Tabooo.id: Edge – Bayangkan kamu sudah rebahan, lampu kamar mati, playlist mellow mengalun pelan. Tiba-tiba dari luar terdengar suara “tak, tak, tak” disusul teriakan, “Nice shot, brooo” Jam menunjukkan pukul 22.47 WIB.
Selamat. Kamu tinggal di sebelah lapangan padel.
Fenomena ini bukan adegan sitkom. Di sejumlah wilayah Jakarta, lapangan padel tumbuh cepat di tengah permukiman. Olahraga yang lagi hype ini menjelma jadi simbol gaya hidup urban: sehat, estetik, dan tentu saja kontenable. Feed Instagram aman, tapi jam tidur warga sekitar mulai terancam.
Dukung Olahraga, Tapi Jangan Tabrak Tata Ruang
Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, ikut angkat suara. Ia menegaskan bahwa dirinya mendukung pengembangan olahraga, termasuk padel. Namun ia mengingatkan, pembangunan lapangan di tengah lingkungan perumahan harus mematuhi tata ruang, mengantongi izin yang jelas, dan tetap menjaga kenyamanan warga.
Menurutnya, olahraga memang penting. Tapi ketertiban umum dan fungsi ruang kota juga bukan sekadar formalitas di atas kertas. Kota tidak bisa diatur pakai semangat FYP semata.
Keluhan Warga: Dari Kebisingan Sampai Tengah Malam
Kenneth mengaku menerima banyak keluhan warga lewat media sosialnya. Warga memprotes kebisingan suara pantulan bola, teriakan pemain, hingga aktivitas pengunjung yang berlangsung melewati pukul 20.00 WIB.
Buat pemain, itu sesi fun game. Buat warga, itu white noise versi horor.
Ketika aktivitas berlangsung sampai malam, kualitas hidup warga ikut terdampak. Anak kecil sulit tidur, orang tua terganggu istirahatnya, pekerja yang harus bangun pagi terpaksa berdamai dengan insomnia gratis.
Parkir Liar, Jalan Komplek Jadi Area Komersial
Masalah tidak berhenti di suara. Banyak lapangan berdiri tanpa dukungan lahan parkir yang memadai. Mobil pengunjung akhirnya parkir di badan jalan lingkungan. Jalan komplek yang seharusnya jadi ruang aman warga berubah menjadi lahan parkir dadakan.
Situasi ini memicu gangguan lalu lintas dan berpotensi memantik konflik sosial. Ketika akses warga terganggu, gesekan tinggal menunggu waktu. Kota yang padat memang biasa berisik, tapi bukan berarti semua ruang bisa dipaksa jadi mesin uang.
Regulasi: Bukan Sekadar Formalitas
Kenneth meminta Pemprov DKI Jakarta memperketat pengawasan dan tidak sembarangan memberikan izin. Ia mendorong setiap pembangunan lapangan padel memenuhi dokumen UKL/UPL, analisis dampak lalu lintas, rekomendasi teknis dinas terkait, standar peredam suara, pembatasan jam operasional, hingga penyediaan lahan parkir sesuai kapasitas.
Selain itu, pengelola tetap wajib memenuhi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), lengkap dengan dokumen kepemilikan tanah dan rencana teknis bangunan. Artinya, membangun lapangan padel tidak cukup dengan lahan kosong dan semangat cuan.
Kota Modern, Logika Jangan Ikut Offline
Di tengah euforia olahraga baru, kota diuji apakah ia bisa menyeimbangkan ekonomi, gaya hidup, dan hak dasar warganya untuk tenang?
Jakarta tentu boleh sehat, aktif, dan modern. Tapi kalau semua ruang berubah jadi tempat bisnis, lalu ruang istirahat warga ada di mana?
Mungkin kita memang butuh olahraga baru sprint mengurus izin dan maraton mendengar aspirasi warga. Siapa tahu, itu lebih bikin kota waras. @dimas




