• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Rabu, Maret 25, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Vibes

Mahesa Lawung: Doa Hening dari Hutan Krendowahono untuk Keseimbangan Alam

Oktober 20, 2025
in Vibes
A A
Mahesa Lawung: Doa Hening dari Hutan Krendowahono untuk Keseimbangan Alam

Suasana prosesi Hajad Dalem Wilujengan Nagari Mahesa Lawungterasa terasa sakral dan menenangkan di Alas Krendowahono, Senin, (20/10/2025). (foto sumber: dok.Tabooo.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Budaya – Di bawah rimbunnya pepohonan Alas Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, suasana hening menyelimuti udara sejak pagi, Senin (20/10/2025). Di tempat yang diselimuti ketenangan itu, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Wilujengan Nagari Mahesa Lawung, sebuah upacara adat sakral yang telah diwariskan turun temurun sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Upacara tahunan yang dilaksanakan atas titah Sri Susuhunan Paku Buwono XIII ini menjadi momentum spiritual bagi kraton dan masyarakat Jawa untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta keseimbangan semesta. Dalam tradisi Jawa, Mahesa Lawung dimaknai sebagai laku batin untuk menundukkan sisi liar manusia dan memulihkan harmoni kehidupan di muka bumi.

RelatedPosts

Kuta: Ombak yang Datang, Pikiran yang Pulang

Jalan Santai Bukan Sekadar Jalan: Cara Banjar Legian Kulod Merawat Rasa Jadi “Kita”

“Makna dari tradisi ini adalah pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam, melestarikan lingkungan, serta menghormati kehidupan hewan di hutan,” ujar Pengageng Parentah Kraton Surakarta, KGPH Adipati Dipokusumo, di sela prosesi.

Nama “Mahesa Lawung” berasal dari bahasa Jawa mahesa berarti kerbau, lawung berarti liar atau belum dijinakkan. Simbolisme ini merefleksikan niat suci untuk “memendam” kebodohan dan bahaya, serta menundukkan sisi liar manusia agar kembali selaras dengan alam semesta.

Puncak prosesi ditandai dengan penanaman sesaji berupa kepala kerbau di tengah hutan Krendowahono. Sesaji tersebut bukanlah bentuk persembahan berdarah, melainkan simbol doa dan pengorbanan. Dalam keyakinan masyarakat Jawa, kepala kerbau adalah lambang kekuatan alam yang dikembalikan kepada bumi sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta.

Bagi masyarakat Jawa, Mahesa Lawung bukan hanya ritual simbolik, tetapi juga doa yang ditanam bukan diucapkan. Ketika kepala kerbau ditanam di tanah, doa itu dipercaya menyatu dengan bumi, menjalar ke akar pepohonan, dan menumbuhkan keseimbangan bagi kehidupan.

Dalam upacara yang digelar di tengah hutan tersebut, hadir sejumlah tokoh penting dari lingkungan Kraton Surakarta, di antaranya Permaisuri Kraton Surakarta GKR Pakoe Boewono, GKR Alit selaku Pengageng Keputren Kraton, GRAy Koes Raspiyah, GRAy Koes Rahmaniyah, Sentono Dalem dan ratusan Abdi Dalem Kraton. Mereka mengenakan busana adat lengkap, membawa sesaji, dan melantunkan kidung Jawa yang menggema lembut di antara desir angin.

Suasana prosesi terasa sakral dan menenangkan. Di tengah doa yang mengalun pelan, hutan seolah ikut berpartisipasi. Daun daun bergoyang lirih, angin berembus lembut, seakan turut menyampaikan restu kepada manusia yang datang dengan niat tulus.

Menurut catatan sejarah Kraton Kasunanan, tradisi Mahesa Lawung sudah berlangsung sejak masa Sri Susuhunan Paku Buwono II pada abad ke 18. Kala itu, ritual ini dilaksanakan di hutan kerajaan sebagai wujud permohonan keselamatan raja dan rakyatnya. Seiring perjalanan waktu, makna upacara ini semakin meluas, menjadi simbol hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Kini, di tengah modernitas dan kehidupan yang serba cepat, Mahesa Lawung hadir sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebesaran budaya Jawa bukan sekadar warisan sejarah, melainkan juga kesadaran ekologis dan spiritual yang terus relevan hingga hari ini.

“Seluruh jajaran kraton berkomitmen menjaga nilai nilai luhur yang terkandung dalam setiap tradisi. Mahesa Lawung bukan sekadar ritual adat, melainkan bentuk nyata dari rasa syukur dan doa untuk kelestarian bumi,” tambah Gusti Dipo.

Dengan dilaksanakannya Hajad Dalem Mahesa Lawung, Kraton Surakarta menegaskan bahwa pelestarian budaya juga berarti menjaga keberlanjutan alam. Doa yang dipanjatkan di bawah rindang pepohonan Krendowahono bukan hanya untuk keselamatan raja dan rakyat, tetapi juga untuk bumi yang menjadi rumah bersama.

Saat kepala kerbau ditanam, angin hutan mengalun seperti bisikan doa. Di sanalah, antara tanah dan langit, manusia kembali belajar satu hal penting yang sering terlupa: bahwa kehidupan tidak akan pernah seimbang tanpa rasa hormat terhadap alam. @yudi

Tags: Hajad Dalem Wilujengan Nagari Mahesa LawungKaranganyarKraton Kasunanan SurakartaMahesa LawungPaku Buwono XIII
Next Post
Sisi Tabu Kisah Malin Kundang: Siapa Sebenarnya yang Durhaka?

Sisi Tabu Kisah Malin Kundang: Siapa Sebenarnya yang Durhaka?

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.