Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak, lo lagi capek kerja atau kuliah, terus scroll TikTok dan nemu video orang jalan santai di galeri seni pencahayaan lembut, musik ambient, dan lukisan-lukisan yang kayaknya bisik, “tenang aja, hidup nggak seburuk itu”? Dan anehnya, lo ikut merasa… adem. Padahal cuma nonton lewat layar. Nah, bayangin kalau lo datang langsung.
Ternyata bukan cuma vibes aesthetic doang, tapi literally menyehatkan.
Sebuah penelitian baru dari King’s College London nemuin hal yang agak mind-blowing, melihat karya seni asli di galeri bisa menurunkan hormon stres (kortisol) sampai 22 persen. Iya, 22 persen! Nggak kalah dari efek meditasi atau yoga di retreat mahal.
Galeri, Tempat Healing yang Nggak Lo Sangka
Peneliti ngajak 50 orang usia 18-40 tahun buat liat karya seni kayak Self-Portrait with Bandaged Ear (Van Gogh) sampai A Bar at the Folies-Bergère (Manet). Separuh nonton karya aslinya di galeri, separuh lagi cuma liat versi cetak.
Hasilnya? Yang datang ke galeri punya penurunan hormon stres lebih besar, detak jantung lebih stabil, bahkan suhu kulitnya turun hampir 1°C tanda tubuh lagi relaks tapi tetap terstimulasi. Kayak pas lo lagi di pantai sambil denger lagu kesukaan: tenang, tapi hidup.
Dr. Tony Woods, peneliti utama, nyebut efek ini sebagai “cultural workout” buat tubuh. Artinya, seni bukan cuma buat dilihat, tapi juga bisa bikin tubuh lo ikut “olah rasa”.
Kenapa Bisa Begitu?
Secara psikologis, manusia emang makhluk yang haus makna. Kita suka hal indah karena otak kita butuh sesuatu yang memantik rasa kagum (awe). Saat kita ngelihat karya seni apalagi yang asli otak melepaskan dopamin dan serotonin, dua zat bahagia yang bisa menetralkan efek kortisol (hormon stres).
Selain itu, suasana galeri itu sendiri punya efek mindful: ruangan tenang, pencahayaan lembut, dan momen hening yang jarang banget kita temuin di dunia penuh notifikasi ini. Lo nggak perlu mikir deadline, nggak harus perform di depan siapa pun. Lo cuma… hadir.
Seni juga mengajarkan kita buat melihat lebih lama. Lo nggak bisa nge-swipe lukisan kayak konten Reels. Lo mesti berhenti, mikir, ngerasa. Dan itu, kata psikolog, adalah salah satu bentuk slow living paling murni.
Seni, Kopi, dan Krisis Eksistensi
Generasi sekarang terutama Gen Z lagi jadi generasi paling sadar akan kesehatan mental, tapi juga paling gampang stres. Ironi banget. Lo bisa punya aplikasi meditasi, skincare 10 langkah, tapi tetap ngerasa kosong.
Nah, galeri seni bisa jadi ruang alternatif buat pause dari kekacauan itu. Tempat buat ngobrol sama diri sendiri, tanpa suara notifikasi atau algoritma.
Bahkan, menurut riset yang sama, efek positif ini nggak tergantung kepribadian atau latar belakang seni. Artinya, lo nggak perlu ngerti bedanya Impresionisme dan Surealisme buat bisa ngerasain manfaatnya. Mau lo anak teknik, barista, atau tukang desain, efeknya tetap ada.
Yang penting: lo hadir dan terbuka.
Jadi, Apa Artinya Buat Lo?
Mungkin ini saatnya kita redefinisi “healing”. Nggak melulu liburan ke Bali atau nonton Netflix sampai ketiduran. Kadang, healing itu sesederhana berdiri lima menit di depan lukisan yang nggak lo mengerti, tapi entah kenapa bikin dada terasa ringan.
Karena mungkin, seperti kata peneliti itu, tubuh kita juga butuh “seni yang bisa disentuh mata.”
Jadi minggu ini, gimana kalau coba datang ke galeri terdekat? Entah itu Bentara Budaya, Taman Budaya Yogyakarta, atau bahkan pameran kecil di kampus. Bukan buat konten, tapi buat diri lo sendiri.
Siapa tahu, setelah liat lukisan Van Gogh atau karya seniman lokal, lo keluar dengan tubuh lebih tenang, pikiran lebih terang, dan… stres yang ikut larut di antara sapuan kuas. @dimas





