Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kampus dan Budaya Bungkam: Kenapa Korban Kekerasan Seksual Takut Bicara?

by dimas
Mei 11, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Budaya victim blaming dan relasi kuasa membuat banyak korban kekerasan seksual di kampus memilih diam. Di balik ruang akademik yang terlihat aman dan intelektual, banyak korban justru menyimpan ketakutan untuk bicara karena khawatir dihakimi, tidak dipercaya, hingga dianggap merusak nama baik kampus.

Tabooo.id – Lampu kampus masih menyala ketika sebagian mahasiswa memilih pulang lebih cepat malam itu. Bukan karena kelas selesai. Bukan juga karena tugas menumpuk. Rasa takut perlahan tumbuh di ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk belajar.

Dugaan kekerasan seksual yang menyeret nama dosen di UIN Walisongo Semarang bukan cuma memicu kemarahan publik. Kasus itu kembali membuka luka lama tentang budaya bungkam di dunia akademik. Banyak korban memilih diam karena takut tidak dipercaya, takut disalahkan, dan takut masa depannya ikut runtuh.

Di media sosial, publik ramai membahas tangkapan layar percakapan vulgar yang viral melalui akun Instagram @pesan_uinws. Namun di balik unggahan itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa pelaku dan siapa korban: kenapa banyak korban kekerasan seksual di kampus baru berani bicara setelah kasusnya viral?

Jawabannya sederhana, tapi menyakitkan: mereka takut.

Ketakutan yang Tumbuh dari Lingkungan Sekitar

Sebagian orang mengira korban hanya takut pada pelaku. Padahal dalam banyak kasus, tekanan justru datang dari lingkungan sekitar yang lebih cepat menghakimi daripada mendengar.

Ini Belum Selesai

AMPB Tinggalkan DPR, Mengapa Warga Pati Memilih Mengalah?

Apa Itu Masyarakat Prismatik dan Mengapa Masih Relevan?

Korban khawatir publik menganggap mereka terlalu dekat dengan pelaku. Sebagian takut dicap mencari perhatian. Ada juga yang memilih diam karena tidak ingin dianggap merusak nama baik kampus atau organisasi.

Situasi makin rumit ketika korban akhirnya mencoba bicara. Alih-alih memberi dukungan, sebagian publik justru sibuk mempertanyakan sikap korban.

“Kenapa dibalas?”
“Kenapa tidak langsung blokir?”
“Kenapa baru bicara sekarang?”

Kalimat seperti itu terdengar sederhana. Namun bagi korban, pertanyaan tersebut terasa seperti penghakiman kedua setelah trauma pertama.

Dalam kasus dugaan pelecehan seksual di UIN Walisongo, sejumlah mahasiswa menyebut tekanan media sosial ikut memperburuk kondisi korban. Beberapa komentar warganet bahkan menyudutkan korban karena masih merespons pesan dari dosen tersebut.

Di titik itu, korban tidak hanya menghadapi dugaan pelaku. Mereka juga harus menghadapi ruang publik yang sering gagal memahami tekanan psikologis dalam relasi kuasa.

Relasi Kuasa yang Membuat Korban Bungkam

Di lingkungan akademik, dosen bukan sekadar pengajar di ruang kelas. Mereka memiliki nilai, rekomendasi akademik, akses organisasi, bahkan pengaruh terhadap masa depan mahasiswa.

Ketimpangan posisi itu sering membuat mahasiswa merasa tidak punya ruang aman untuk menolak.

Sebagian mahasiswa takut nilainya dipersulit. Sebagian lain khawatir dosen akan mempersulit urusan akademik mereka. Ada juga yang memilih diam karena merasa tidak ada yang benar-benar akan membela mereka ketika kasus mulai terbuka.

Masalahnya, budaya akademik di banyak kampus masih terlalu sibuk menjaga citra institusi dibanding membangun rasa aman bagi korban.

Akibatnya, banyak kampus lebih sibuk melindungi reputasi institusi daripada segera menangani laporan korban sebagai alarm bahaya.

Dari situ, lahirlah budaya paling sunyi sekaligus paling berbahaya: diam demi menjaga nama baik.

Kampus Aman yang Sering Tinggal Slogan

Hampir semua kampus memiliki slogan tentang ruang aman, perlindungan mahasiswa, dan lingkungan akademik sehat. Namun ketika dugaan kekerasan seksual muncul, banyak korban justru memilih media sosial untuk mencari ruang aman dibanding melapor ke sistem resmi kampus.

Fenomena itu tidak muncul tanpa alasan.

Media sosial memberi ruang yang sering gagal diberikan lingkungan sekitar: kesempatan untuk didengar.

Meski penuh risiko, banyak korban merasa viral menjadi satu-satunya cara agar kasus mereka tidak hilang di meja birokrasi atau tenggelam dalam proses panjang yang melelahkan.

Sayangnya, viral juga menghadirkan luka baru. Sorotan publik bisa berubah menjadi penghakiman massal. Identitas korban bisa tersebar. Trauma yang belum pulih dapat muncul kembali lewat komentar-komentar kejam di media sosial.

Situasi itu membuat korban terjebak di dua pilihan buruk: diam sambil memendam luka atau bicara lalu bersiap menghadapi tekanan publik.

Ini Bukan Sekadar Kasus Personal

Kasus kekerasan seksual di kampus hampir selalu muncul dengan pola yang sama. Relasi kuasa menciptakan tekanan. Rasa takut membuat korban memilih diam. Sementara itu, budaya victim blaming terus tumbuh di ruang publik.

Karena itu, publik tidak bisa melihat persoalan ini sebagai kasus personal semata.

Ini pola sosial yang terus berulang.

Ruang pendidikan masih gagal memberi rasa aman sepenuhnya kepada mahasiswa. Banyak korban bahkan lebih dulu menjaga reputasi orang lain daripada memulihkan luka mereka sendiri.

Selama budaya bungkam terus hidup, banyak korban akan tetap memilih diam. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka tahu bahwa berbicara di ruang yang salah bisa terasa lebih menyakitkan daripada luka yang mereka alami.

Lalu pertanyaannya sekarang: kalau ruang pendidikan saja belum mampu memberi rasa aman bagi korban untuk bicara, bagaimana masyarakat bisa percaya bahwa sistem benar-benar mampu menghadirkan keadilan?

“Kadang yang membunuh keberanian korban bukan ancaman pelaku, tapi ketakutan bahwa tidak ada yang benar-benar berpihak pada mereka.” @dimas

Tags: Kekerasan SeksualMahasiswa

Kamu Melewatkan Ini

Rumah dan Sekolah Tak Aman, Mengapa Perempuan Jadi Korban?

Rumah dan Sekolah Tak Aman, Mengapa Perempuan Jadi Korban?

by dimas
Agustus 15, 2026

Rumah dan sekolah belum sepenuhnya aman bagi perempuan. Data 2025 mencatat 38.810 korban kekerasan, dengan anak perempuan sebagai korban terbesar....

Kabar Media Lokal Dilarang Meliput Demo Ramai Dibahas, Apa Faktanya?

Kabar Media Lokal Dilarang Meliput Demo Ramai Dibahas, Apa Faktanya?

by eko
Agustus 7, 2026

Viral klaim pemerintah melarang media lokal meliput demonstrasi jelang HUT ke-81 RI. Penelusuran menunjukkan narasi tersebut tidak benar. Simak fakta...

Guru Ngaji Cabuli Murid di Sukabumi, Kepercayaan yang Dikhianati

Guru Ngaji Cabuli Murid di Sukabumi, Kepercayaan yang Dikhianati

by dimas
Agustus 4, 2026

Guru mengaji di Sukabumi diduga mencabuli murid selama lima tahun. Kasus ini memicu sorotan terhadap lemahnya perlindungan dan pengawasan anak....

Next Post
Mortal Kombat II: Kritikus dan Fans Beda, Selera Film Kita Makin Tidak Nyambung?

Mortal Kombat II: Kritikus dan Fans Beda, Selera Film Kita Makin Tidak Nyambung?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id