Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memulai Garebeg Mulud Sekaten 1960/2026 dengan tabuhan gamelan pusaka, pembagian kinang, dan telur asin.
Tabooo.id: Surakarta – Suara Kiai Guntur Madu menggema dari sisi selatan Masjid Agung Surakarta.
Tabuhan gamelan pusaka itu langsung mengundang antusiasme masyarakat. Ratusan warga berebut tempat untuk mengambil janur dan mengikuti tradisi nginang.
Momen tersebut menandai dimulainya gelaran Hajad Dalem Garebeg Mulud atau Sekaten Tahun Jimawal 1960/2026 Masehi di lingkungan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Bagi masyarakat, Sekaten bukan sekadar suara gamelan. Tradisi tahunan ini juga menghadirkan berbagai kebiasaan yang terus hidup di tengah warga.
Saat Gamelan Berbunyi, Warga Mulai Bergerak
Ketika pengrawit mulai menabuh Kiai Guntur Madu, masyarakat langsung memenuhi area sekitar gamelan.
Sebagian warga mencari janur. Sebagian lainnya mulai menjalankan tradisi nginang.
Suasana semakin ramai ketika masyarakat mengikuti rangkaian tradisi yang sudah melekat dengan Sekaten.
Di tengah kerumunan itu, masyarakat tidak hanya datang sebagai penonton. Mereka ikut menjalankan ritual dan kebiasaan yang mereka percaya memiliki makna tersendiri.
Gamelan membuka Sekaten. Masyarakat kemudian menghidupkannya dengan tradisi mereka sendiri.
Kraton Bagikan Ratusan Kinang dan Telur Asin
Pada kesempatan tersebut, jajaran Kraton Kasunanan Surakarta ikut hadir di tengah masyarakat.
Kraton Kasunanan Surakarta Pengageng Sasana Wilapa PB XIV, Purboyo, bersama GKR Panembahan Timoer Rumbay, GKR Alit, dan GKR Sekar Kirono atau Gusti Ratih membagikan ratusan bungkus kinang dan telur asin kepada masyarakat yang hadir.
Pembagian tersebut menambah suasana hangat di tengah keramaian Sekaten.
Warga menerima bingkisan tersebut setelah mengikuti momen penabuhan gamelan pusaka.
Bagi Kraton, pemberian itu membawa pesan budaya sekaligus menjadi bagian dari paringan dalem dari SISKS PB XIV.
Kinang dan Telur Asin Punya Filosofi
GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani menjelaskan makna di balik pembagian kinang dan telur asin.
Menurutnya, masyarakat mengenal kedua pemberian tersebut sebagai simbol yang berkaitan dengan usia panjang dan awet muda.
“Kinang dan telur asin dipercaya bisa menjadikan awet,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pemberian kinang dan telur asin tersebut merupakan paringan dalem dari SISKS PB XIV.
Pemberian itu menjadi salah satu cara Kraton berbagi dengan masyarakat yang datang mengikuti Sekaten.
Di tengah suara gamelan dan kerumunan warga, kinang serta telur asin hadir sebagai bagian dari tradisi yang memiliki cerita sendiri.
Nginang, Janur, dan Ingatan tentang Sekaten
Tradisi nginang kembali muncul ketika Kiai Guntur Madu mulai berbunyi.
Masyarakat mengambil janur dan menyiapkan kinang. Sebagian warga kemudian mengunyah sirih bersama bahan pelengkapnya.
Kebiasaan tersebut membuat suasana Sekaten terasa berbeda.
Ada gamelan pusaka yang terus berbunyi, ada masyarakat yang berdesakan mencari janur dan ada pula warga yang menjalankan tradisi nginang seperti yang mereka kenal dari generasi sebelumnya.
Sekaten akhirnya menjadi ruang pertemuan antara sejarah Kraton dan kebiasaan masyarakat.
Tradisi itu tidak hanya hidup melalui tata cara Kraton.
Masyarakat juga memberi napas baru setiap kali mereka datang, mengikuti, dan menjalankan kebiasaan yang sama.
Sekaten Bukan Sekadar Keramaian
Setiap tahun, Sekaten kembali membawa masyarakat ke halaman Masjid Agung Surakarta.
Suara gamelan menjadi pemicunya.
Namun, setelah suara itu terdengar, berbagai cerita ikut bergerak.
Janur berpindah tangan. Kinang dibagikan. Telur asin diterima warga. Tradisi nginang kembali berlangsung.
Semua bertemu dalam satu momen.
Ini bukan sekadar acara tahunan Kraton. Sekaten menunjukkan bagaimana tradisi bertahan ketika masyarakat masih mau datang dan menjalankannya.
Di tengah perubahan zaman, kebiasaan lama masih menemukan tempat.
Gamelan tetap berbunyi.
Masyarakat tetap berkumpul.
Dan Kraton tetap membuka ruang bagi tradisi untuk bertemu dengan kehidupan sehari-hari warga.
Sekaten pun kembali dimulai.
Bukan hanya lewat tabuhan Kiai Guntur Madu, tetapi juga lewat janur, kinang, telur asin, dan masyarakat yang terus percaya bahwa tradisi punya alasan untuk tetap hidup. @eko








