Di kota yang identik dengan panahan lewat Stadion Manahan, para atlet justru masih berlatih di lahan seadanya. Di tengah lahirnya atlet-atlet muda berprestasi hingga level nasional, Kota Solo terus mencetak juara, tetapi belum menyediakan lapangan panahan representatif untuk menopang pembinaan secara optimal.
Tabooo.id: Sewelas Archery kini menyuarakan ironi tersebut. Dalam waktu sekitar satu setengah tahun, klub pembinaan atlet muda itu berhasil mencetak sederet prestasi nasional, tetapi Kota Solo belum juga memiliki lapangan panahan resmi yang layak.
Klub Muda, Prestasi Sudah Bicara
Sewelas Archery berdiri sekitar 1,5 tahun lalu di Kota Solo. Meski tergolong baru, klub ini sudah menaungi sekitar 30 atlet aktif dari Kota Solo, Karanganyar, Sukoharjo, dan Boyolali.
Klub ini memulai pembinaan sejak anak-anak duduk di bangku sekolah dasar melalui kegiatan ekstrakurikuler. Para pelatih menyusun program latihan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan atlet.
Pelatih sekaligus pengurus PERPANI, Bapak Fitra, mengatakan tujuan utama klub bukan sekadar mengajarkan teknik memanah, tetapi membangun regenerasi atlet sejak usia dini.
“Visi kami menjaring dan membina atlet sejak usia SD hingga mahasiswa agar menjadi aset masa depan panahan Indonesia.”
Menurut Fitra, kualitas latihan, fokus atlet, dan dukungan orang tua menentukan keberhasilan pembinaan.
“Kalau anak fokus dan orang tua mendukung, pembinaan akan jauh lebih maksimal.”

Prestasi Datang, Fasilitas Belum Mengikuti
Dalam waktu singkat, Sewelas Archery mencatat sederet prestasi.
Data internal klub menunjukkan:
- Hampir seluruh atlet meraih medali dalam berbagai open tournament.
- Sekitar 90 persen atlet membawa pulang medali POPDA.
- Sekitar 40 persen atlet meraih medali Kejurprov.
- Klub ini juga melahirkan peraih medali emas Kejurprov Junior dan medali perunggu Kejuaraan Nasional Antarklub di Kudus pada akhir 2025.
Namun, pemerintah belum mengimbangi pencapaian tersebut dengan fasilitas latihan yang memadai.
Saat ini klub memanfaatkan lahan kosong yang masuk rencana pembangunan jalan dengan izin RT/RW sebagai lokasi latihan. Kondisi itu membatasi latihan atlet hingga jarak maksimal 50 meter.
Padahal nomor resmi tingkat nasional maupun internasional menggunakan lintasan sejauh 60 hingga 70 meter.
“Kami belum punya lapangan sendiri. Untuk divisi yang membutuhkan jarak 60 sampai 70 meter, tentu belum bisa berlatih maksimal.”
Peralatan Mahal, Semangat Tetap Menyala
Selain menghadapi keterbatasan lapangan, atlet panahan juga harus menyiapkan biaya peralatan yang tidak sedikit.
Fitra menjelaskan para atlet pemula harus memiliki perlengkapan panahan sendiri.
Rinciannya meliputi:
- Peralatan standar nasional: Rp6–8 juta
- Compound pemula: Rp15–20 juta
- Compound profesional: hingga Rp60 juta
- Recurve pemula: Rp10–15 juta
- Recurve profesional: hingga Rp60 juta
Meski begitu, minat anak-anak di Solo Raya terhadap olahraga panahan terus meningkat.
Aspirasi untuk Pemerintah Kota Solo
Fitra berharap Pemerintah Kota Solo memberikan perhatian lebih terhadap olahraga panahan, terutama dengan menyediakan lapangan latihan permanen.
Menurutnya, kondisi itu terasa ironis jika melihat sejarah Kota Solo.
“Solo punya nama Manahan yang identik dengan tempat latihan memanah. Tapi sampai sekarang justru belum memiliki lapangan panahan yang benar-benar representatif.”
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, anggota Sewelas Archery membersihkan area latihan dan memotong rumput liar setiap dua minggu sekali sebagai kompensasi penggunaan lahan.
Pengamat: Infrastruktur Menentukan Lahirnya Atlet Elite
Pengamat olahraga dari Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Djoko Pekik Irianto, menegaskan bahwa bakat dan pelatih saja tidak cukup untuk melahirkan atlet elite. Sistem pembinaan yang berkelanjutan dan infrastruktur olahraga juga memegang peran penting.
“Prestasi olahraga tidak lahir secara instan. Pembinaan jangka panjang membutuhkan fasilitas, pelatih, organisasi, dan dukungan masyarakat.”
Pandangan itu sejalan dengan arah pembangunan olahraga nasional yang menempatkan sarana latihan sebagai fondasi pembinaan atlet berjenjang.
Akademisi Pendidikan: Pembinaan Sejak SD Adalah Investasi
Guru Besar bidang pendidikan olahraga Prof. Dr. Komarudin menilai pembinaan olahraga sejak usia dini bukan sekadar mengejar medali. Pembinaan juga membentuk karakter, disiplin, konsentrasi, dan kemampuan mengambil keputusan.
Menurutnya, sekolah dan komunitas olahraga berperan penting dalam menemukan bibit atlet sebelum mereka memasuki pembinaan prestasi.
Pemerintah Dorong Pembinaan Talenta Olahraga
Kementerian Pemuda dan Olahraga terus mendorong sinergi pemerintah daerah dengan organisasi olahraga melalui berbagai program pembinaan atlet usia muda.
Kementerian juga menempatkan penyediaan fasilitas latihan sebagai salah satu indikator penting keberhasilan pembangunan olahraga nasional.
Prestasi Tak Cukup Jika Fasilitas Tertinggal
Prestasi Sewelas Archery membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas tidak mampu menghentikan semangat atlet untuk berprestasi.
Namun pertanyaan besarnya tetap sama: mengapa para atlet harus terus menyesuaikan diri dengan keterbatasan ketika prestasi mereka terus meningkat?
Solo memiliki sejarah panjang melalui nama Manahan. Namun hingga hari ini, para atlet panahan masih berlatih di lahan pinjaman yang belum memenuhi standar kompetisi.
Jika pembinaan usia dini terus melahirkan atlet nasional, pemerintah sudah saatnya menjadikan pembangunan infrastruktur olahraga sebagai investasi, bukan sekadar proyek pelengkap.
Prestasi tidak hanya lahir dari semangat atlet. Prestasi juga tumbuh ketika pemerintah menghadirkan ruang latihan yang layak bagi generasi berikutnya. @teguh








