Tabooo.id: Nasional – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya angkat suara soal usulan insentif otomotif yang diajukan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. Responsnya singkat, tapi cukup bikin industri otomotif menegakkan badan. Pemerintah, kata Purbaya, tak akan membiarkan mesin sektor ini mati pelan-pelan.
“Saya akan selesaikan itu ya. Terima kasih,” ujar Purbaya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Jumat (02/01/2026).
Kalimat pendek itu langsung menyebar ke lantai bursa dan pabrik perakitan. Industri otomotif memang sedang menunggu kepastian. Insentif dianggap kunci untuk menjaga produksi tetap berputar dan tenaga kerja tidak terlempar ke luar pagar pabrik.
Namun, Purbaya juga jujur. Ia mengaku belum membaca detail surat dari Kementerian Perindustrian. Surat itu, katanya, bahkan belum sampai ke mejanya.
“Mungkin belum sampai ke saya suratnya. Saya belum baca, jadi saya belum tahu,” ucapnya.
Industri Ngebut, Pemerintah Masih Atur Persneling
Sebelumnya, Purbaya menyatakan belum membahas insentif otomotif secara teknis. Ia memilih membuka ruang diskusi lebih dulu dengan Kemenperin. Langkah ini ia anggap perlu agar kebijakan tidak gegabah dan tetap ramah pada fiskal negara.
“Belum. Nanti saya diskusi sama mereka dulu,” kata Purbaya, Rabu (31/12/2025).
Di sisi lain, Menperin Agus Gumiwang sudah lebih dulu tancap gas. Ia mengirim surat resmi ke Kemenkeu dan menekankan satu hal: industri otomotif menyangkut jutaan tenaga kerja dan rantai ekonomi yang panjang.
“Kami usulkan ini atas nama perlindungan tenaga kerja dan penguatan manufaktur otomotif,” kata Agus, dikutip dari Antara.
Menurut Agus, sektor otomotif punya efek domino besar. Pabrik mobil menggerakkan industri baja, karet, elektronik, hingga UMKM komponen. Ketika sektor ini goyah, dampaknya bisa menjalar ke mana-mana.
Insentif Versi Baru: Lebih Ketat, Lebih Terarah
Agus menegaskan usulan insentif kali ini berbeda dari era pandemi. Pemerintah menyusunnya lebih detail dan terukur. Kemenperin mengaitkan insentif dengan segmentasi kendaraan, teknologi, hingga Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Tak semua pelaku bakal menikmati kue yang sama. Produsen wajib memenuhi syarat TKDN dan standar emisi tertentu. Pemerintah juga memasang batasan harga agar insentif tidak salah sasaran.
“Kami ingin yang menerima manfaat benar-benar berkontribusi,” tegas Agus.
Pemerintah juga memberi perhatian khusus pada kendaraan ramah lingkungan. Elektrifikasi masuk dalam skema besar, sejalan dengan agenda transisi energi.
Siapa Untung, Siapa Waswas?
Jika insentif turun, produsen otomotif dan tenaga kerja jelas diuntungkan. Harga kendaraan berpotensi lebih kompetitif, produksi terjaga, dan PHK bisa ditekan. Namun, negara harus menghitung cermat dampaknya ke APBN. Tanpa perhitungan matang, insentif bisa berubah jadi beban fiskal.
Kini bola ada di tangan Kemenkeu. Industri menunggu realisasi, buruh berharap kepastian, dan publik mengamati. Insentif otomotif bukan sekadar soal mobil baru, tapi soal arah keberpihakan ekonomi. Pertanyaannya tinggal satu pemerintah mau menekan rem, atau justru menambah gas?.@teguh





