Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak sih menunggu sesuatu terlalu lama, sampai akhirnya lupa rasanya berharap? Lalu, tepat ketika ingatan itu muncul lagi, kabarnya justru mematahkan semuanya. Begitulah nasib Prince of Persia: The Sands of Time Remake. Game yang lama dinanti, sering dirumorkan, dan akhirnya… resmi dibatalkan.
Padahal, akhir tahun lalu sempat muncul angin segar. Remake legendaris ini diprediksi rilis Januari 2026. Tak lama kemudian, jadwalnya mundur ke Maret. Fans masih bertahan. Namun, harapan itu akhirnya runtuh ketika Ubisoft menarik jam pasir dan berkata, “Kami berhenti.”
Dari Harapan Tinggi ke Keputusan Pahit
Kabar pembatalan ini datang langsung dari akun Twitter/X resmi franchise Prince of Persia. Tim pengembang mengaku mengambil keputusan sulit. Mereka sadar betul, game ini punya makna besar. Bukan hanya bagi fans, tetapi juga bagi tim yang sudah mencurahkan tenaga dan emosi.
Namun, realita berbicara lain. Meski proyek ini punya potensi, tim merasa hasilnya tidak bisa mencapai standar kualitas yang mereka inginkan. Untuk mengejarnya, mereka membutuhkan waktu lebih lama dan biaya lebih besar. Sayangnya, komitmen sebesar itu tidak bisa mereka janjikan saat ini.
Karena itulah, Ubisoft memilih berhenti. Mereka tidak ingin merilis sesuatu yang setengah matang. Menurut mereka, The Sands of Time layak mendapatkan perlakuan lebih baik. Meski begitu, mereka menegaskan satu hal penting: Prince of Persia sebagai semesta cerita tetap berlanjut.
Di akhir pesan, tim pengembang mengucapkan terima kasih kepada fans yang setia mendukung. Kalimat sederhana, tapi tetap terasa getir.
Bukan Sekadar Batal, Tapi Efek Domino
Jika dilihat lebih luas, pembatalan ini bukan kejadian tunggal. Ubisoft sedang menjalani restrukturisasi besar-besaran. Total, ada lima game yang mereka batalkan. Isinya beragam: satu dari franchise lama, tiga IP baru, dan satu game mobile.
Menurut Ubisoft, proyek-proyek itu gagal memenuhi standar kualitas terbaru dan tidak masuk prioritas portofolio studio. Dengan kata lain, mereka sedang memilah mana yang dianggap “layak diselamatkan” dan mana yang harus dilepas.
Sebagai langkah lanjutan, Ubisoft membentuk lima “Creative House”. Salah satunya adalah Vantage Studios, yang kini fokus menggarap Assassin’s Creed, Far Cry, dan Rainbow Six. Tiga nama besar. Tiga brand kuat. Tiga zona aman.
Tak heran, sepanjang 2025 Ubisoft jarang terlihat di acara besar seperti Summer Game Fest atau The Game Awards. Alih-alih pamer proyek, mereka sibuk berbenah dari dalam.
Nostalgia yang Tak Selalu Menang
Kasus Prince of Persia ini memberi pelajaran penting. Nostalgia memang kuat. Namun, nostalgia tidak selalu cukup untuk menyelamatkan sebuah proyek. Di industri game modern, emosi harus berhadapan langsung dengan angka, strategi, dan risiko bisnis.
Ironisnya, remake sering dianggap aman. Namun, ketika ekspektasi fans terlalu tinggi dan biaya produksi terus membengkak, “aman” justru berubah menjadi tekanan. Dalam situasi seperti itu, warisan masa lalu bisa terasa seperti beban.
Ubisoft memilih tidak merusak nama besar The Sands of Time. Keputusan ini terasa menyakitkan, tetapi juga masuk akal. Lebih baik tidak ada, daripada hadir tapi mengecewakan.
Jam Pasir Berhenti, Diskusi Dimulai
Kini, jam pasir The Sands of Time Remake benar-benar berhenti. Namun, pertanyaannya masih bergulir: apakah keputusan ini akan membuat Ubisoft lebih kuat ke depan?
Yang jelas, kisah ini mengingatkan kita satu hal. Tidak semua kenangan bisa diulang. Dan terkadang, melepaskan justru menjadi cara terbaik untuk menjaga legenda tetap utuh.
Kalau menurut kamu, lebih baik mana: remake yang sempurna tapi tak kunjung datang, atau versi baru yang berani ambil risiko? @eko





