Jumat, Mei 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Malaysia Kritik Rencana Indonesia Perluas SEA Games

by dimas
Desember 31, 2025
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Usulan Indonesia memperluas SEA Games dengan mengundang negara di luar Asia Tenggara, termasuk Australia dan Selandia Baru, menimbulkan kritik dari Malaysia. Rencana ini, yang disebut “SEA Games Plus”, bisa mengubah karakter ajang olahraga dua tahunan yang telah dibangun puluhan tahun. Kekhawatiran muncul karena konsep tersebut belum dibahas secara menyeluruh di tingkat regional.

NOC Indonesia Dorong SEA Games Lebih Luas

Komite Olimpiade Indonesia (NOC) menargetkan SEA Games diikuti lebih banyak negara. Ketua NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menyatakan pihaknya aktif menjalin komunikasi dengan beberapa negara untuk memperluas cakupan kompetisi.

“Selain 11 negara Asia Tenggara, Bhutan serta beberapa negara Oseania seperti Selandia Baru, Australia, dan Fiji dapat ambil bagian,” ujar Raja Sapta Oktohari pada 25 Desember 2025 di kantor pusat NOC.

Jika rencana ini mendapat persetujuan, Filipina akan menjadi tuan rumah SEA Games Plus pertama pada 2028, setahun setelah SEA Games ke-34 di Malaysia. Kompetisi ini akan digelar terpisah dari SEA Games dua tahunan yang sudah ada.

Malaysia Khawatir Ambisi Indonesia Terlalu Cepat

Pengamat olahraga Malaysia, Pekan Ramli, menyatakan skeptisisme terhadap rencana Indonesia. Ia menekankan bahwa negara-negara Asia Tenggara baru saja mencapai konsensus soal struktur SEA Games, termasuk prioritas cabang olahraga berstandar Olimpiade.

Ini Belum Selesai

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

“Jika idenya hanya memperbesar ajang tanpa tujuan pengembangan yang jelas, itu akan menimbulkan kebingungan,” ujar Pekan.

Ia menambahkan, fokus seharusnya tetap pada penyelenggaraan SEA Games yang ada, terutama SEA Games 2027 di Malaysia, yang harus dijalankan secara kredibel.

Pekan juga menyoroti risiko kesenjangan kompetitif. Menurutnya, mengundang negara kaya dan kuat seperti Australia atau Selandia Baru terlalu cepat dapat membuat dominasi hanya terjadi di beberapa cabang olahraga.

“SEA Games adalah milik semua 11 negara. Indonesia boleh mengusulkan, tetapi ASEAN harus membuat keputusan secara kolektif,” tambahnya.

Potensi Dampak bagi Penonton dan Ekonomi Lokal

Mengundang Australia dan Selandia Baru berpotensi meningkatkan daya tarik ajang dan minat penonton. Namun, beberapa edisi terakhir SEA Games menunjukkan penurunan jumlah penonton arena di Thailand bahkan tampak sepi. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa ajang perlahan kehilangan relevansi di mata publik.

Selain itu, perubahan struktur kompetisi menimbulkan risiko ekonomi dan logistik bagi masyarakat dan penyelenggara lokal. Negara tuan rumah harus menanggung biaya tambahan, sementara tim kecil menghadapi tantangan pendanaan dan persiapan.

Ambisi Indonesia vs Realitas Regional

Gagasan SEA Games Plus mencerminkan ambisi Indonesia memperluas pengaruh olahraga regional. Namun, langkah ini memicu perdebatan soal identitas, kesetaraan, dan kesiapan kawasan. Dalam politik olahraga internasional, ambisi sering bertabrakan dengan realitas lokal.

Bagi masyarakat Asia Tenggara, perubahan simbolik ini terasa jauh dari kebutuhan sehari-hari mereka, yang tetap menuntut ajang olahraga yang adil, kredibel, dan sesuai kapasitas masing-masing negara.as masing-masing negara. @dimas

Tags: Asia TenggaraAustraliaEkonomi IndonesiaKompetisiKritikMalaysiaNasionalolahragaSea Games

Kamu Melewatkan Ini

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

by teguh
Mei 15, 2026

Malam itu kampus di Mataram belum benar-benar ramai. Mahasiswa baru menyiapkan layar ketika suasana berubah mendadak. Petugas keamanan mengawasi proyektor,...

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

Rupiah Melemah, Harga Naik: Masih Yakin Ekonomi Baik-Baik Saja?

Rupiah Melemah, Harga Naik: Masih Yakin Ekonomi Baik-Baik Saja?

by dimas
Mei 13, 2026

Rupiah menyentuh rekor pelemahan baru saat harga kebutuhan pokok terus naik. Di tengah klaim ekonomi tumbuh, publik mulai mempertanyakan realita...

Next Post
Konsep Otomatis

Presiden Prabowo Akan Rayakan Malam Tahun Baru di Aceh

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Sepatu Kekecilan Itu Membunuh? Tragedi Siswa SMK Samarinda Bikin Publik Tersentak

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

Judol Memburu Anak-anak: 80 Ribu Bocah di Bawah 10 Tahun Terpapar

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

Mei 14, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id