Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

LPDP Viral, Stella Christie Soroti Tanggung Jawab Penerima Beasiswa

by dimas
Februari 23, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Kontroversi menimpa penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, setelah konten viralnya menyatakan, “Cukup saya WNI, anak jangan,” terkait status kewarganegaraan anaknya. Menyikapi hal itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek), Stella Christie, memberikan peringatan keras kepada publik dan penerima beasiswa.

Stella menegaskan bahwa setiap beasiswa negara merupakan amanah, bukan sekadar fasilitas pribadi.

“Kontroversi ini mencerminkan kegagalan pendidikan moral sejak dini. Penerima beasiswa harus memahami bahwa mereka memegang tanggung jawab, bukan hak semata,” ujar Stella, Minggu (22/2/2026).

Lebih jauh, Stella menambahkan bahwa memperketat aturan secara berlebihan justru bisa menimbulkan sikap sinis. Ia menjelaskan, penerima beasiswa bisa kehilangan rasa syukur dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban. Sebaliknya, ia mendorong kepercayaan, agar awardee dapat menemukan caranya sendiri untuk memberi manfaat bagi bangsa.

Mengabdi Tanpa Pulang Segera ke Tanah Air

Selain itu, Stella menekankan bahwa mengabdi kepada Indonesia tidak selalu berarti harus pulang segera. Ia mencontohkan bahwa bertahan lebih lama di luar negeri hingga menduduki posisi strategis justru memberi manfaat lebih luas. Misalnya, warga India yang menjadi pemimpin di Silicon Valley, seperti Sundar Pichai, berhasil menciptakan aliran investasi dan lapangan kerja bagi negaranya.

Ini Belum Selesai

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

Stella sendiri sebagai ilmuwan diaspora selalu menegaskan identitas Indonesia di kancah internasional. Ia menilai, kontribusi diaspora sering tidak terlihat secara langsung, tetapi membuka peluang bagi generasi muda di tanah air.

“Memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk,” tambahnya.

Menumbuhkan Patriotisme dari Rumah

Dalam konteks ini, Stella memberikan tips menumbuhkan rasa patriotisme. Ia menyarankan penerima beasiswa untuk fokus memberi manfaat bagi individu di Indonesia, bukan sekadar institusi. Fokus pada individu membuat pemikiran mereka lebih tajam.

Ia juga menekankan penggunaan bahasa Indonesia di rumah. Bahkan suaminya yang berasal dari Polandia diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia. Stella menegaskan, kemampuan berbahasa Indonesia bukan beban, melainkan senjata ampuh dalam berkontribusi bagi bangsa.

Teguran LPDP dan Kontroversi Dwi Sasetyaningtyas

Sementara itu, LPDP memberikan teguran resmi dan klarifikasi terkait konten Dwi. Kontroversi ini memuncak ketika publik menyoroti kehidupan pribadi Dwi dan dugaan suaminya yang belum menuntaskan kewajiban sebagai penerima LPDP.

Dwi, alumnus Teknik Kimia ITB, melanjutkan studi S2 di Delft University of Technology, Belanda. Selama menunaikan kewajiban LPDP, ia menanam 10 ribu pohon bakau, memberdayakan ibu rumah tangga, mendukung penanggulangan bencana di Sumatra, dan membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dampak bagi Masyarakat dan Refleksi

Kontroversi ini menyoroti bagaimana publik menilai penerima fasilitas negara. Dampaknya terasa pada persepsi masyarakat terhadap LPDP dan generasi muda penerima beasiswa. Pihak yang paling terdampak adalah anak-anak penerima beasiswa dan masyarakat yang menunggu kontribusi nyata dari awardee.

Di tengah polemik ini, Stella mengingatkan bahwa pengabdian tidak harus selalu terlihat langsung. Kadang, bekerja dari jauh dengan posisi strategis justru memberikan manfaat lebih besar daripada aksi simbolik. Ini menjadi pengingat bahwa patriotisme kadang lebih soal substansi daripada penampilan dan media sosial selalu berhasil membuat segalanya terlihat dramatis. @dimas

Tags: AktivisBeasiswaDiasporaKontroversiLPDPNasionalNegaraPendidikanSosial

Kamu Melewatkan Ini

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

by teguh
Juni 27, 2026

"Masalah sampah di Indonesia bukan hanya persoalan teknis pengelolaan, tetapi persoalan pola pikir. Selama masyarakat masih menganggap sampah sebagai masalah...

Prestasi Tinggi, Data Ter-hidden: Hak Anak Nyaris Tersingkir dari SMP Negeri

Prestasi Tinggi, Data Ter-hidden: Hak Anak Nyaris Tersingkir dari SMP Negeri

by teguh
Juni 23, 2026

Sistem SPMB Palembang sempat menghalangi seorang siswa berprestasi masuk SMP negeri. Sistem tidak menampilkan data pendaftaran siswa itu pada daftar...

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

by teguh
Juni 18, 2026

Media sosial sering mengabadikan kesalahan lebih lama daripada kebaikan. Satu unggahan bisa berubah menjadi ruang sidang publik dalam hitungan menit....

Next Post
Indonesia Tegaskan Sertifikasi Halal Tetap Berlaku untuk Produk AS

Indonesia Tegaskan Sertifikasi Halal Tetap Berlaku untuk Produk AS

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id