Tabooo.id: Life – Hujan baru saja reda ketika Dona Lubis berdiri di tepian sungai Batang Pasaman. Air keruh mengalir deras, memukul batu-batu sungai dengan ritme yang nyaris seperti teriakan alam. Di tangannya, tas ransel berisi obat-obatan, dibungkus plastik agar tidak basah. “Saya harus sampai ke seberang,” ujarnya, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Di kejauhan, rumah pasiennya menanti seorang penderita TBC yang tergantung pada rutinitas obatnya.
Bagi banyak orang, berenang di sungai yang ganas mungkin terdengar mustahil. Bagi Dona, itu bukan pilihan. Itu kewajiban.
Menembus Terisolasi
Jarak rumahnya ke rumah pasien sekitar 26 kilometer. Dona menumpang ojek, menembus jalanan berliku di pegunungan Sumatera Barat. Tapi perjalanan itu terhenti di tepi sungai. Jembatan yang biasa menghubungkan desa roboh, menyisakan jurang pemisah antara nyawa pasien dan obat yang ia bawa.
Tanpa ragu, Dona menuruni motor, menatap arus yang memaksa adrenalin dan logika bertarung di dadanya. Ia menceburkan diri ke air dingin dan deras, menentang arus yang bisa saja menelan tubuhnya. Di seberang, warga menunggu, siap membantu menepi bersama bidan yang tidak pernah mengenal kata menyerah itu.
Sejak 1999, Dona telah mengabdi di Puskesmas Duo Koto. Puluhan tahun berinteraksi dengan warga pelosok mengajarkannya satu hal melayani sakit itu lebih dari sekadar profesi, itu panggilan hati.
Antara Profesi dan Nyawa
Menjadi bidan di daerah terpencil bukan hanya soal membantu persalinan. Dona harus menjadi dokter, kurir obat, bahkan kadang supir ambulans dadakan. Pasiennya yang menderita TBC harus mengonsumsi obat secara rutin penghentian pengobatan bisa berujung fatal. Maka, berenang menyeberangi sungai bukan tindakan heroik semata, tapi keharusan profesional yang berlapis kemanusiaan.
Dalam setiap tarikan napas melawan arus, Dona menyadari paradoks pekerjaannya ia harus mempertaruhkan nyawa sendiri untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Ia tidak hanya melawan sungai, tapi juga keterbatasan infrastruktur, jarak geografis, dan sistem yang tidak selalu mendukung tenaga kesehatan di pelosok.
Tabooo Melihat: Ketika Kemanusiaan Mengalahkan Bahaya
Fenomena seperti ini membuka mata kita pada realitas yang sering terlewat. Di kota, kita sibuk mengeluh soal antrean dan birokrasi, sementara di pelosok, seorang bidan harus berenang menyeberangi sungai untuk memastikan obat sampai ke tangan pasien. Kemanusiaan di sini bukan slogan, tapi aksi yang berani dan nyata.
Dona menunjukkan bagaimana dedikasi dapat melampaui risiko. Tapi ia juga menegaskan perlunya solusi sistemik. Jembatan penghubung yang putus bukan hanya soal kesulitan satu pasien itu soal akses vital bagi seluruh masyarakat, termasuk anak-anak sekolah. Tanpa infrastruktur yang memadai, aksi individu tetap bersifat temporer, bukan jaminan.
Refleksi: Arus yang Tidak Pernah Mati
Momen Dona di tepi sungai adalah cermin dari ketegangan antara profesi dan keselamatan diri, antara panggilan moral dan realitas fisik. Ia mengingatkan kita kadang, pelayanan sejati berarti berani menembus arus yang paling ganas, bahkan ketika dunia di sekitar kita seakan menonton tanpa campur tangan.
Kita bisa bertanya pada diri sendiri apakah kita cukup berani untuk menyeberangi “sungai” kita sendiri demi kebaikan orang lain? Atau kita tetap berdiri di tepian, menunggu jembatan dibangun oleh orang lain?
Di balik derasnya Batang Pasaman, Dona Lubis menegaskan satu hal kemanusiaan nyata tidak menunggu kondisi sempurna. Ia melompat, berenang, dan sampai bukan untuk pujian, tapi untuk nyawa yang tergantung padanya.
Dan sungai itu, seperti hidup, mengajarkan bahwa keberanian terkadang hanyalah langkah pertama yang sederhana, namun monumental. @dimas





