Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mahesa Lawung: Doa Hening dari Hutan Krendowahono untuk Keseimbangan Alam

by jeje
Oktober 20, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Budaya – Di bawah rimbunnya pepohonan Alas Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, suasana hening menyelimuti udara sejak pagi, Senin (20/10/2025). Di tempat yang diselimuti ketenangan itu, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Wilujengan Nagari Mahesa Lawung, sebuah upacara adat sakral yang telah diwariskan turun temurun sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Upacara tahunan yang dilaksanakan atas titah Sri Susuhunan Paku Buwono XIII ini menjadi momentum spiritual bagi kraton dan masyarakat Jawa untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta keseimbangan semesta. Dalam tradisi Jawa, Mahesa Lawung dimaknai sebagai laku batin untuk menundukkan sisi liar manusia dan memulihkan harmoni kehidupan di muka bumi.

“Makna dari tradisi ini adalah pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam, melestarikan lingkungan, serta menghormati kehidupan hewan di hutan,” ujar Pengageng Parentah Kraton Surakarta, KGPH Adipati Dipokusumo, di sela prosesi.

Nama “Mahesa Lawung” berasal dari bahasa Jawa mahesa berarti kerbau, lawung berarti liar atau belum dijinakkan. Simbolisme ini merefleksikan niat suci untuk “memendam” kebodohan dan bahaya, serta menundukkan sisi liar manusia agar kembali selaras dengan alam semesta.

Puncak prosesi ditandai dengan penanaman sesaji berupa kepala kerbau di tengah hutan Krendowahono. Sesaji tersebut bukanlah bentuk persembahan berdarah, melainkan simbol doa dan pengorbanan. Dalam keyakinan masyarakat Jawa, kepala kerbau adalah lambang kekuatan alam yang dikembalikan kepada bumi sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Bagi masyarakat Jawa, Mahesa Lawung bukan hanya ritual simbolik, tetapi juga doa yang ditanam bukan diucapkan. Ketika kepala kerbau ditanam di tanah, doa itu dipercaya menyatu dengan bumi, menjalar ke akar pepohonan, dan menumbuhkan keseimbangan bagi kehidupan.

Dalam upacara yang digelar di tengah hutan tersebut, hadir sejumlah tokoh penting dari lingkungan Kraton Surakarta, di antaranya Permaisuri Kraton Surakarta GKR Pakoe Boewono, GKR Alit selaku Pengageng Keputren Kraton, GRAy Koes Raspiyah, GRAy Koes Rahmaniyah, Sentono Dalem dan ratusan Abdi Dalem Kraton. Mereka mengenakan busana adat lengkap, membawa sesaji, dan melantunkan kidung Jawa yang menggema lembut di antara desir angin.

Suasana prosesi terasa sakral dan menenangkan. Di tengah doa yang mengalun pelan, hutan seolah ikut berpartisipasi. Daun daun bergoyang lirih, angin berembus lembut, seakan turut menyampaikan restu kepada manusia yang datang dengan niat tulus.

Menurut catatan sejarah Kraton Kasunanan, tradisi Mahesa Lawung sudah berlangsung sejak masa Sri Susuhunan Paku Buwono II pada abad ke 18. Kala itu, ritual ini dilaksanakan di hutan kerajaan sebagai wujud permohonan keselamatan raja dan rakyatnya. Seiring perjalanan waktu, makna upacara ini semakin meluas, menjadi simbol hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Kini, di tengah modernitas dan kehidupan yang serba cepat, Mahesa Lawung hadir sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebesaran budaya Jawa bukan sekadar warisan sejarah, melainkan juga kesadaran ekologis dan spiritual yang terus relevan hingga hari ini.

“Seluruh jajaran kraton berkomitmen menjaga nilai nilai luhur yang terkandung dalam setiap tradisi. Mahesa Lawung bukan sekadar ritual adat, melainkan bentuk nyata dari rasa syukur dan doa untuk kelestarian bumi,” tambah Gusti Dipo.

Dengan dilaksanakannya Hajad Dalem Mahesa Lawung, Kraton Surakarta menegaskan bahwa pelestarian budaya juga berarti menjaga keberlanjutan alam. Doa yang dipanjatkan di bawah rindang pepohonan Krendowahono bukan hanya untuk keselamatan raja dan rakyat, tetapi juga untuk bumi yang menjadi rumah bersama.

Saat kepala kerbau ditanam, angin hutan mengalun seperti bisikan doa. Di sanalah, antara tanah dan langit, manusia kembali belajar satu hal penting yang sering terlupa: bahwa kehidupan tidak akan pernah seimbang tanpa rasa hormat terhadap alam. @yudi

Tags: KaranganyarKraton Kasunanan Surakarta

Kamu Melewatkan Ini

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

by dimas
Oktober 16, 2026

De Tjolomadoe di Karanganyar bertransformasi dari pabrik gula bersejarah menjadi ruang wisata, museum, dan pelestarian jejak kejayaan industri gula Mangkunegaran....

100 Hektare Terbakar, Kebakaran Gunung Lawu Belum Terkendali

100 Hektare Terbakar, Kebakaran Gunung Lawu Belum Terkendali

by dimas
Oktober 16, 2026

Kebakaran Gunung Lawu di Karanganyar meluas hingga 100 hektare. Sebanyak 350 personel dikerahkan, tetapi angin kencang menghambat pemadaman dan mengancam...

KY Gelar Diskusi Publik di Solo Bahas Penguatan Kewenangan

KY Gelar Diskusi Publik di Solo Bahas Penguatan Kewenangan

by eko
September 24, 2026

KY gelar diskusi publik di Solo untuk membahas penguatan kewenangan, kelembagaan, dan pengawasan hakim dalam sistem kekuasaan kehakiman. Tabooo.id: Surakarta...

Next Post
Sisi Tabu Kisah Malin Kundang: Siapa Sebenarnya yang Durhaka?

Sisi Tabu Kisah Malin Kundang: Siapa Sebenarnya yang Durhaka?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id