Korupsi menggerus uang negara, sementara krisis integritas mengikis kepercayaan rakyat. Mengapa keteladanan menjadi aset paling langka?
Tabooo.id – Tidak ada anak yang tumbuh dengan mimpi tinggal di negara yang penuh rasa curiga.
Di ruang kelas, guru mengenalkan Indonesia sebagai negeri yang kaya, subur, dan memiliki masa depan cerah. Lagu kebangsaan membangkitkan kebanggaan. Buku pelajaran menanamkan optimisme. Hampir semua generasi pernah percaya bahwa negeri ini akan tumbuh menjadi bangsa besar.
Waktu ternyata mengajarkan pelajaran yang berbeda.
Ketika dewasa, masyarakat tidak lagi mengenal Indonesia melalui buku pelajaran. Mereka mengenalnya lewat berita yang setiap hari muncul di layar telepon genggam. Di sanalah optimisme sering bertabrakan dengan kenyataan.
Berita tentang dugaan korupsi, penyalahgunaan jabatan, hingga konflik antarlembaga negara silih berganti memenuhi ruang publik. Persoalan itu bukan lagi mengejutkan. Justru karena terlalu sering muncul, sebagian orang mulai menganggapnya sebagai rutinitas.
Di titik inilah persoalan menjadi jauh lebih serius.
Krisis Terbesar Bernama Hilangnya Kepercayaan
Korupsi memang menggerus anggaran negara. Namun kerugian terbesar bukan selalu tercatat dalam laporan keuangan.
Korupsi merusak sesuatu yang jauh lebih sulit dipulihkan, yakni kepercayaan publik.
Kepercayaan membuat masyarakat bersedia menaati hukum, kepercayaan mendorong warga membayar pajak, kepercayaan juga membuat rakyat yakin bahwa negara bekerja untuk melindungi mereka.
Saat fondasi itu retak, setiap keputusan pemerintah memancing kecurigaan. Setiap proses hukum memunculkan spekulasi. Bahkan klarifikasi resmi pun sering gagal meredakan keraguan publik.
Bangsa mana pun dapat memulihkan ekonomi. Akan tetapi, tidak banyak negara yang mampu mengembalikan kepercayaan rakyat setelah kepercayaan itu hilang.
Ketika Program Rakyat Kehilangan Maknanya
Perhatian publik beberapa waktu terakhir tertuju pada dugaan penyimpangan dalam Program Makan Bergizi Gratis. Program yang lahir untuk meningkatkan kualitas generasi muda justru memunculkan pertanyaan mengenai tata kelola dan integritas penyelenggaraannya.
Tidak lama berselang, masyarakat kembali mengikuti dinamika hukum yang melibatkan lingkungan aparat penegak hukum. Proses penyidikan, klarifikasi, hingga berbagai spekulasi di media sosial memperlihatkan satu kenyataan: masyarakat terus mengawasi cara negara memperlakukan kekuasaan.
Semua proses tersebut tentu harus menghormati asas praduga tak bersalah. Pengadilanlah yang berwenang menentukan seseorang bersalah atau tidak.
Namun rakyat juga memiliki hak yang sama pentingnya.
Masyarakat berhak melihat proses hukum berlangsung secara terbuka, profesional, dan bebas dari kepentingan apa pun. Standar itu menjadi syarat utama agar kepercayaan publik tidak semakin terkikis.
Rakyat Tidak Menuntut Negara yang Sempurna
Sebagian besar warga sebenarnya tidak berharap Indonesia berubah menjadi negara tanpa masalah.
Mereka memahami bahwa setiap pemerintahan menghadapi tantangan. Mereka mengerti bahwa setiap lembaga bisa saja memiliki oknum yang menyalahgunakan wewenang.
Harapan masyarakat jauh lebih sederhana.
Rakyat ingin melihat siapa pun yang melanggar hukum menerima perlakuan yang sama. Jabatan, pangkat, maupun kedekatan politik tidak boleh mengubah arah penegakan hukum.
Keadilan selalu kehilangan maknanya ketika masyarakat melihat ukuran yang berbeda untuk perkara yang serupa.
Keteladanan Lebih Berharga daripada Pidato
Indonesia tidak kekurangan regulasi. Negara juga terus melahirkan berbagai program pembangunan.
Persoalannya, masyarakat tidak hanya menilai isi pidato para pejabat. Mereka mengamati perilaku orang-orang yang memegang kekuasaan.
Anak-anak belajar tentang integritas bukan dari slogan yang tertulis di dinding sekolah. Mereka belajar ketika melihat orang dewasa memegang amanah dengan jujur.
Mahasiswa tidak kehilangan harapan karena membaca teori tentang demokrasi. Mereka kehilangan harapan ketika praktik di lapangan bertolak belakang dengan nilai yang diajarkan.
Pegawai, buruh, petani, dan pelaku usaha kecil pun tidak meminta negara menjadi sempurna. Mereka hanya berharap hasil kerja keras dan pajak yang mereka bayarkan dikelola secara bertanggung jawab.
Keteladanan selalu berbicara lebih keras daripada pidato.
Indonesia Masih Memiliki Harapan
Meski berbagai perkara menyita perhatian publik, Indonesia belum kehilangan orang-orang baik.
Banyak polisi tetap bekerja dengan profesional, banyak jaksa menjaga integritasnya, banyak prajurit mengabdi tanpa mencari sorotan. Hakim, guru, tenaga kesehatan, aparatur sipil, relawan, hingga jutaan warga biasa terus menjalankan tanggung jawabnya dengan jujur.
Merekalah alasan optimisme masih layak dipertahankan.
Karena itulah, setiap dugaan penyimpangan harus diproses secara terbuka. Langkah tersebut bukan serangan terhadap institusi. Sebaliknya, tindakan itu menjadi cara paling bermartabat untuk menjaga kehormatan lembaga negara.
Institusi yang sehat tidak menyembunyikan kesalahan. Institusi yang kuat berani memperbaikinya.
Bangsa Besar Selalu Berdiri di Atas Keteladanan
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Negeri ini juga melahirkan banyak anak muda berbakat, ilmuwan, guru, prajurit, dokter, dan aparatur yang bekerja dengan penuh dedikasi.
Semua modal itu tidak akan cukup apabila bangsa ini kehilangan teladan.
Kemajuan tidak hanya lahir dari investasi atau pertumbuhan ekonomi. Kemajuan juga membutuhkan pemimpin yang menunjukkan bahwa integritas bukan sekadar slogan kampanye.
Pada akhirnya, sejarah tidak mengingat sebuah bangsa karena kekayaan alamnya.
Sejarah mengingat bangsa yang berhasil menjaga kepercayaan rakyatnya.
Sebab negara tidak runtuh ketika kehilangan uang. Negara mulai rapuh ketika rakyat berhenti percaya kepada orang-orang yang memimpinnya. @dimas







