.

Ini Belum Selesai

Asal Usul Kebo Bule Kyai Slamet, Penolak Bala Karaton Surakarta

Politik di Balik Sinkretisme Jawa

Komunitas Arab mempertahankan akar budaya dan agama mereka. Mereka terbagi menjadi dua golongan Syeh, keturunan sahabat Nabi, yang memelihara kemurnian ibadah, dan Sayyid, keturunan Nabi Muhammad SAW, yang memadukan ritual dengan tradisi lokal. Hasilnya, atmosfer khas Timur Tengah tetap terasa di tengah kota Surabaya.

Ampel Hari Ini: Spiritual dan Sosial Menyatu

Kini, Ampel bukan hanya tujuan ziarah. Masjid Agung Ampel menarik wisatawan religius, sedangkan pasar tradisional di sekitarnya menyuguhkan kehidupan lokal penuh warna dan aroma. Pengunjung menapaki jalan sempit yang dipenuhi kios rempah, kain, dan roti khas Arab sambil menyimak cerita masyarakat yang menjaga tradisi berabad-abad.

Setiap sudut Ampel memancarkan kehidupan multidimensi. Anak-anak berlarian di pelataran masjid, jamaah tua membaca Al-Qur’an, sementara pedagang menawar dagangan. Budaya dan spiritualitas berjalan seiring. Kehidupan sehari-hari menjadi pameran kecil toleransi dan akulturasi.

Selain itu, masyarakat Arab membangun jaringan sosial, pendidikan, dan ekonomi. Para pedagang dan komunitas setempat mempertahankan identitas mereka sambil berkembang, sehingga Pasar Ampel kini menjadi simbol keberlanjutan budaya.

Makna Budaya Ampel

Melihat Ampel hari ini, kita menyadari bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu. Tradisi menjadi sumber kehidupan sosial dan budaya yang berkelanjutan. Fenomena ini menegaskan bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan modernitas. Wisata religi yang tadinya kaku kini dikemas dengan pengalaman visual, digital, dan multisensorial, sehingga generasi muda tetap tertarik tanpa mengorbankan nilai historis.

Penutup

Ampel adalah narasi yang berjalan, seperti mosaik kuno yang terus diperbarui. Setiap langkah di jalan sempitnya menjadi dialog antara masa lalu dan kini, antara doa dan tawar-menawar di pasar. Kawasan ini membisikkan pesan sederhana kita bisa modern tanpa melupakan akar, urban tanpa kehilangan jiwa sejarah, dan religius tanpa kehilangan kemanusiaan.

Di Ampel, waktu berputar perlahan, tetapi cerita yang disimpan terus bergema. Sejarah bukan sekadar catatan ia adalah pengalaman yang bisa dirasakan, dihirup, dan diserap dalam setiap napas kehidupan kota. @Sabrina Fidhi – Surabaya

Tags: BudayaHarmoniIslamPasar TradisionalReligiSejarahsurabaya

Kamu Melewatkan Ini

Malam Satu Suro: Antara Spiritualitas, Tradisi, dan Pencarian Makna Hidup

Malam Satu Suro: Antara Spiritualitas, Tradisi, dan Pencarian Makna Hidup

by dimas
Juni 2, 2026

Malam Satu Suro bukan sekadar tradisi atau mitos yang hidup di masyarakat Jawa. Di balik keheningannya, tersimpan makna refleksi diri,...

Tjokroaminoto: Sosialisme, Islam, dan Keadilan Sosial

Tjokroaminoto: Sosialisme, Islam, dan Keadilan Sosial

by dimas
Juni 2, 2026

Tjokroaminoto memadukan Islam dan sosialisme sebagai jalan menuju keadilan sosial. Gagasan yang lahir seabad lalu itu masih relevan untuk Indonesia...

Komunisme, Islam, dan Luka Madiun

Komunisme, Islam, dan Luka Madiun

by Tabooo
Mei 31, 2026

Komunisme, Islam, dan Luka Madiun bukan hanya cerita tentang Musso, Soekarno, Hatta, atau elite politik yang berebut arah revolusi. Tragedi...

Next Post
Dunia Tidak Lagi Netral, Indonesia di Persimpangan Tekanan Ekonomi

Dunia Tidak Lagi Netral, Indonesia di Persimpangan Tekanan Ekonomi

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id