Tabooo.id: Nasional – Setiap kali KPK mengetuk pintu tokoh besar, suasana politik Indonesia langsung berubah seperti opening film thriller. Ketegangannya naik perlahan, publik menebak-nebak alur berikutnya, dan media bersiap mengarahkan kamera. Pekan ini spotlight jatuh pada satu nama besar Ridwan Kamil.
Pemanggilan Resmi dan Surat yang Sudah Meluncur
KPK memanggil mantan Gubernur Jawa Barat itu untuk menjalani pemeriksaan dalam kasus dugaan korupsi pengadaan iklan Bank BJB. Plt Deputi Penindakan KPK Asep Guntur menyatakan bahwa lembaganya sudah mengirim surat panggilan sejak pekan lalu. Kini mereka menunggu apakah Ridwan Kamil akan datang ke Gedung Merah Putih.
Pemanggilan ini menjadi lanjutan dari tindakan KPK sejak Maret 2025 ketika penyidik menggeledah rumah Ridwan Kamil di Bandung dan membawa pulang barang bukti elektronik serta sebuah motor Royal Enfield hitam edisi terbatas. Detail kecil yang membuat kasus ini terasa seperti adegan film penuh simbol.
Kerugian Negara Besar dan Daftar Nama yang Panjang
KPK menghitung kerugian negara mencapai dua ratus dua puluh dua miliar rupiah. Angka itu terlalu tinggi untuk urusan iklan. Lebih mirip anggaran film blockbuster dibanding kampanye pemasaran bank daerah.
Lembaga antirasuah itu juga menetapkan lima tersangka. Daftarnya padat dan kompleks. Ada Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi. Ada pejabat pembuat komitmen sekaligus kepala divisi corsec Widi Hartoto. Lalu deretan pengendali perusahaan agensi seperti Antedja Muliatama Cakrawala Kreasi Mandiri BSC Advertising Wahana Semesta Bandung Ekspress dan Cipta Karya Sukses Bersama. Jaringannya terlihat rapi dan menunjukkan bahwa dugaan korupsi ini tidak dilakukan satu dua orang saja.
Siapa Untung, Siapa Rugi
Mereka yang masuk lingkar proyek jelas menikmati keuntungan. Dana besar, ruang negosiasi yang luas, dan posisi strategis adalah kombinasi yang selalu menggoda. Sementara itu publik menanggung kerugian. Kepercayaan masyarakat terhadap bank daerah kembali menurun. Padahal lembaga keuangan daerah seharusnya menjadi simbol transparansi.
Ridwan Kamil pun masuk dalam fase sulit. Statusnya memang masih saksi. Namun setiap pemanggilan dari KPK selalu membawa risiko politik. Citra modern dan bersih yang melekat padanya mendapat ujian di depan publik. Di sisi lain Bank BJB harus menghadapi pukulan reputasi yang berat di tengah persaingan industri perbankan yang sangat bergantung pada rasa percaya.
KPK Mencari Momentum
Bagi KPK, kasus ini memberikan panggung yang sudah lama mereka butuhkan. Setelah banyak pihak mempertanyakan ketegasan lembaga tersebut, pemanggilan tokoh besar seperti Ridwan Kamil menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka masih bisa bergerak. Pertanyaannya hanya satu apakah langkah ini akan masuk ke akar masalah atau berhenti di permukaan.
Iklan yang Berubah Menjadi Skandal
Kasus ini juga menyimpan ironi yang sulit diabaikan. Proyek pengadaan iklan biasanya bertujuan memperindah citra. Namun dalam kasus Bank BJB, iklan justru membuka dugaan korupsi besar. Seakan-akan publik kembali dihadapkan pada pola lama: skandal muncul, opini menggelegar, dan semuanya menunggu apakah kisah ini berakhir atau berubah menjadi episode panjang baru.
Bab yang Masih Menggantung
Kini satu pertanyaan terus berputar di ruang publik
Ridwan Kamil datang atau tidak?
Jawabannya akan menentukan arah drama ini. Apakah KPK benar-benar membuka semuanya atau publik hanya akan menonton babak baru dari cerita korupsi yang tidak pernah benar-benar selesai. @dimas





