Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Lagu “Sumbang” dan Negeri yang Tak Pernah Selesai dengan Politik

by eko
Mei 14, 2026
in Culture, Musik
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter
Lagu “Sumbang” karya Iwan Fals bukan sekadar nostalgia musik lawas era 1980-an. Di balik liriknya, Iwan Fals menumpahkan kemarahan terhadap politik yang penuh tipu daya, perebutan kuasa, dan pengkhianatan. Ironisnya, lebih dari empat dekade berlalu sejak lagu itu lahir pada 1983, kritik di dalamnya masih terasa dekat dengan situasi hari ini.

Tabooo.id – Iwan Fals merilis album ketujuhnya yang berjudul Sumbang pada 1983. Setelah tidak menulis seluruh lagu di album sebelumnya, kali ini ia kembali menciptakan semua materi lagu sendiri. Seperti karya-karyanya pada masa itu, hampir seluruh isi album membawa kritik sosial yang tajam.

Lewat lagu “Celoteh Camar Tolol dan Cemar”, Iwan menyorot tragedi tenggelamnya Kapal Tampomas II. Ia juga mengkritik dunia perkeretaapian dan kepolisian lewat lagu “Kereta Tiba Pukul Berapa”. Meski terdengar seperti lagu bertutur biasa, liriknya menyimpan sindiran yang tajam. Sementara lagu lain seperti “Semoga Kau Tak Tuli Tuhan”, “Jendela Kelas Satu”, dan “Sumbang” terus hidup di telinga pendengar lintas generasi.

Lagu Lama yang Tidak Pernah Kehilangan Gigitannya

Ada lagu yang selesai ketika musiknya berhenti.
Tapi ada juga lagu yang justru terasa makin hidup setiap kali keadaan negara memburuk.

“Sumbang” masuk dalam kategori kedua.

Lewat lagu ini, Iwan Fals tidak hanya membuat musik. Ia merekam keresahan sosial yang terus berulang sampai hari ini.

Ini Belum Selesai

Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Kisah Raden Ronggo dari Madiun

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Sejak bait awal, Iwan langsung membawa pendengar masuk ke suasana gelap:

“Kuatnya belenggu besi
Mengikat kedua kaki…”

Lirik itu tidak hanya bicara soal rasa takut. Iwan menggambarkan sistem yang menekan manusia sampai kehilangan ruang untuk bergerak.

Politik Berganti, Tapi Polanya Tetap Sama

Masalahnya, lebih dari 40 tahun berlalu, lirik itu masih terasa relevan.

Publik terus melihat elite politik saling serang demi kekuasaan. Kasus korupsi terus muncul dengan pola serupa. Rakyat kecil juga terus menanggung dampak dari permainan kepentingan para elite.

Di titik itu, “Sumbang” terasa seperti soundtrack yang tidak pernah pensiun.

Bagian paling keras muncul dalam lirik:

“Maling teriak maling, sembunyi balik dinding…”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru kesederhanaan itu membuatnya menampar.

Iwan Fals tidak memakai istilah politik rumit. Ia memilih bahasa jalanan yang mudah dipahami rakyat biasa. Karena itu, kritiknya terasa lebih dekat dan lebih jujur.

Dan ironisnya, pola yang ia kritik masih sering muncul sampai sekarang.

Musik Pernah Menjadi Senjata Perlawanan

Hari ini, banyak orang paling keras bicara soal moral justru tersandung kasus. Sebagian tokoh mengaku membela rakyat, tapi sibuk menjaga kepentingan kelompok sendiri.

Sementara itu, publik terus menonton drama politik dengan pola lama dan pemain berbeda.

Karena itu, “Sumbang” bukan sekadar lagu protes. Lagu ini berubah menjadi cermin sosial.

Iwan Fals juga menunjukkan satu hal penting: musik Indonesia dulu berani menggigit.

Pada era 1980-an dan 1990-an, banyak musisi memakai lagu sebagai alat perlawanan budaya. Mereka tidak hanya mengejar hiburan. Mereka juga menyuarakan kemarahan rakyat lewat musik.

Dan Iwan Fals berdiri di barisan depan gerakan itu.

Kritik yang Tidak Pernah Kedaluwarsa

“Sumbang” terasa menakutkan karena kritik di dalamnya belum kehilangan relevansi.

Pertanyaan dalam lagu itu masih terasa tajam:

“Apakah selamanya politik itu kejam?”

Sampai hari ini, publik tampaknya belum menemukan jawaban yang benar-benar meyakinkan.

Setiap kali rakyat berharap keadaan berubah, pola lama kembali muncul: janji, konflik, saling tuding, lalu lupa pada manusia yang terkena dampaknya.

Karena itu, “Sumbang” bukan sekadar lagu nostalgia.

Lagu ini adalah alarm sosial yang terus berbunyi sejak 1983.

Dan selama politik masih lebih sibuk memelihara kekuasaan daripada menjaga keadilan, lagu ini akan terus terasa relevan di telinga banyak orang.@eko

Tags: CultureEmpatiIwan Falsmusik indonesiaPolitik Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

by teguh
Juni 25, 2026

Presiden Prabowo Subianto mengaku mengetahui pihak yang diduga membiayai sejumlah aksi demonstrasi. Ia menyampaikan klaim itu saat menghadiri Puncak Pekan...

Kantata Takwa, Bento, Bongkar: Ketika Kritik Lama Bertemu Elite Masa Kini

Kantata Takwa, Bento, Bongkar: Ketika Kritik Lama Bertemu Elite Masa Kini

by teguh
Juni 21, 2026

Malam itu, Stadion Utama Gelora Bung Karno tidak hanya menjadi lokasi konser Kantata Takwa. Lebih dari seratus ribu orang memenuhi...

Bento, Bongkar, dan Generasi yang Masih Marah: Mengapa SWAMI Tak Pernah Usang?

Bento, Bongkar, dan Generasi yang Masih Marah: Mengapa SWAMI Tak Pernah Usang?

by teguh
Juni 21, 2026

Tiga puluh tujuh tahun setelah SWAMI merilis album debutnya pada 1989, “Bento” dan “Bongkar” masih terdengar seperti surat terbuka untuk...

Next Post
Love Scamming di Balik Jeruji: Ketika Penjara Jadi Markas Penipuan Digital

Love Scamming di Balik Jeruji: Ketika Penjara Jadi Markas Penipuan Digital

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id