Tabooo.id: Deep – Di sebuah sudut Hong Kong yang selalu berdesakan antara dengung trem dan napas cepat para pekerja kota seorang perempuan Indonesia berusia 30 tahun berjalan pulang setelah menuntaskan pekerjaan hari itu. Lampu-lampu neon memantulkan cahaya ke wajahnya yang letih. Namanya Tunjinah, tapi para tetangga dan teman sesama pekerja migran memanggilnya Anah. Dalam langkahnya, ada bayangan tentang seorang bocah laki-laki lima tahun yang jauh di Desa Tinumpuk, Indramayu, anak yang selama lima tahun ini hanya bisa ia peluk lewat layar telepon.
Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, sunyi justru terasa lebih tajam untuk perempuan-perempuan yang datang dari kampung-kampung di Indonesia, membawa satu mimpi sederhana: menjaga hidup orang-orang yang mereka cintai, meski harus mengorbankan kehadiran mereka sendiri.
Ibu yang Pergi Agar Anak Bisa Tinggal
Anah bukan perempuan yang tumbuh dengan banyak pilihan. Masa remajanya habis oleh kerja serabutan apapun yang bisa membantu ekonomi keluarga. Dengan ijazah SMP di tangan, lapangan kerja terasa seperti pintu yang selalu tertutup. Ketika ia bercerai dan menjadi single parent, hidup memaksanya memilih jalur paling pahit tapi paling menjanjikan: merantau menjadi pekerja migran.
“Ada khawatirnya ninggalin anak… mana ada ibu yang mau jauh,” katanya lirih lewat sambungan telepon pada Minggu, 7 Desember 2025. “Tapi ya gimana lagi, demi masa depan anak aku.”
Sejak 2020, ia bekerja di Hong Kong sebagai asisten rumah tangga dengan gaji sekitar Rp10 juta per bulan, angka yang sulit ia bayangkan jika tetap bekerja di Indonesia. Dari uang itulah ia menabung, membantu orang tua, membayar kebutuhan anak, dan sedikit-sedikit merajut harapan.
Anaknya kini akan masuk TK. Usianya lima tahun. Masa-masa paling lincah, paling cerewet, paling manis masa yang tak akan kembali.
Para ibu yang bekerja jauh harus membayar harga itu dengan membeli masa depan anak sambil menjual kehadiran mereka sendiri.
Konflik Lama yang Tak Pernah Usai: Cinta Ibu vs Sistem Sosial
Cerita Anah adalah cerita ribuan perempuan Indonesia yang menjadi pekerja migran. Mereka bekerja demi anak, tapi harus menjauh dari anak demi bekerja. Sebuah ironi yang lahir bukan dari pilihan bebas, tetapi dari sistem sosial dan ekonomi yang membuat perempuan kelas bawah harus berkorban berkali-kali lipat.
Masyarakat sering mencap para ibu seperti Anah sebagai “peninggal keluarga”, padahal hampir tak pernah negara ini bertanya:
Mengapa mereka harus pergi? Apakah pekerjaan layak di tanah sendiri begitu sempit? Mengapa perempuan selalu menjadi bantalan terakhir dari kemiskinan?
Dalam kehidupan sehari-harinya, Anah memanggul dilema itu seperti ransel yang tak pernah bisa ia lepaskan. Saat anaknya sakit, ia hanya bisa mendengar lewat telepon. Saat anaknya belajar huruf A, B, C, ia hanya bisa mengamati melalui video singkat. Ketika anaknya jatuh dan lututnya terluka, ia hanya bisa menenangkan dari ribuan kilometer.
Di Hong Kong, ia menundukkan kepala, menahan tangis dalam diam, lalu meneruskan pekerjaannya.
Telepon, Doa, dan Sejumput Harapan
Untuk mengobati rindu, Anah menelepon setiap hari. Terkadang hanya lima menit, terkadang satu jam. Namun, bagi seorang ibu yang hanya punya suara sebagai bentuk pelukan, setiap detik sangat penting.
“Alhamdulillah kalau telepon selalu… setiap hari,” katanya.
Dengan cara itu, ia mengontrol perkembangan anak dari jauh sekaligus menjaga kewarasannya. Setiap kali menelepon, ia mengulang doa yang sama dan memohon agar anaknya menempuh pendidikan setinggi mungkin serta melampaui dirinya yang hanya lulusan SMP.
Di dalam doa itu terkandung trauma sosial yang panjang. Generasi yang hidup dalam kemiskinan tak ingin anak-anak mereka mengulang takdir yang sama. Mereka menaruh harapan pada pendidikan sebagai jalan keluar, meski harus menebusnya dengan kerja keras yang kadang nyaris mustahil.
Kreator Konten di Tengah Padatnya Tugas Domestik
Di sela hiruk-pikuk kerja sebagai asisten rumah tangga, Anah mulai menemukan hal lain: membuat konten di media sosial. Awalnya iseng, lalu pelan-pelan menjadi ladang pendapatan tambahan.
Di dunia digital itu, ia belajar menjadi lebih kreatif merekam, bercerita, membangun koneksi. Sesuatu yang mungkin tak pernah ia bayangkan ketika masih di kampung. Dunia ini seakan memberi ruang bagi perempuan yang dulu tak terlihat, memungkinkan mereka bersuara, didengar, dan bahkan dihargai.
Tapi sekali lagi, dunia digital bukan pelarian dari realitas, melainkan cara untuk bertahan.
Rindu yang Tak Pernah Selesai, dan Rencana untuk Pulang
Meski sudah terbiasa dengan ritme hidup sebagai pekerja migran, Anah tahu bahwa ia tak bisa selamanya tinggal di Hong Kong. Pada akhirnya, semua perjalanan harus kembali ke asal. Semua ibu ingin kembali memeluk anaknya, bukan hanya suaranya.
Ia mulai menyusun rencana: menabung lebih serius, menghitung modal, memikirkan usaha apa yang ingin dibangun di kampung nanti. Mungkin ia akan membuka warung kecil, mungkin usaha rumahan, atau mungkin sesuatu yang memungkinkan ia selalu dekat dengan anaknya, bukan hanya dengan ponsel.
“Planning sih banyak… cuma nanti lihat ke depan, lihat bujet juga,” katanya. Nada suaranya campuran antara harapan dan kecemasan dua hal yang menjadi bensin para pekerja migran.
Di Balik Cahaya Hong Kong, Ada Ibu yang Menguatkan Dunia
Ketika malam turun dan gedung-gedung Hong Kong menyala seperti rasi bintang raksasa, Anah menutup jendela kamarnya. Ia kemudian memandangi layar ponsel yang berisi foto anaknya. Senyuman kecil muncul di bibirnya, senyuman yang menahan terlalu banyak rasa sakit.
Di balik gemerlap kota urban itu, ada jutaan ibu seperti Anah yang bekerja dalam diam, menyimpan rindu, dan membangun masa depan keluarga satu remitansi sekali transfer. Mereka bukan sekadar “pahlawan devisa” mereka adalah tubuh-tubuh yang dipaksa kuat, hati-hati yang dipaksa tegar.
Dan jika kelak anaknya tumbuh menjadi orang yang ia harapkan pintar, mandiri, berpendidikan tinggi mungkin tak banyak yang tahu bahwa pencapaian itu lahir dari seorang ibu yang pernah berjalan pulang sendirian di tengah kota paling sibuk Asia, sambil membawa doa paling sederhana:
“Semoga anakku hidup lebih baik dari diriku,” ucapnya lirih.
Itulah cinta seorang ibu: tak selalu hadir, tapi selalu menguatkan. Tanpa tepuk tangan. Tanpa lampu sorot. Hanya dengan keteguhan yang tak pernah selesai. (red)





