Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

KPK Tetapkan 5 Tersangka dalam Kasus Suap Proyek Rejang Lebong

by dimas
Maret 11, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menangkap kepala daerah dalam operasi tangkap tangan. Kali ini, penyidik menetapkan Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap ijon proyek di Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

KPK juga menjerat empat orang lain dalam perkara yang sama. Mereka ialah Kepala Dinas PUPRPKP Rejang Lebong Hary Eko Purnomo serta tiga pihak swasta, yakni Irsyad Satria Budiman dari PT Statika Mitra Sarana, Edi Manggala dari CV Manggala Utama, dan Youki Yusdiantoro dari CV Alpagker Abadi.

Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu menyampaikan keputusan itu setelah penyidik mengumpulkan bukti yang cukup.

“KPK meningkatkan perkara ini ke tahap penyidikan dan menetapkan lima orang sebagai tersangka setelah penyidik menemukan bukti yang memadai,” ujar Asep dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Laporan Warga Bongkar Dugaan Pengaturan Proyek

Kasus ini bermula dari laporan masyarakat yang mencurigai praktik pengaturan proyek di Pemkab Rejang Lebong. KPK menindaklanjuti laporan itu dengan penyelidikan.

Ini Belum Selesai

Spektra Carnival 2026: Saat Madiun Menyalakan Identitasnya

Kirab Perdana Perkuat Identitas Madiun sebagai Kota Pendekar

Penyidik kemudian menemukan indikasi pembahasan proyek sejak awal 2026. Saat itu, Dinas PUPRPKP Rejang Lebong mengelola sejumlah proyek fisik dengan total anggaran sekitar Rp91,13 miliar.

Pada Februari 2026, Bupati Fikri mengundang Kepala Dinas PUPRPKP Hary Eko Purnomo dan seorang pihak swasta bernama B Daditama ke rumah dinas bupati. Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas pembagian proyek tahun anggaran 2026.

Menurut Asep, para pihak juga membicarakan besaran fee proyek atau ijon. Nilainya berkisar 10 hingga 15 persen dari nilai proyek.

Bupati Catat Kode Rekanan Proyek

Setelah pertemuan itu, Fikri mulai mengatur pembagian paket pekerjaan kepada kontraktor tertentu. Ia menuliskan kode huruf pada lembar rekap pekerjaan fisik.

Kode tersebut merujuk pada perusahaan yang akan mengerjakan proyek. Setelah itu, Fikri mengirimkan daftar tersebut melalui pesan WhatsApp kepada pihak swasta.

Penyidik menduga pesan itu berisi permintaan agar kontraktor menyiapkan uang ijon. Permintaan tersebut muncul karena adanya kebutuhan dana menjelang Hari Raya Lebaran.

KPK juga menemukan kesepakatan antara Bupati, kepala dinas, dan para kontraktor. Dalam istilah hukum, kondisi ini menunjukkan adanya meeting of mind atau kesamaan niat untuk menjalankan praktik suap.

Tiga kontraktor yang ikut dalam kesepakatan itu adalah Irsyad Satria Budiman, Edi Manggala, dan Youki Yusdiantoro.

Kontraktor Menyerahkan Uang Bertahap

Setelah pembagian proyek, para kontraktor mulai menyerahkan uang ijon sebagai komitmen. KPK mencatat total uang yang mengalir mencapai sekitar Rp980 juta.

Edi Manggala menyerahkan Rp330 juta pada 26 Februari 2026 melalui Kepala Dinas PUPRPKP. Uang itu berkaitan dengan proyek pedestrian, drainase, dan pembangunan sports center senilai Rp9,8 miliar.

Pada 6 Maret 2026, Irsyad Satria Budiman memberikan Rp400 juta melalui seorang ASN di dinas tersebut. Dana itu berkaitan dengan proyek jalan senilai Rp3 miliar.

Di hari yang sama, Youki Yusdiantoro juga memberikan Rp250 juta melalui ASN lain. Uang itu terkait proyek penataan kawasan stadion sepak bola dengan nilai sekitar Rp11 miliar.

OTT Terjadi Saat Buka Puasa

Tim KPK akhirnya bergerak setelah memantau aliran uang tersebut. Penyidik menemukan proses penyerahan uang ijon yang dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam tas hitam.

Kepala Dinas PUPRPKP Hary Eko Purnomo membawa tas itu untuk diberikan kepada Bupati Fikri. Saat itu, beberapa pihak sedang berbuka puasa bersama di sebuah restoran di kawasan Pantai Panjang, Bengkulu.

Tim KPK langsung mengamankan Hary Eko dan seorang ASN bernama Santri Ghozali di lokasi tersebut.

Pada waktu yang sama, tim lain bergerak di beberapa daerah. Mereka mengamankan sejumlah pihak di Bengkulu, Kepahiang, dan Rejang Lebong.

Para Tersangka Langsung Masuk Tahanan

Setelah pemeriksaan awal, KPK langsung menahan para tersangka. Penyidik menempatkan mereka di Rutan Cabang Gedung Merah Putih KPK selama 20 hari pertama, sejak 11 hingga 30 Maret 2026.

Penyidik menjerat Bupati Fikri dan Kepala Dinas PUPRPKP Hary Eko sebagai penerima suap. KPK juga menjerat tiga kontraktor sebagai pemberi suap.

Kasus ini kembali mengingatkan publik pada pola lama korupsi proyek daerah. Anggaran pembangunan yang seharusnya memperbaiki jalan, drainase, dan fasilitas kota justru berubah menjadi transaksi gelap di balik meja kekuasaan. Pada akhirnya, masyarakat tetap menjadi pihak yang paling dirugikan. @dimas

Tags: anggaranbupatiDaerahInfrastrukturKasusKorupsi di IndonesiaKPKOTT KPKpemerintahproyeksuaptransparansi

Kamu Melewatkan Ini

Lima Juta Kendaraan Menunggak: Krisis Kepatuhan atau Daya Beli yang Melemah?

Lima Juta Kendaraan Menunggak: Krisis Kepatuhan atau Daya Beli yang Melemah?

by teguh
Juni 11, 2026

Lima juta kendaraan di Jawa Tengah tidak membayar pajak hingga akhir 2025. Angka itu bukan sekadar catatan administrasi. Nilainya mencapai...

Lima Juta Kendaraan Menunggak, APBD Jawa Tengah Kehilangan Nafas

Lima Juta Kendaraan Menunggak, APBD Jawa Tengah Kehilangan Nafas

by teguh
Juni 11, 2026

Lebih dari lima juta kendaraan di Jawa Tengah tercatat masih menunggak pajak hingga akhir 2025. Nilainya tidak kecil. Pemerintah Provinsi...

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

by dimas
Juni 6, 2026

KPK menyita mobil sport, Harley, perhiasan, dan valas dari rumah Silmy Karim. Penyidik menelusuri dugaan korupsi izin tinggal WNA senilai...

Next Post
Diduga Terkendala BPJS, Mahasiswi Uncen Meninggal di Pintu RSUD Yowari

Diduga Terkendala BPJS, Mahasiswi Uncen Meninggal di Pintu RSUD Yowari

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id