Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

LPDP Viral, Stella Christie Soroti Tanggung Jawab Penerima Beasiswa

by dimas
Februari 23, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Kontroversi menimpa penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, setelah konten viralnya menyatakan, “Cukup saya WNI, anak jangan,” terkait status kewarganegaraan anaknya. Menyikapi hal itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek), Stella Christie, memberikan peringatan keras kepada publik dan penerima beasiswa.

Stella menegaskan bahwa setiap beasiswa negara merupakan amanah, bukan sekadar fasilitas pribadi.

“Kontroversi ini mencerminkan kegagalan pendidikan moral sejak dini. Penerima beasiswa harus memahami bahwa mereka memegang tanggung jawab, bukan hak semata,” ujar Stella, Minggu (22/2/2026).

Lebih jauh, Stella menambahkan bahwa memperketat aturan secara berlebihan justru bisa menimbulkan sikap sinis. Ia menjelaskan, penerima beasiswa bisa kehilangan rasa syukur dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban. Sebaliknya, ia mendorong kepercayaan, agar awardee dapat menemukan caranya sendiri untuk memberi manfaat bagi bangsa.

Mengabdi Tanpa Pulang Segera ke Tanah Air

Selain itu, Stella menekankan bahwa mengabdi kepada Indonesia tidak selalu berarti harus pulang segera. Ia mencontohkan bahwa bertahan lebih lama di luar negeri hingga menduduki posisi strategis justru memberi manfaat lebih luas. Misalnya, warga India yang menjadi pemimpin di Silicon Valley, seperti Sundar Pichai, berhasil menciptakan aliran investasi dan lapangan kerja bagi negaranya.

Ini Belum Selesai

Kapolda Sulsel Usul Arena Tawuran 10 Lawan 10, Polisi Bidik Produsen Busur

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Stella sendiri sebagai ilmuwan diaspora selalu menegaskan identitas Indonesia di kancah internasional. Ia menilai, kontribusi diaspora sering tidak terlihat secara langsung, tetapi membuka peluang bagi generasi muda di tanah air.

“Memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk,” tambahnya.

Menumbuhkan Patriotisme dari Rumah

Dalam konteks ini, Stella memberikan tips menumbuhkan rasa patriotisme. Ia menyarankan penerima beasiswa untuk fokus memberi manfaat bagi individu di Indonesia, bukan sekadar institusi. Fokus pada individu membuat pemikiran mereka lebih tajam.

Ia juga menekankan penggunaan bahasa Indonesia di rumah. Bahkan suaminya yang berasal dari Polandia diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia. Stella menegaskan, kemampuan berbahasa Indonesia bukan beban, melainkan senjata ampuh dalam berkontribusi bagi bangsa.

Teguran LPDP dan Kontroversi Dwi Sasetyaningtyas

Sementara itu, LPDP memberikan teguran resmi dan klarifikasi terkait konten Dwi. Kontroversi ini memuncak ketika publik menyoroti kehidupan pribadi Dwi dan dugaan suaminya yang belum menuntaskan kewajiban sebagai penerima LPDP.

Dwi, alumnus Teknik Kimia ITB, melanjutkan studi S2 di Delft University of Technology, Belanda. Selama menunaikan kewajiban LPDP, ia menanam 10 ribu pohon bakau, memberdayakan ibu rumah tangga, mendukung penanggulangan bencana di Sumatra, dan membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dampak bagi Masyarakat dan Refleksi

Kontroversi ini menyoroti bagaimana publik menilai penerima fasilitas negara. Dampaknya terasa pada persepsi masyarakat terhadap LPDP dan generasi muda penerima beasiswa. Pihak yang paling terdampak adalah anak-anak penerima beasiswa dan masyarakat yang menunggu kontribusi nyata dari awardee.

Di tengah polemik ini, Stella mengingatkan bahwa pengabdian tidak harus selalu terlihat langsung. Kadang, bekerja dari jauh dengan posisi strategis justru memberikan manfaat lebih besar daripada aksi simbolik. Ini menjadi pengingat bahwa patriotisme kadang lebih soal substansi daripada penampilan dan media sosial selalu berhasil membuat segalanya terlihat dramatis. @dimas

Tags: AktivisBeasiswaDiasporaKontroversiLPDPNasionalNegaraPendidikanSosial

Kamu Melewatkan Ini

Tiga Murid, Tiga Masa Depan, Sekolah Sepi: Terus Negara Hadir Sejauh Apa?

Tiga Murid, Tiga Masa Depan, Sekolah Sepi: Terus Negara Hadir Sejauh Apa?

by teguh
Oktober 5, 2026

Sekolah sepi bukan berarti hak pendidikan boleh ikut sepi. Di Mentarang Hulu, Kalimantan Utara, sebuah sekolah dasar hanya memiliki tiga...

Kemhan Klarifikasi: 121 Pelajar Bela Negara, Bukan Komcad, Bukan Hukuman Demo, Lalu?

Kemhan Klarifikasi: 121 Pelajar Bela Negara, Bukan Komcad, Bukan Hukuman Demo, Lalu?

by teguh
September 11, 2026

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Klarifikasi dan menegaskan program pembinaan Bela Negara bagi 121 pelajar bukan hukuman atas aksi demonstrasi 27/08/2026. Tabooo.id:...

Mahasiswa FK-UB Jatuh, Kampus Gagal Membaca Krisis?

Mahasiswa FK-UB Jatuh, Kampus Gagal Membaca Krisis?

by teguh
September 11, 2026

Kasus RR, mahasiswa FK-UB (Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya), membuka pertanyaan yang lebih besar seberapa jauh perguruan tinggi mampu mengenali tekanan...

Next Post
Indonesia Tegaskan Sertifikasi Halal Tetap Berlaku untuk Produk AS

Indonesia Tegaskan Sertifikasi Halal Tetap Berlaku untuk Produk AS

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id