Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kota Tanpa Arena Memanah: Ironi di Balik Prestasi Atlet Panahan Solo

by teguh
Agustus 7, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Sore mulai turun di sebuah lahan kosong di Kota Solo. Puluhan anak calon atlet panahan Solo berdiri berjajar sambil menggenggam busur. Mereka menarik tali perlahan, mengatur napas, lalu melepaskan anak panah ke arah target yang berdiri puluhan meter di depan.

Tabooo.id – Tidak ada tribun, Tidak ada arena panahan permanen. Meski begitu, tempat sederhana itu justru melahirkan atlet-atlet yang mampu bersaing di tingkat provinsi hingga nasional.Ironisnya, semua perjuangan tersebut berlangsung di Kota Solo kota yang selama puluhan tahun dikenal melalui nama Manahan, kawasan yang lahir dari sejarah memanah pada masa Keraton Surakarta. Inilah realita di Balik Prestasi Atlet Panahan Solo yang kotanya tidak memiliki Infrastruktur untuk olah raga memanah sampai sekarang.

Prestasi Atlet Melaju, Infrastruktur Masih Tertinggal

Sewelas Archery memang baru berdiri sekitar satu setengah tahun. Walau usianya masih muda, klub ini sudah menunjukkan perkembangan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Saat ini sekitar 30 atlet aktif mengikuti pembinaan secara rutin. Mereka berasal dari Solo, Karanganyar, Sukoharjo, hingga Boyolali. Klub menjaring calon atlet melalui kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah.

Selanjutnya, pelatih menyusun program latihan berdasarkan usia, kemampuan, dan perkembangan teknik setiap peserta. Kerja panjang tersebut mulai membuahkan hasil.

Hampir seluruh atlet pernah membawa pulang medali dari berbagai kejuaraan terbuka. Pada ajang POPDA, sekitar 90 persen atlet berhasil naik podium. Kejuaraan Provinsi kemudian kembali menghasilkan medali bagi sekitar 40 persen atlet.

Ini Belum Selesai

OTT KPK Rektor Unsoed, Dugaan Suap Buka Celah Korupsi Kampus

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

Puncak prestasi datang pada akhir tahun 2025 ketika salah satu atlet Sewelas Archery meraih medali emas Kejurprov Junior sekaligus medali perunggu pada Kejuaraan Nasional Antarklub di Kudus.

Deretan pencapaian itu membuktikan bahwa kualitas pembinaan terus berkembang meski fasilitas belum berkembang secepat prestasi para atlet.

Lapangan Pinjaman Menjadi Tempat Menempa Mimpi

Sayangnya, prestasi tersebut tidak lahir dari fasilitas yang ideal.

Sewelas Archery memanfaatkan lahan rencana pembangunan jalan sebagai lokasi latihan setelah memperoleh izin dari RT dan RW setempat.

Area itu hanya menyediakan lintasan hingga sekitar 50 meter. Sementara itu, sejumlah nomor pertandingan nasional membutuhkan lintasan latihan sepanjang 60 hingga 70 meter.

Kondisi tersebut menghambat atlet menjalani latihan sesuai standar kompetisi.

Pelatih sekaligus pengurus PERPANI Sewelas Archery, Bapak Fitra, menyebut keterbatasan fasilitas sebagai hambatan terbesar dalam proses pembinaan atlet.

“Yang menjadi tantangan terbesar kami adalah belum adanya lapangan panahan yang representatif di Kota Solo. Tempat latihan sekarang hanya bisa digunakan sampai jarak sekitar 50 meter. Padahal divisi tertentu membutuhkan latihan 60 sampai 70 meter agar sesuai standar pertandingan.”

Ucapan tersebut menggambarkan persoalan yang sesungguhnya kenyatannya Solo tidak kekurangan atlet berbakat.

Sebaliknya, kota ini masih kekurangan fasilitas unruk Atlet Panahan Solo yang mampu mengembangkan potensi mereka secara maksimal.

Menjadi Atlet Panahan Berarti Siap Mengeluarkan Biaya Besar

Panahan bukan olahraga murah karena Sejak pertama bergabung, setiap atlet harus memiliki perlengkapan pribadi.

Harga busur standar nasional untuk atlet pemula berkisar Rp6 juta hingga Rp8 juta.

Atlet kategori compound membutuhkan biaya sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta pada tahap awal. Nilai itu dapat meningkat hingga Rp50 juta sampai Rp60 juta ketika memasuki level profesional.

Kategori recurve juga memerlukan investasi yang tidak sedikit. Atlet pemula harus menyiapkan dana sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta sebelum menggunakan perlengkapan profesional dengan nilai puluhan juta rupiah.

Di luar biaya perlengkapan, keluarga juga harus menyiapkan anggaran untuk transportasi, pendaftaran kejuaraan, perawatan alat, hingga kebutuhan latihan rutin.

Hingga hari ini, keluarga masing-masing atlet masih menanggung sebagian besar beban tersebut.

Komunitas Mengisi Kekosongan yang Belum Terjawab

Perjuangan Sewelas Archery tidak berhenti pada proses latihan. Setiap dua minggu sekali, pengurus bersama anggota memotong rumput liar dan membersihkan area latihan agar tetap aman digunakan.

Pembinaan atlet berlangsung secara rutin melalui program latihan yang terstruktur. Di sisi lain, pengurus menjaga kebersihan serta kelayakan lapangan secara mandiri.

Selain itu, klub terus menjaring bibit-bibit baru melalui kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah. Seluruh aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa komunitas tidak sekadar membina atlet.

Mereka juga menjalankan sebagian peran yang semestinya hadir melalui pembangunan olahraga daerah.

Manahan Tinggal Menjadi Simbol?

Nama Manahan telah melekat kuat sebagai identitas Kota Solo. Sejarah mencatat kawasan tersebut sebagai tempat latihan memanah pada masa Keraton Surakarta.

Kini masyarakat mengenalnya melalui Stadion Manahan yang menjadi salah satu ikon olahraga nasional.

Namun sebuah pertanyaan sederhana layak diajukan. Mengapa cabang olahraga yang melahirkan nama Manahan justru belum memiliki arena panahan yang benar-benar representatif?

Fitra berharap Pemerintah Kota Surakarta memberi perhatian lebih besar terhadap kebutuhan tersebut.

“Harapan kami pemerintah bisa menyediakan lapangan panahan yang layak. Solo punya sejarah Manahan, tapi sampai sekarang belum memiliki lapangan panahan resmi yang benar-benar representatif.”

Sekilas permintaan itu tampak sederhana Padahal keputusan pemerintah akan menentukan apakah pembinaan atlet terus bergantung pada perjuangan komunitas atau mulai memperoleh dukungan melalui kebijakan yang berpihak pada olahraga.

Prestasi Selalu Dimulai dari Infrastruktur

Pembangunan olahraga tidak pernah hanya bergantung pada bakat.

Pakar ilmu keolahragaan Indonesia, Prof. Dr. Djoko Pekik Irianto, dalam berbagai kajian menjelaskan bahwa pembinaan atlet membutuhkan pelatih yang kompeten, pembinaan usia dini yang berkelanjutan, dan sarana olahraga yang memadai.

Jika salah satu unsur tersebut hilang, prestasi akan lebih banyak bergantung pada pengorbanan individu daripada kekuatan sistem.

Pandangan serupa juga pernah disampaikan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Ia menilai kualitas sebuah kota tercermin dari ruang yang diberikan kepada generasi muda untuk berkembang, bukan hanya dari megahnya bangunan fisik.

Semasa hidupnya, Prof. Dr. Sarlito W. Sarwono juga berulang kali mengingatkan bahwa lingkungan yang mendukung akan memperbesar peluang seseorang mengembangkan kemampuan dan karakter.

Pemerintah kemudian menuangkan komitmen tersebut ke dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Kebijakan itu menempatkan pembangunan sarana olahraga sebagai fondasi menuju prestasi nasional hingga internasional.

Fakta itu menunjukkan bahwa lapangan latihan bukan sekadar fasilitas pelengkap.

Sebidang arena latihan menjadi investasi pertama yang melahirkan atlet-atlet berprestasi.

Prestasi Tidak Seharusnya Berdiri di Atas Pengorbanan

Pertanyaannya bukan lagi apakah atlet Solo mampu berprestasi, Jawabannya sudah ada dan Mereka mampu.

Kini pertanyaannya berubah, Mengapa mereka harus menjadi juara lebih dahulu sebelum kebutuhan dasarnya benar-benar mendapat perhatian?

Publik memang senang merayakan medali. Namun perjalanan panjang menuju podium jarang memperoleh sorotan.

Selama bertahun-tahun, pelatih tetap mendampingi atlet meski fasilitas jauh dari ideal. Orang tua rela mengalokasikan tabungan demi membeli perlengkapan latihan.

Sementara itu, komunitas bergotong royong menjaga lapangan agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk berkembang.

Paradoks tersebut berlangsung di kota yang identitasnya justru berasal dari sejarah memanah. Kisah Sewelas Archery melampaui cerita sebuah klub olahraga.

Di balik latihan sederhana, tampak jelas bagaimana komunitas mengambil alih pekerjaan yang semestinya dijalankan oleh sistem.

Fenomena itu memperlihatkan bahwa prestasi nasional masih bertumpu pada ketangguhan individu, bukan pada dukungan infrastruktur yang memadai.

Padahal olahraga tidak berkembang hanya karena bakat. Olahraga berkembang ketika pemerintah berani berinvestasi pada pembinaan yang berkelanjutan.

Dari lapangan sederhana itulah atlet belajar disiplin setiap hari. Proses latihan kemudian membentuk karakter mereka sedikit demi sedikit.

Kelak, mimpi-mimpi besar itu menemukan jalannya menuju podium nasional bahkan internasional.

Pemerintah harus menghidupkan kembali makna Manahan melalui kebijakan yang berpihak kepada atlet.

Jika pembangunan terus tertunda, masyarakat hanya akan mengenang Manahan sebagai kebanggaan sejarah, sementara generasi baru terus berlatih di ruang yang jauh dari kata layak.

Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya mengingat sebuah kota karena stadionnya. Mereka akan menghormati kota yang berani membangun masa depan atlet-atletnya. @teguh

Tags: Atlet MudaInfrastruktur Olah ragaManahanPanahan IndonesiaPembinaan AtletPERPANIrespati ardiSewelas ArcheryWalikota Solo

Kamu Melewatkan Ini

Pimpin Pawai, Respati Berubah Jadi Demang

Pimpin Pawai, Respati Berubah Jadi Demang

by eko
Agustus 21, 2026

Respati Ardi tampil sebagai demang dengan beskap dan pit ontel dalam Pawai Pembangunan 2026. Ia mengusung konsep Solo Tempo Dulu...

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

by eko
Agustus 21, 2026

45 peserta meriahkan Pawai Pembangunan Solo 2026 dari Perempatan Gendengan menuju depan Bank Indonesia Solo dengan tema Sayangi Semesta, Hidup...

HUT RI ke-81 di Solo: Respati Tekankan Pelayanan dan Persatuan

HUT RI ke-81 di Solo: Respati Tekankan Pelayanan dan Persatuan

by eko
Agustus 17, 2026

Upacara HUT RI ke-81 di Solo menjadi momentum Respati Ardi mengajak warga memperbaiki pelayanan publik dan menjaga persatuan. Tabooo.id: Surakarta...

Next Post
Cara Kreatif Barongsai Cari Job Jelang 17 Agustus

Cara Kreatif Barongsai Cari Job Jelang 17 Agustus

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id