Tabooo.id: Entertainment – Apa lagi yang belum dicoba Lisa BLACKPINK? Panggung dunia sudah. Fashion global juga. Sekarang, ia melangkah ke medan baru: layar lebar.
Setelah mencuri perhatian lewat The White Lotus Season 3, Lisa bersiap debut film layar lebar. Proyeknya berjudul Tygo, film laga produksi Netflix. Kali ini, ia tidak sekadar tampil. Ia ikut masuk ke dunia keras penuh pukulan dan intrik kriminal.
Langkah ini terasa berani. Namun, justru di situlah daya tariknya.
Tygo, Extraction Versi Korea yang Lebih Brutal
Tygo merupakan bagian dari semesta Extraction. Waralaba Netflix ini sudah berjalan sejak 2020 dan berakar dari novel grafis karya Anthony dan Joe Russo bersama Ande Parks.
Bedanya, Tygo membawa identitas Korea Selatan secara penuh. Don Lee alias Ma Dong-seok tampil sebagai tokoh utama sekaligus produser lewat Big Punch Pictures. Ia berbagi layar dengan Lee Jin-uk, aktor yang dikenal lewat peran-peran intens.
Lisa ikut bergabung sebagai salah satu pemeran utama. Ini bukan cameo singkat. Ini debut layar lebar yang sesungguhnya.
Cerita Balas Dendam, Tanpa Basa-Basi
Film ini mengikuti kisah Tygo, mantan tentara anak yang berubah menjadi tentara bayaran. Sebuah operasi gagal menyeretnya ke misi balas dendam di dunia kriminal Korea.
Naskah ditulis Cha Woo-jin. Kursi sutradara diisi Lee Sang-young, sosok di balik The Roundup dan The Roundup: No Way Out. Dengan kombinasi ini, penonton bisa menebak arahnya: tempo cepat, aksi rapat, dan emosi mentah.
Angela Russo-Otstot dari AGBO menyebut Tygo sebagai cara baru menjelajahi dunia Extraction lewat lensa Korea. Dengan kata lain, ini bukan adaptasi asal jadi. Ini ekspansi serius.
Lisa dan Pilihan yang Tidak Aman
Dalam pernyataannya, Lisa mengaku merasa terhormat dan bersyukur. Bermain di film laga, katanya, adalah impian lama. Debut layar lebarnya pun terasa sangat istimewa.
Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun, maknanya besar. Film laga bukan genre aman, apalagi untuk debut. Kesalahan kecil bisa berujung cap “sekadar gimmick”.
Namun Lisa memilih jalan menanjak. Ia tidak bermain aman. Ia memilih genre yang menuntut fisik, disiplin, dan ketahanan mental.
Ketika Idol Tak Mau Lagi Dikotakkan
Ada ironi menarik di sini. Dulu, idol sering diragukan saat masuk dunia akting. Kini, industri global justru memburu mereka. Popularitas lintas negara berubah jadi nilai jual nyata.
Meski begitu, popularitas saja tidak cukup. Kualitas tetap jadi penentu. Lisa tampaknya sadar betul soal itu. Ia tidak memulai dari peran ringan atau drama aman. Ia langsung terjun ke dunia keras dan gelap.
Di titik ini, Lisa tidak hanya bicara soal karier pribadi. Ia mewakili generasi baru artis Asia. Mereka lintas genre. Mereka lintas negara. Dan mereka menolak satu label.
Lebih dari Sekadar Debut
Tygo bukan sekadar film laga. Ia menjadi penanda pergeseran besar dalam hiburan global. Asia tak lagi jadi latar. Ia kini jadi pusat cerita.
Lalu, apakah Lisa akan bersinar di dunia laga seperti di panggung musik? Jawabannya akan datang nanti.
Namun satu hal sudah jelas: Lisa terus bergerak. Ia memilih risiko. Dan di era hiburan yang cepat bosan, keberanian itu terasa menyegarkan. @eko




