Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Libur Nataru, Deretan Film Indonesia yang Wajib Ditonton

by dimas
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Film – Pernah nggak, libur Natal dan Tahun Baru tiba, tapi rencana liburan justru mentok di kepala? Mall sesak. Jalanan padat. Grup keluarga ribut soal jadwal. Dalam situasi seperti itu, bioskop sering jadi pilihan paling masuk akal ruangan gelap, AC dingin, dan hidup boleh berhenti sejenak selama dua jam.

Kabar baiknya, Nataru 2025/2026 datang dengan amunisi penuh dari film Indonesia. Genre-nya beragam, tapi arahnya jelas. Horor memimpin barisan, sementara komedi dan drama hadir sebagai penyeimbang emosi. Tinggal pilih sesuai kondisi mental dan stamina liburan.

Bioskop dan Momentum Akhir Tahun

Industri film paham betul satu hal Desember sampai Januari selalu jadi musim panen. Karena itu, perfilman Indonesia tak mau setengah-setengah. Tahun ini, layar bioskop dipenuhi cerita tentang jin, dosa ekonomi, konflik keluarga, cinta tanpa restu, sampai persahabatan absurd yang siap mengocok perut.

Dengan kata lain, pilihan lengkap sudah tersedia. Penonton tinggal menentukan mau pulang dengan jantung deg-degan atau perut sakit karena kebanyakan ketawa.

Horor Tetap Jadi Raja Layar

Pertama-tama, kita bicara soal penguasa lama horor.

Ini Belum Selesai

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Sutradara James Gunn Memuji Joe Taslim: Ada Apa dengan The Furious?

Awal Desember dibuka oleh Riba (4 Desember). Film horor religi ini mengaitkan teror gaib dengan keputusan ekonomi. Ceritanya sederhana, tapi menohok. Utang bukan cuma bikin stres, tapi juga bisa mengundang sesuatu yang tak kasat mata. Di sini, horor hadir bukan sekadar jumpscare, melainkan juga peringatan moral.

Selanjutnya, Qorin 2 (18 Desember) menaikkan intensitas. Trauma lama belum selesai, teror justru semakin dalam. Film ini mengandalkan konflik batin dan ketegangan psikologis, bukan hanya kejutan sesaat.

Menjelang Natal, Janur Ireng (24 Desember) masuk dengan horor Jawa yang pelan tapi menekan. Ritual, simbol, dan kesunyian bekerja sebagai senjata utama. Tak lama setelah itu, Dusun Mayit (31 Desember) menutup tahun dengan formula klasik pendaki, desa misterius, aturan gaib, dan rahasia yang seharusnya tidak diganggu.

Memasuki Januari, horor tak kehilangan napas. Malam 3 Yasinan (8 Januari) mengolah tradisi duka menjadi sumber teror. Alas Roban (15 Januari) memanfaatkan mitos jalan legendaris yang sudah lama hidup di cerita rakyat. Sementara itu, Rasuk (22 Januari), dibintangi Maudy Ayunda, memilih jalur horor psikologis dengan tekanan batin sebagai pemicu kerasukan. Akhirnya, Kuyank (29 Januari) menutup bulan dengan urban legend yang terasa dekat karena berangkat dari kejadian sehari-hari.

Komedi dan Drama Datang sebagai Penawar

Meski horor mendominasi, genre ringan tetap mendapat ruang.

Mertua Ngeri Kali (11 Desember) mengangkat konflik klasik menantu dan mertua. Komedinya sederhana, tapi relevan. Film ini cocok ditonton bersama keluarga atau setidaknya jadi bahan obrolan setelahnya.

Di tanggal yang sama, Mengejar Restu hadir dengan drama romantis yang hangat. Film ini menegaskan satu realitas di Indonesia, cinta jarang berdiri sendiri. Restu orang tua, nilai keluarga, dan prinsip hidup sering ikut menentukan arah hubungan.

Sementara itu, Agak Laen 2 (25 Desember) tampil sebagai kartu AS. Setelah film pertamanya menembus lebih dari 7 juta penonton, sekuelnya kembali membawa komedi absurd yang lebih liar. Film ini pas untuk kamu yang ingin tertawa tanpa perlu berpikir keras, terutama setelah kenyang makan besar Natal.

Kenapa Horor Justru Laris Saat Liburan?

Menariknya, mayoritas film Nataru tahun ini justru horor. Ironis? Bisa jadi. Namun, mungkin juga jujur. Di tengah libur yang identik dengan kebahagiaan, film-film ini memotret kegelisahan kolektif soal dosa, trauma, tradisi, dan tekanan hidup.

Lewat layar lebar, penonton diajak takut, tertawa, dan merenung sekaligus. Bioskop pun berubah menjadi ruang aman untuk menghadapi ketakutan tentu saja dalam versi fiksi.

Sekarang, pertanyaannya tinggal satu kamu tim horor, komedi, atau drama? Atau justru menonton semuanya biar liburan terasa benar-benar “worth it”? Kalau masih bingung, tenang saja diskusinya bisa lanjut di antrean popcorn. @dimas

Tags: Bioskop IndonesiaFilm IndonesiaHoror IndonesiaNataru 2025

Kamu Melewatkan Ini

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

by Tabooo
Juni 25, 2026

Film pendek sering disalahpahami sebagai karya kecil yang cukup hanya menang di visual. Padahal, yang membuat film pendek kuat bukan...

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

by dimas
Juni 5, 2026

Saputra Kori membuktikan dirinya bukan sekadar kreator TikTok. Dari video parodi hingga memerankan Tria dalam film Jangan Buang Ibu, ia...

“Jangan Buang Ibu”: Saat Rindu Tak Lagi Punya Waktu

“Jangan Buang Ibu”: Saat Rindu Tak Lagi Punya Waktu

by dimas
Juni 3, 2026

Jangan Buang Ibu mengangkat luka keluarga, trauma kehilangan, dan kerinduan yang terlambat disadari saat waktu bersama orang tua semakin menipis....

Next Post
Cek Fakta: Benarkah Puan Ajak Warga Patungan Beli Hutan?

Cek Fakta: Benarkah Puan Ajak Warga Patungan Beli Hutan?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id