Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Malam Datang Terlalu Cepat di Desa Juhu

by teguh
Juli 22, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter
Ketika Gelap Memadamkan Lampu, Harapan Warga Meratus Ikut Meredup. Bukan karena warga Desa Juhu memilih beristirahat lebih awal, melainkan karena gelap kembali menguasai desa setelah Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) rusak diterjang banjir.

Tabooo.id – Senja di Desa Juhu, Kecamatan Batang Alai Timur, bukan lagi penanda hari yang tenang. Begitu matahari menghilang di balik Pegunungan Meratus, kehidupan warga ikut berhenti. Bukan karena mereka ingin beristirahat lebih awal, tetapi karena listrik yang dulu menerangi kampung telah padam setelah Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) rusak diterjang banjir.

Ketika Senja Berarti Hari Harus Berakhir

Di sebuah rumah sederhana, Mulyadi memotret ibunya yang menyalakan lampu templok berbahan bakar minyak tanah. Cahaya kecil itu kini menjadi satu-satunya penerangan keluarga mereka.

“Ya guringan ay (tidur saja) lagi kami kalau sudah malam bang,” katanya.

Bagi warga Desa Juhu, malam bukan lagi waktu untuk berkegiatan. Anak-anak berhenti belajar lebih cepat, sementara orang dewasa memilih beristirahat karena gelap membatasi hampir semua aktivitas.

Malam yang Dulu Penuh Tawa, Kini Tinggal Sunyi

Rahmi Lawati mengenang masa ketika listrik masih menyala. Seusai bekerja di huma dan ladang, para perempuan biasa berkumpul untuk menganyam, memasak, berbagi cerita, hingga mendampingi anak-anak belajar.

Ini Belum Selesai

Manis di Lidah, Berat untuk Tubuh

Pena & Kuas, Bermuara di Canting: Perjalanan Ida Merawat Tembo Batik

“Kalau siang tidak terlalu masalah karena ibu-ibu biasanya sibuk di huma atau ladang. Malam, baru bisa berkumpul,” ujarnya.

Menurut sosiolog Emile Durkheim dalam The Division of Labour in Society (1893), interaksi sehari-hari membangun solidaritas sosial sebuah komunitas. Ketika ruang berkumpul hilang, hubungan sosial perlahan ikut melemah. Apa yang terjadi di Desa Juhu menunjukkan bahwa kehilangan listrik tidak hanya memadamkan lampu, tetapi juga meredupkan kehidupan bersama.

Kini, kebiasaan itu perlahan menghilang. Lampu minyak semakin langka, sedangkan cahayanya tidak cukup terang untuk menopang aktivitas malam. Akibatnya, ruang kebersamaan yang dulu mengikat warga ikut memudar. Seperti dikemukakan sosiolog Emile Durkheim, kehidupan sosial tumbuh melalui interaksi sehari-hari. Ketika ruang pertemuan hilang, solidaritas masyarakat ikut melemah.

Masyarakat Desa Juhu Akhirnya kembali Menggunakan Lampu pelita atau lampu templok dengan minyak tanah.

Merawat Orang Sakit di Tengah Ketakutan

Gelap juga menyulitkan pelayanan kesehatan. Daliyati, tenaga kesehatan di Puskesdes Juhu, tetap melayani pasien meski hanya mengandalkan lampu minyak atau senter.

“Kami merasa takut jika tidak ada lampu. Karena ini pelayanan, tetap diusahakan meski tanpa penerangan,” katanya.

Baginya, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan bagian penting dari keselamatan pasien dan tenaga medis.

Yang Padam Bukan Sekadar Lampu

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Selatan, Rubi, mengingat bahwa Desa Juhu sebenarnya pernah mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya. Mereka pernah mandiri melalui PLTMH yang dibangun secara gotong royong. Kini, pembangkit itu telah berulang kali rusak, sementara keterbatasan anggaran membuat perbaikannya terus tertunda.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Selatan, Rubi, mengingat bahwa masyarakat Desa Juhu sebenarnya pernah mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya.

“Masyarakat adat dulu punya pembangkit listrik tenaga air. Komunitas masyarakat dan Pemerintah Desa Juhu pernah berdaulat atas pangan dan energi,” katanya.

Livelihood Specialist Yayasan Cakrawala Hijau Indonesia (YCHI), Rudy Redhani, menegaskan bahwa listrik merupakan hak dasar masyarakat, bukan sekadar fasilitas pembangunan.

Di Desa Juhu, gelap tidak hanya memadamkan lampu. Gelap mengurangi waktu belajar anak-anak, membatasi pelayanan kesehatan, mengganggu tradisi masyarakat adat, dan menghilangkan ruang berkumpul yang selama ini menjaga kehidupan sosial warga. Selama cahaya belum kembali, malam akan terus datang terlalu cepat, mengingatkan bahwa masih ada sudut Indonesia yang menunggu negara hadir melalui kebutuhan paling mendasaryaitu, listrik. @teguh

Tags: Energi TerbarukanEnergi Untuk SemuaHak Dasar WargaHumanImpactIndonesia TerangInvestigasiKalimantan selatanKeadilan EnergiLifeStoryMasyarakat AdatMeratusPegunungan MeratusPembangunan IndonesiaPemerintah IndonesiaPLTMHTransisi Energi

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Negara Padam: Desa Juhu Menunggu Cahaya yang Tak Pernah Datang

Ketika Negara Padam: Desa Juhu Menunggu Cahaya yang Tak Pernah Datang

by teguh
Juli 22, 2026

Bukan sekadar listrik yang hilang. Negara perlahan menghilang dari kehidupan warga yang tinggal paling jauh dari pusat kekuasaan dan ini...

Proyek Rp260 Miliar Bocor Dua Kali: Infrastruktur Gagal Menjaga Ketahanan Pangan

Proyek Rp260 Miliar Bocor Dua Kali: Infrastruktur Gagal Menjaga Ketahanan Pangan

by teguh
Juli 22, 2026

Bendung Karet Juwana kembali bocor saat musim kemarau tiba. Persoalannya kini bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan kualitas tata kelola proyek,...

Papua Terus Berdarah: Saat Dialog Kalah oleh Senjata

Papua Terus Berdarah: Saat Dialog Kalah oleh Senjata

by dimas
Juli 21, 2026

Konflik Papua kembali memakan korban. Ketika pendekatan keamanan terus mendominasi, ruang dialog semakin menyempit. Benarkah perdamaian hanya bisa lahir melalui...

Next Post
Dibalik kata “Ampun, Bos”: Demokrasi atau Feodalisme Politik?

Dibalik kata "Ampun, Bos": Demokrasi atau Feodalisme Politik?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id