Tabooo.id: Nasional – Pemerintah kembali memutar kunci industri otomotif. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengaku telah mengajukan permintaan langsung kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa agar insentif sektor otomotif diberlakukan tahun ini. Alasannya satu industri ini menyerap tenaga kerja besar dan menopang rantai ekonomi dari hulu ke hilir.
Agus menegaskan, insentif bukan sekadar pemanis industri, melainkan alat bertahan hidup bagi jutaan pekerja. Menurutnya, sektor otomotif memiliki efek domino besar dari pabrik, pemasok komponen, hingga jaringan distribusi.
Insentif Bukan Ulang Pandemi
Agus menolak anggapan bahwa skema insentif kali ini sekadar mengulang pola masa Covid-19. Ia menyebut rancangan terbaru jauh lebih terukur, detail, dan selektif. Pemerintah menyusun insentif berdasarkan segmentasi kendaraan, teknologi, dan tingkat kandungan lokal.
Fokus utama tetap sama menjaga tenaga kerja nasional. Namun cara mainnya kini lebih ketat. Hanya produsen yang memenuhi syarat tertentu yang berhak menikmati insentif negara.
“Kami ingin yang dapat manfaat itu jelas kontribusinya. Harus punya TKDN, harus patuh batas emisi,” tegas Agus.
Dengan kata lain, pabrikan tidak bisa lagi sekadar jualan volume. Negara meminta timbal balik nyata.
TKDN dan Emisi Jadi Kunci
Dalam proposal tersebut, Kementerian Perindustrian mewajibkan produsen memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan standar emisi tertentu. Pemerintah juga memberi perhatian khusus pada kendaraan ramah lingkungan, sejalan dengan agenda elektrifikasi.
Selain itu, Agus menetapkan batas harga di tiap segmen kendaraan. Aturan ini bertujuan agar insentif tidak bocor ke pasar premium yang tidak menyentuh kepentingan publik luas.
Langkah ini jelas menguntungkan produsen yang serius membangun manufaktur dalam negeri. Sebaliknya, importir yang minim investasi lokal harus gigit jari.
Industri Dilibatkan, Negara Tetap Hitung Untung
Agus mengklaim penyusunan usulan insentif berjalan panjang dan melibatkan pelaku industri, termasuk Gaikindo. Pemerintah ingin memastikan kebijakan ini realistis di lapangan, bukan sekadar cantik di atas kertas.
Meski begitu, Kemenperin mengaku tetap berhitung dingin. Agus menegaskan pihaknya tidak ingin membebani keuangan negara.
“Benefit untuk negara harus lebih besar dari cost,” katanya.
Artinya, insentif hanya akan jalan jika negara tetap untung baik lewat pajak, penyerapan tenaga kerja, maupun pertumbuhan industri.
Siapa Diuntungkan, Siapa Tertekan?
Jika usulan ini disetujui, pekerja otomotif dan pabrikan ber-TKDN tinggi jelas menjadi pemenang. Konsumen juga berpeluang menikmati harga kendaraan yang lebih kompetitif.
Namun di sisi lain, produsen dengan ketergantungan impor tinggi akan tertekan. Negara memberi sinyal tegas insentif hanya untuk yang mau tumbuh bersama industri nasional.
Kini bola ada di tangan Kementerian Keuangan. Pertanyaannya, apakah negara siap menggelontorkan stimulus demi industri, atau justru memilih menahan gas di tengah tekanan fiskal? Karena di dunia otomotif, mesin yang terlalu lama idle biasanya bukan jadi hemat tapi mogok. @teguh




