Tabooo.id: Film – Pernah nggak, libur Natal dan Tahun Baru tiba, tapi rencana liburan justru mentok di kepala? Mall sesak. Jalanan padat. Grup keluarga ribut soal jadwal. Dalam situasi seperti itu, bioskop sering jadi pilihan paling masuk akal ruangan gelap, AC dingin, dan hidup boleh berhenti sejenak selama dua jam.
Kabar baiknya, Nataru 2025/2026 datang dengan amunisi penuh dari film Indonesia. Genre-nya beragam, tapi arahnya jelas. Horor memimpin barisan, sementara komedi dan drama hadir sebagai penyeimbang emosi. Tinggal pilih sesuai kondisi mental dan stamina liburan.
Bioskop dan Momentum Akhir Tahun
Industri film paham betul satu hal Desember sampai Januari selalu jadi musim panen. Karena itu, perfilman Indonesia tak mau setengah-setengah. Tahun ini, layar bioskop dipenuhi cerita tentang jin, dosa ekonomi, konflik keluarga, cinta tanpa restu, sampai persahabatan absurd yang siap mengocok perut.
Dengan kata lain, pilihan lengkap sudah tersedia. Penonton tinggal menentukan mau pulang dengan jantung deg-degan atau perut sakit karena kebanyakan ketawa.
Horor Tetap Jadi Raja Layar
Pertama-tama, kita bicara soal penguasa lama horor.
Awal Desember dibuka oleh Riba (4 Desember). Film horor religi ini mengaitkan teror gaib dengan keputusan ekonomi. Ceritanya sederhana, tapi menohok. Utang bukan cuma bikin stres, tapi juga bisa mengundang sesuatu yang tak kasat mata. Di sini, horor hadir bukan sekadar jumpscare, melainkan juga peringatan moral.
Selanjutnya, Qorin 2 (18 Desember) menaikkan intensitas. Trauma lama belum selesai, teror justru semakin dalam. Film ini mengandalkan konflik batin dan ketegangan psikologis, bukan hanya kejutan sesaat.
Menjelang Natal, Janur Ireng (24 Desember) masuk dengan horor Jawa yang pelan tapi menekan. Ritual, simbol, dan kesunyian bekerja sebagai senjata utama. Tak lama setelah itu, Dusun Mayit (31 Desember) menutup tahun dengan formula klasik pendaki, desa misterius, aturan gaib, dan rahasia yang seharusnya tidak diganggu.
Memasuki Januari, horor tak kehilangan napas. Malam 3 Yasinan (8 Januari) mengolah tradisi duka menjadi sumber teror. Alas Roban (15 Januari) memanfaatkan mitos jalan legendaris yang sudah lama hidup di cerita rakyat. Sementara itu, Rasuk (22 Januari), dibintangi Maudy Ayunda, memilih jalur horor psikologis dengan tekanan batin sebagai pemicu kerasukan. Akhirnya, Kuyank (29 Januari) menutup bulan dengan urban legend yang terasa dekat karena berangkat dari kejadian sehari-hari.
Komedi dan Drama Datang sebagai Penawar
Meski horor mendominasi, genre ringan tetap mendapat ruang.
Mertua Ngeri Kali (11 Desember) mengangkat konflik klasik menantu dan mertua. Komedinya sederhana, tapi relevan. Film ini cocok ditonton bersama keluarga atau setidaknya jadi bahan obrolan setelahnya.
Di tanggal yang sama, Mengejar Restu hadir dengan drama romantis yang hangat. Film ini menegaskan satu realitas di Indonesia, cinta jarang berdiri sendiri. Restu orang tua, nilai keluarga, dan prinsip hidup sering ikut menentukan arah hubungan.
Sementara itu, Agak Laen 2 (25 Desember) tampil sebagai kartu AS. Setelah film pertamanya menembus lebih dari 7 juta penonton, sekuelnya kembali membawa komedi absurd yang lebih liar. Film ini pas untuk kamu yang ingin tertawa tanpa perlu berpikir keras, terutama setelah kenyang makan besar Natal.
Kenapa Horor Justru Laris Saat Liburan?
Menariknya, mayoritas film Nataru tahun ini justru horor. Ironis? Bisa jadi. Namun, mungkin juga jujur. Di tengah libur yang identik dengan kebahagiaan, film-film ini memotret kegelisahan kolektif soal dosa, trauma, tradisi, dan tekanan hidup.
Lewat layar lebar, penonton diajak takut, tertawa, dan merenung sekaligus. Bioskop pun berubah menjadi ruang aman untuk menghadapi ketakutan tentu saja dalam versi fiksi.
Sekarang, pertanyaannya tinggal satu kamu tim horor, komedi, atau drama? Atau justru menonton semuanya biar liburan terasa benar-benar “worth it”? Kalau masih bingung, tenang saja diskusinya bisa lanjut di antrean popcorn. @dimas




