Mahasiswa UIN Walisongo menuntut transparansi penanganan dugaan kekerasan seksual oleh dosen. Kasus viral ini membuka krisis kepercayaan terhadap sistem kampus.
Tabooo.id – Lampu auditorium kampus masih terang ketika mahasiswa mulai berkumpul di Kampus 3 UIN Walisongo, Senin malam. Mereka tidak datang untuk seminar atau agenda organisasi. Mereka datang membawa keberanian untuk menagih tanggung jawab kampus di tengah mencuatnya dugaan kekerasan seksual yang menyeret dosen berinisial Z.
Mahasiswa secara terbuka menantang Wakil Rektor I Imam Yahya dan Wakil Rektor III Umul Baroroh hadir dalam debat terbuka. Mereka meminta jawaban yang jelas tentang langkah kampus menangani kasus tersebut. Mereka juga ingin memastikan kampus benar-benar berpihak kepada korban, bukan sekadar sibuk menjaga citra institusi.
Namun sampai forum dimulai, pihak rektorat belum memberi kepastian kehadiran.
Di situlah ironi mulai terasa.
Selama ini kampus mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi, kritis, dan berani menyampaikan pendapat. Akan tetapi ketika mahasiswa meminta ruang dialog tentang dugaan kekerasan seksual, kursi pejabat kampus justru kosong.
Mahasiswa Mulai Kehilangan Percaya
Koordinator Bidang Ekonomi, Sosial, dan Politik Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) UIN Walisongo, Farid Muhammad, menegaskan aksi tersebut bukan sekadar protes biasa. Mahasiswa ingin kampus menunjukkan keseriusan dalam menangani dugaan pelecehan seksual di lingkungan akademik.
“Kami menuntut mitigasi lebih lanjut terkait penanganan kekerasan seksual yang terjadi di UIN Walisongo,” kata Farid.
Kasus ini sebelumnya viral setelah akun Instagram @pesan_uinws mengunggah tangkapan layar percakapan vulgar yang diduga dikirim terduga pelaku kepada mahasiswi.
Peristiwa itu kembali menunjukkan satu pola lama: korban lebih dulu mencari ruang aman di media sosial sebelum percaya kepada sistem kampus.
Sampai sekarang, korban belum membuat laporan resmi ke aparat penegak hukum. Trauma dan tekanan psikologis masih membuat korban memilih diam.
Farid mengatakan komentar negatif di media sosial memperburuk kondisi korban. Banyak warganet justru menyudutkan korban dibanding mempertanyakan relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa.
“Korban belum melapor karena trauma dan framing komentar-komentar buruk di media sosial,” ujarnya.
Relasi Kuasa yang Membungkam
Kasus ini tidak lagi sekadar membahas chat vulgar atau dugaan pelecehan seksual. Publik mulai melihat masalah yang lebih besar: relasi kuasa di ruang akademik.
Dosen memiliki nilai, akses organisasi, hingga pengaruh terhadap masa depan mahasiswa. Situasi itu membuat sebagian korban merasa tidak punya posisi aman untuk melawan atau menolak.
Akibatnya, banyak korban memilih diam karena takut kampus mempersulit urusan akademik mereka atau memberi cap buruk kepada korban.
Di titik itu, mahasiswa mulai kehilangan rasa percaya terhadap institusi.
Korban takut bicara.
Mahasiswa turun ke jalan.
Media sosial terasa lebih cepat mendengar dibanding birokrasi kampus.
Ironisnya, kampus sebenarnya memiliki Satgas PPKS, pusat studi gender, dan slogan ruang aman. Namun sistem tersebut belum mampu membuat banyak mahasiswa merasa benar-benar terlindungi.
Farid juga mengungkap informasi bahwa terduga pelaku pernah terseret kasus serupa sejak 2008. Namun kampus disebut tidak pernah menangani dugaan tersebut secara serius.
Kalau informasi itu benar, publik berhak bertanya: berapa banyak orang sebenarnya sudah tahu, tetapi tetap memilih diam?
Kampus Janji Evaluasi Sistem
Di sisi lain, pihak kampus memastikan investigasi internal terus berjalan. Kepala PSGA UIN Walisongo, Kurnia Muhajarah, mengatakan tim investigasi terus mengumpulkan data dan mendalami informasi yang beredar.
Ketua Satgas PPKS UIN Walisongo, Nur Hasyim, juga mengatakan kampus ingin menyelesaikan kasus tersebut secara serius sambil mengevaluasi sistem perlindungan mahasiswa.
Namun publik mulai lelah melihat pola yang terus berulang.
Kasus viral lebih dulu memancing perhatian.
Tekanan publik kemudian mendorong empati.
Evaluasi sistem muncul ketika reputasi kampus mulai terguncang.
Ini bukan sekadar dugaan pelecehan seksual.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana institusi pendidikan sering terlihat modern di brosur, tetapi belum mampu menciptakan ruang aman bagi korban di dunia nyata.
Karena kadang yang paling menghancurkan rasa percaya mahasiswa bukan hanya dugaan pelaku, tetapi lambatnya sistem ketika korban mulai terluka.
“Kampus sering bangga mencetak mahasiswa kritis. Tapi ketika kritik mengarah ke institusi sendiri, yang muncul justru keheningan.” @dimas


