Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mahesa Lawung: Doa Hening dari Hutan Krendowahono untuk Keseimbangan Alam

by yudi
Oktober 20, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Budaya – Di bawah rimbunnya pepohonan Alas Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, suasana hening menyelimuti udara sejak pagi, Senin (20/10/2025). Di tempat yang diselimuti ketenangan itu, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Wilujengan Nagari Mahesa Lawung, sebuah upacara adat sakral yang telah diwariskan turun temurun sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Upacara tahunan yang dilaksanakan atas titah Sri Susuhunan Paku Buwono XIII ini menjadi momentum spiritual bagi kraton dan masyarakat Jawa untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta keseimbangan semesta. Dalam tradisi Jawa, Mahesa Lawung dimaknai sebagai laku batin untuk menundukkan sisi liar manusia dan memulihkan harmoni kehidupan di muka bumi.

“Makna dari tradisi ini adalah pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam, melestarikan lingkungan, serta menghormati kehidupan hewan di hutan,” ujar Pengageng Parentah Kraton Surakarta, KGPH Adipati Dipokusumo, di sela prosesi.

Nama “Mahesa Lawung” berasal dari bahasa Jawa mahesa berarti kerbau, lawung berarti liar atau belum dijinakkan. Simbolisme ini merefleksikan niat suci untuk “memendam” kebodohan dan bahaya, serta menundukkan sisi liar manusia agar kembali selaras dengan alam semesta.

Puncak prosesi ditandai dengan penanaman sesaji berupa kepala kerbau di tengah hutan Krendowahono. Sesaji tersebut bukanlah bentuk persembahan berdarah, melainkan simbol doa dan pengorbanan. Dalam keyakinan masyarakat Jawa, kepala kerbau adalah lambang kekuatan alam yang dikembalikan kepada bumi sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta.

Ini Belum Selesai

Asal Usul Kebo Bule Kyai Slamet, Penolak Bala Karaton Surakarta

Politik di Balik Sinkretisme Jawa

Bagi masyarakat Jawa, Mahesa Lawung bukan hanya ritual simbolik, tetapi juga doa yang ditanam bukan diucapkan. Ketika kepala kerbau ditanam di tanah, doa itu dipercaya menyatu dengan bumi, menjalar ke akar pepohonan, dan menumbuhkan keseimbangan bagi kehidupan.

Dalam upacara yang digelar di tengah hutan tersebut, hadir sejumlah tokoh penting dari lingkungan Kraton Surakarta, di antaranya Permaisuri Kraton Surakarta GKR Pakoe Boewono, GKR Alit selaku Pengageng Keputren Kraton, GRAy Koes Raspiyah, GRAy Koes Rahmaniyah, Sentono Dalem dan ratusan Abdi Dalem Kraton. Mereka mengenakan busana adat lengkap, membawa sesaji, dan melantunkan kidung Jawa yang menggema lembut di antara desir angin.

Suasana prosesi terasa sakral dan menenangkan. Di tengah doa yang mengalun pelan, hutan seolah ikut berpartisipasi. Daun daun bergoyang lirih, angin berembus lembut, seakan turut menyampaikan restu kepada manusia yang datang dengan niat tulus.

Menurut catatan sejarah Kraton Kasunanan, tradisi Mahesa Lawung sudah berlangsung sejak masa Sri Susuhunan Paku Buwono II pada abad ke 18. Kala itu, ritual ini dilaksanakan di hutan kerajaan sebagai wujud permohonan keselamatan raja dan rakyatnya. Seiring perjalanan waktu, makna upacara ini semakin meluas, menjadi simbol hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Kini, di tengah modernitas dan kehidupan yang serba cepat, Mahesa Lawung hadir sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebesaran budaya Jawa bukan sekadar warisan sejarah, melainkan juga kesadaran ekologis dan spiritual yang terus relevan hingga hari ini.

“Seluruh jajaran kraton berkomitmen menjaga nilai nilai luhur yang terkandung dalam setiap tradisi. Mahesa Lawung bukan sekadar ritual adat, melainkan bentuk nyata dari rasa syukur dan doa untuk kelestarian bumi,” tambah Gusti Dipo.

Dengan dilaksanakannya Hajad Dalem Mahesa Lawung, Kraton Surakarta menegaskan bahwa pelestarian budaya juga berarti menjaga keberlanjutan alam. Doa yang dipanjatkan di bawah rindang pepohonan Krendowahono bukan hanya untuk keselamatan raja dan rakyat, tetapi juga untuk bumi yang menjadi rumah bersama.

Saat kepala kerbau ditanam, angin hutan mengalun seperti bisikan doa. Di sanalah, antara tanah dan langit, manusia kembali belajar satu hal penting yang sering terlupa: bahwa kehidupan tidak akan pernah seimbang tanpa rasa hormat terhadap alam. @yudi

Tags: KaranganyarKraton Kasunanan Surakarta

Kamu Melewatkan Ini

Dari Gas Subsidi ke Oplosan: Warga Rugi Uang, Dapur Jadi Taruhan

Dari Gas Subsidi ke Oplosan: Warga Rugi Uang, Dapur Jadi Taruhan

by dimas
April 4, 2026

Tabooo.id: Regional - Praktik oplos gas elpiji kembali terbongkar kali ini dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kepolisian Daerah Jawa Tengah...

Bus Sugeng Rahayu Hantam Jembatan Jurug, Pemudik Alami Detik Mencekam

Bus Sugeng Rahayu Hantam Jembatan Jurug, Pemudik Alami Detik Mencekam

by dimas
Maret 19, 2026

Tabooo.id: Regional - Perjalanan mudik yang seharusnya penuh harap berubah menjadi kepanikan. Bus Sugeng Rahayu yang mengangkut pemudik dari Surabaya...

Jelang Lebaran, Pakoe Boewono XIV Bagikan Sembako dari Dana Pribadi

Jelang Lebaran, Pakoe Boewono XIV Bagikan Sembako dari Dana Pribadi

by eko
Maret 17, 2026

Tabooo.id: Regional - Raja Pakoe Boewono XIV turun langsung membagikan sekitar 1.000 paket sembako dan uang fitrah kepada Abdi Dalem...

Next Post
Sisi Tabu Kisah Malin Kundang: Siapa Sebenarnya yang Durhaka?

Sisi Tabu Kisah Malin Kundang: Siapa Sebenarnya yang Durhaka?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id