Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Melihat Lukisan Bisa Turunkan Stres, Bukti Kalau Healing Nggak Harus ke Bali

by dimas
Mei 8, 2026
in Health, Life
A A
Home Life Health
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak, lo lagi capek kerja atau kuliah, terus scroll TikTok dan nemu video orang jalan santai di galeri seni pencahayaan lembut, musik ambient, dan lukisan-lukisan yang kayaknya bisik, “tenang aja, hidup nggak seburuk itu”? Dan anehnya, lo ikut merasa… adem. Padahal cuma nonton lewat layar. Nah, bayangin kalau lo datang langsung.

Ternyata bukan cuma vibes aesthetic doang, tapi literally menyehatkan.

Sebuah penelitian baru dari King’s College London nemuin hal yang agak mind-blowing, melihat karya seni asli di galeri bisa menurunkan hormon stres (kortisol) sampai 22 persen. Iya, 22 persen! Nggak kalah dari efek meditasi atau yoga di retreat mahal.

Galeri, Tempat Healing yang Nggak Lo Sangka

Peneliti ngajak 50 orang usia 18-40 tahun buat liat karya seni kayak Self-Portrait with Bandaged Ear (Van Gogh) sampai A Bar at the Folies-Bergère (Manet). Separuh nonton karya aslinya di galeri, separuh lagi cuma liat versi cetak.

Hasilnya? Yang datang ke galeri punya penurunan hormon stres lebih besar, detak jantung lebih stabil, bahkan suhu kulitnya turun hampir 1°C tanda tubuh lagi relaks tapi tetap terstimulasi. Kayak pas lo lagi di pantai sambil denger lagu kesukaan: tenang, tapi hidup.

Ini Belum Selesai

Persaudaraan sebagai Modal Sosial di Tengah Masyarakat Modern

Piagam Ada, Kursi Hilang: Siapa yang Kalah di Jalur Prestasi SMP Mojokerto?

Dr. Tony Woods, peneliti utama, nyebut efek ini sebagai “cultural workout” buat tubuh. Artinya, seni bukan cuma buat dilihat, tapi juga bisa bikin tubuh lo ikut “olah rasa”.

Kenapa Bisa Begitu?

Secara psikologis, manusia emang makhluk yang haus makna. Kita suka hal indah karena otak kita butuh sesuatu yang memantik rasa kagum (awe). Saat kita ngelihat karya seni apalagi yang asli otak melepaskan dopamin dan serotonin, dua zat bahagia yang bisa menetralkan efek kortisol (hormon stres).

Selain itu, suasana galeri itu sendiri punya efek mindful: ruangan tenang, pencahayaan lembut, dan momen hening yang jarang banget kita temuin di dunia penuh notifikasi ini. Lo nggak perlu mikir deadline, nggak harus perform di depan siapa pun. Lo cuma… hadir.

Seni juga mengajarkan kita buat melihat lebih lama. Lo nggak bisa nge-swipe lukisan kayak konten Reels. Lo mesti berhenti, mikir, ngerasa. Dan itu, kata psikolog, adalah salah satu bentuk slow living paling murni.

Seni, Kopi, dan Krisis Eksistensi

Generasi sekarang terutama Gen Z lagi jadi generasi paling sadar akan kesehatan mental, tapi juga paling gampang stres. Ironi banget. Lo bisa punya aplikasi meditasi, skincare 10 langkah, tapi tetap ngerasa kosong.

Nah, galeri seni bisa jadi ruang alternatif buat pause dari kekacauan itu. Tempat buat ngobrol sama diri sendiri, tanpa suara notifikasi atau algoritma.

Bahkan, menurut riset yang sama, efek positif ini nggak tergantung kepribadian atau latar belakang seni. Artinya, lo nggak perlu ngerti bedanya Impresionisme dan Surealisme buat bisa ngerasain manfaatnya. Mau lo anak teknik, barista, atau tukang desain, efeknya tetap ada.

Yang penting: lo hadir dan terbuka.

Jadi, Apa Artinya Buat Lo?

Mungkin ini saatnya kita redefinisi “healing”. Nggak melulu liburan ke Bali atau nonton Netflix sampai ketiduran. Kadang, healing itu sesederhana berdiri lima menit di depan lukisan yang nggak lo mengerti, tapi entah kenapa bikin dada terasa ringan.

Karena mungkin, seperti kata peneliti itu, tubuh kita juga butuh “seni yang bisa disentuh mata.”

Jadi minggu ini, gimana kalau coba datang ke galeri terdekat? Entah itu Bentara Budaya, Taman Budaya Yogyakarta, atau bahkan pameran kecil di kampus. Bukan buat konten, tapi buat diri lo sendiri.

Siapa tahu, setelah liat lukisan Van Gogh atau karya seniman lokal, lo keluar dengan tubuh lebih tenang, pikiran lebih terang, dan… stres yang ikut larut di antara sapuan kuas. @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

by teguh
Juni 27, 2026

"Masalah sampah di Indonesia bukan hanya persoalan teknis pengelolaan, tetapi persoalan pola pikir. Selama masyarakat masih menganggap sampah sebagai masalah...

Bersih Desa Winongo, Tradisi yang Menjaga Identitas

Bersih Desa Winongo, Tradisi yang Menjaga Identitas

by dimas
Juni 27, 2026

Bersih Desa Winongo 2026 menjadi tradisi yang menjaga identitas, memperkuat gotong royong, dan melestarikan budaya di Kota Madiun. Tabooo.id -...

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

by dimas
Juni 27, 2026

Tabooo Network Indonesia menghadirkan TABOOO Corner di Winongo, ruang baru yang mengajak publik memahami realitas sosial dan budaya. Tabooo.id: Madiun...

Next Post
Bupati Ponorogo Kena OTT, Wabup Langsung Naik: Mampu Jaga Bhumi Reog Tetap Jalan?

Bupati Ponorogo Kena OTT, Wabup Naik: Mampukah Bhumi Reog Tetap Stabil?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id